Hati-hati Rekor Inflasi

JAKARTA – Laju inflasi pada Juli 2022 menembus rekor tertinggi dalam tujuh tahun terakhir, yaitu berada di level 4,94 persen secara tahunan (year on year). Kenaikan harga pangan, khususnya cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah, menjadi komponen utama penyebab inflasi, yang diikuti dengan kenaikan harga bahan bakar rumah tangga serta tarif angkutan udara.

Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, berujar, meski saat ini fundamental ekonomi tampak kuat, hal itu seketika dapat berubah menjadi semu jika resesi di Amerika Serikat dan Uni Eropa semakin nyata. “Pemerintah dan Bank Indonesia jangan overconfident dan tidak bisa juga tutup mata. Inflasi harga produsen kan sudah naik 11,7 persen. Ini jelas bukan musiman dan sekarang masih ditahan sama produsen. Kalau mereka passing through itu ke konsumen, inflasi sebenarnya bisa lebih tinggi lagi,” kata Bhima, Senin, 1 Agustus 2022.

Bhima melanjutkan, imported inflation atau inflasi akibat naiknya harga barang impor sudah mulai terasa, selain karena faktor cuaca dan naiknya harga pupuk non-subsidi. “Ini bukan batas yang bisa ditoleransi karena menunjukkan inflasi yang kontinu naik setelah Lebaran,” ujarnya.

Dengan pelbagai kondisi tersebut, menurut Bhima, tingkat inflasi Juli 2022 sudah cukup menjadi dasar kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia hingga rentang 50 basis point dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Agustus 2022. “Kalau BI rate terus ditahan, khawatir terjadi pelarian simpanan valuta asing ke negara tetangga. Termasuk yield yang semakin ketat antara SBN dan US Treasury, yang membuat investor beralih ke aset lain yang lebih menguntungkan,” ucapnya.

Suku bunga acuan Bank Indonesia 7-Day Reverse Repo Rate saat ini masih berada pada level terendah dalam sejarah, yaitu 3,50 persen. Bunga acuan tersebut sudah bertahan selama 17 bulan.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, mengatakan inflasi yang terus meningkat berpotensi menggerus daya beli, terutama masyarakat menengah ke bawah. Sebab, sebagian besar komponen pengeluaran mereka berasal dari bahan makanan. “Tergerusnya daya beli masyarakat berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek akibat melambatnya konsumsi masyarakat secara umum,” ujarnya.

Adapun Bank Indonesia berpotensi meningkatkan suku bunga acuan pada bulan ini atau selambat-lambatnya pada September mendatang. “Hal ini mempertimbangkan second round effect dari kenaikan inflasi harga pangan bergejolak dan inflasi harga diatur pemerintah, yang akan mempengaruhi ekspektasi inflasi fundamental atau inflasi inti,” kata Josua.

Sri Mulyani Anggap Inflasi RI Moderat

Dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan III, kemarin, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membandingkan inflasi Indonesia dengan negara-negara yang sekelompok atau selevel dengan Indonesia, seperti Thailand yang inflasinya mencapai 7,7 persen, India 7 persen, dan Filipina 6,1 persen. “Inflasi Indonesia yang 4,94 persen year on year masih relatif moderat,” tutur dia.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan, dalam menentukan arah kebijakan moneter ke depan, bank sentral menggunakan pertimbangan inflasi inti dan keseimbangannya dengan pertumbuhan ekonomi. “Kami melihat inflasi inti yang benar-benar mencerminkan kekuatan permintaan dan penawaran, dan memang inflasinya masih sangat rendah, yaitu 2,8 persen pada Juli 2022,” ucapnya.

Perihal inflasi 4,94 persen, kata Perry, pemicu utamanya adalah inflasi harga pangan yang mencapai 11,47 persen akibat gangguan pasokan rantai global, cuaca musiman, dan kenaikan harga komoditas pangan dunia. “Dari hasil pemantauan kami, pasokan pangan akan meningkat pada Agustus hingga akhir tahun. Karena itu, kami memperkirakan inflasi makanan ke depan akan turun,” katanya.

Di tengah harga pangan yang melejit, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kondisi anomali. Nilai tukar petani (NTP) justru melemah pada Juli 2022, dengan turun 1,61 persen dibanding nilai bulan sebelumnya. Hal itu disebabkan oleh penurunan indeks harga yang diterima petani sebesar 1,04 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani naik 0,58 persen.

Meski demikian, Perry mengatakan, secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi diprediksi terus membaik, khususnya pada triwulan II dan III tahun ini. Terlebih, pada triwulan II tahun ini terdapat momen Ramadan dan Idul Fitri, juga peningkatan mobilitas, konsumsi rumah tangga, dan kinerja ekspor. “Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,05 persen,” kata dia.

Fundamental perekonomian domestik yang masih kuat itulah yang pada akhirnya membuat bank sentral percaya diri untuk terus menjaga suku bunga acuan di level rendah, meski dikepung tekanan inflasi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan komitmen pemerintah untuk ikut mengerem laju inflasi dari sisi suplai. Caranya dilakukan dengan berbagai upaya mewujudkan ketahanan pangan, stabilitas pasokan, stabilitas harga, dan kelancaran distribusi. “Sedangkan dari sisi permintaan, kami menaikkan bantuan sosial pada periode Mei dan Juni untuk Program Keluarga Harapan (PKH), juga bantuan langsung tunai (BLT) untuk menambah daya beli masyarakat,” ucapnya.

Subsidi juga terus difokuskan, khususnya untuk kebutuhan energi, yaitu bahan bakar minyak (BBM) dan listrik, yang anggarannya ditambah dari Rp 152 triliun menjadi Ro 502 triliun pada tahun ini. “Untuk inflasi, selanjutnya akan terus kami monitor dari berbagai sumber kenaikan harga, akan kami bedah mana yang berkontribusi menaikkan inflasi. Itulah yang akan kami fokuskan kebijakannya,” kata Sri Mulyani. (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: