Berita Utama

Caleg Pesohor Bukan Cuma Pendulang Suara

JAKARTA – Direktur Eksekutif Indonesia Political Review, Ujang Komarudin, menilai anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang berlatar belakang sebebritas belum terlihat jelas perannya dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat di Senayan selama ini. Karena itu, partai politik semestinya mengevaluasi kinerja mereka lebih dulu sebelum ramai-ramai mengajukannya sebagai bakal calon anggota legislatif dalam Pemilu 2024.

Pengajar di Universitas Al Azhar Indonesia itu menganggap modal popularitas tidak cukup untuk mendulang suara pemilih. Sebab, pemilih sudah semakin pintar melihat rekam jejak calon legislator yang dipilihnya dalam pemilu. Jadi, calon anggota legislatif mesti terjun langsung ke tengah masyarakat dan terasa perannya bagi publik. “Jangan hanya bekerja baik untuk menunaikan janji kampanye, tapi juga mesti hadir di tengah masyarakat yang kondisinya sedang susah,” kata Ujang, Sabtu (13/5/2023).

Menurut Ujang, modal utama selebritas yang menjadi calon legislator adalah mereka mempunyai popularitas yang tinggi. Tapi popularitas itu mesti dibarengi dengan elektabilitas yang tinggi agar mampu menjadi pendulang suara bagi partai politiknya.

Ujang menduga tujuan partai politik ramai-ramai menyertakan selebritas dalam daftar bakal calon legislator adalah sebagai pendulang suara. Apalagi persaingan partai politik dalam meraih simpati pemilih semakin ketat. Belum lagi ketatnya kontestasi sesama calon legislator dalam satu partai politik pada daerah pemilihan yang sama, jika sistem pemilu menggunakan proporsional terbuka. Sistem proporsional terbuka adalah pemilih mencoblos langsung calon anggota legislatif. “Dibutuhkan popularitas dan elektabilitas kalau mau menang di legislatif,” ujar Ujang.

Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya, berpendapat fenomena kalangan selebritas berbondong-bondong menjadi calon legislator dalam setiap pemilu sudah lama terjadi. Ia menilai pertimbangan partai politik merekrut para selebritas sebagai calon legislator adalah untuk meningkatkan fungsi elektoral partai. “Tapi apakah artis yang populer bisa mendapat kursi? Faktanya, tidak banyak yang bisa mencapai itu,” kata Yunarto.

Menurut Yunarto, partai politik akan memfungsikan calon legislator dari kalangan selebritas sebagai pendulang suara sekaligus untuk menguatkan peluang kader partainya di daerah pemilihan yang sama untuk lolos ke Senayan. “Ada juga artis yang dihitung untuk tidak dijadikan (anggota DPR), tapi minimal dapat membantu memperoleh satu kursi.”

Selain itu, kata Yunarto, partai politik ramai-ramai menggaet pesohor dengan tujuan memenuhi kebutuhan branding partai bersangkutan. Selebritas yang tidak terpilih sebagi anggota legislatif biasanya tetap difungsikan untuk mengisi kegiatan partai. “Jadi, ya, tetap ada fungsinya.” (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.