Berita Utama

Cegah Rabies, Pemda Larang AKUKE Masuk Manokwari

MANOKWARI, papuabaratnews.co Saat ini Manokwari termasuk daerah bebas dari penyakit rabies. Demi mempertahankan hal tersebut, pemda Manokwari melarang masuknya hewan seperti anjing, kucing dan kera (AKUKE) masuk ke Manokwari.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nixon Karubaba kepada Papua Barat News menuturkan, terlepas dari aturan yang dibuat secara nasional, ada kebijakan-kebijakan di daerah berkaitan dengan penyebaran penyakit. Salah satunya kebijakan untuk melarang masuknya hewan anjing, kucing, kera (AKUKE) dari luar.

“Jika hewan tersebut berasal dari daerah yang masuk dalam zona merah rabies maka wajib disertai dengan surat-surat yang lengkap,” terangnya, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (7/10/2020).

Terpisah, Kepala Seksi Kesehatan Hewan, Vivi Hesti Damayanti menerangkan, kabupaten Manokwari merupakan daerah bebas rabies, sama seperti daerah se Papua secara keseluruhan. Dimana dalam aturan Pergub yang sudah dikeluarkan pemprov untuk melarang masuknya anjing kucing dan kera guna mencegah adanya penyakit rabies.

“Ada perdanya juga, tetapi saya tidak ingat nomer berapa, yang melarang masuknya anjing, kucing dan kera dari daerah tertentu. Karena mereka (anjing, kucing, kera) pembawa penyakit rabies,” ungkapnya.

Dijelaskan Vivi, penyakit rabies adalah penyakit yang berbahaya, yang bisa menular melalui hewan ke manusia dan bisa mengakibatkan kematian.

“Secara kasat mata memang tidak terlihat, tetapi kita harus waspada agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ada dua, yang terlihat dan tak terlihat, yang paling ditakutkan adalah yang tidak terlihat. Jika terlihat kita bisa mengetahui tanda gejalanya dan bisa tahu serta mewaspadai,” jelasnya yang juga berprofesi sebagai dokter hewan.

Lebih lanjut, saat ini banyak dijumpai kucing dan anjing ras di Manokwari yang didatangkan dari berbagai daerah. Hal ini tentu akan menjadi masalah baru di kemudian hari jika tidak diperhatikan secara serius, karena berpotensi ‘mendatangkan’ penyakit rabies. Dimana diketahui bahwa hewan tersebut merupakan hewan yang berasal dari daerah luar yang memiliki riwayat kasus rabies.

“Terjadi saat ini di Manokwari sudah ada anjing ras, kucing ras dan kera nanti yang masuk. Secara lalu lintas bisa ditanyakan lagi ke Karantina karena karantina sebagai pintu utama. Kami bersama pihak Karantina sudah berusaha keras, tetapi orang yang kasih masuk hewan tersebut lebih pintar dari kita. Seperti bom waktu, untuk memasukkan vaksin pun tidak sembarangan. Dimana jika daerah bebas rabies dilarang untuk memasukkan vaksin,” paparnnya.

Jika lalu lintas tidak terkontrol, kata Vivi, maka pengiriman hewan antar daerah akan semakin bebas dan akan memberikan dampak buruk (rabies) di kemudian hari. Meski telah dilarang, namun pada kenyataannya akses lalu lintas hewan masih berjalan lancar, baik melalui jalur udara, laut dan jalur darat.

“Setelah dikroscek, banyak yang memasukkan hewan tersebut lewat jalur darat. Jangan sampai hobby pribadi menjadi masalah di kemudian hari,” tegasnya.

“Jika suatu saat di Papua terjadi rabies, bayangkan saja. Suatu saat apabila terjadi penyakit rabies, maka akan dapat menular kemana saja. Kita belum tahu populasi anjing di kota Manokwari ini berapa, ada yang satu rumah ada 12 anjing atau lebih, bayangkan saja jika ada penyakit rabies di sini,” sambung Vivi.

Sementara itu, perihal adanya perdagangan hewan ras di Manokwari, Vivi memastikan bahwa hewan-hewan tersebut tidak mengantongi ijin resmi ataupun rekomendasi yang dikeluarkan oleh Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Manokwari (ilegal).

“Kebanyakan tidak ada ijin, tidak ada rekomendasi dari kami. Kalau pengeluaran kami sering, itupun harus koordinasi dengan daerah asal. Dalam peta penyakit rabies, Manokwari masih nol (bersih), sehingga masih bebas kemana saja. tetapi yang dari luar ke Manokwari kita harus warning, meskipun dari daerah bebas bersyarat karena di vaksin, seperti Jawa Timur dan Jakarta,” bebernya.

Sementara itu, pihaknya juga memberikan rekomendasi untuk pengiriman hewan dari Manokwari keluar daerah. Dimana sejak adanya pandemi ini, jumlah surat rekomendasi yang dikeluarkan untuk pengiriman keluar Manokwari cukup menurun.

“Kalau cuma anjing kucing itu terbatas, terakhir kami kirim ke Makassar. Untuk pengiriman babi cukup banyak, sejak covid ini sudah mulai berkurang. Biasanya pengiriman ke Nabire bisa sampai 500-an ekor apalagi menjelang Desember,” sebut Vivi.

Adapun rekomendasi yang dikeluarkan bersifat gratis. Untuk itu, pihaknya mengimbau para pengusaha untuk dapat taat secara administrasi, terutama wajib memiliki ijin usaha.

“Pengusaha besar seharusnya malu, sedangkan pengusaha kecil yang hanya menjual satu dua ekor babi saja membuat ijin usaha. Tetapi pengusaha besar ada yang tidak membuat ijin usaha, secara administrasi tidak ada,” tandasnya.(PB19)

**Artikel ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Kamis 8 Oktober 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.