Berita Utama

Jumlah Pekerja Informal Terus Meningkat

JAKARTA – Jumlah penduduk Indonesia yang bekerja di sektor informal terus meningkat sejak masa pandemi Covid-19. Pada Februari 2023, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk yang bekerja di sektor informal mencapai 83,34 juta orang, sedangkan pekerja sektor formal sebanyak 55,29 juta orang. Secara proporsi, pekerja sektor informal mencapai 60,12 persen, sedangkan sektor formal 39,88 persen.

Jumlah pekerja sektor informal tersebut naik dibanding pada Februari 2020 ketika Covid-19 belum meluas di Tanah Air. Kala itu, proporsi pekerja informal 56,64 persen, sedangkan pekerja sektor formal 43,36 persen. Proporsi pekerja informal itu terus meningkat setiap tahun, yakni sebesar 59,62 persen pada Februari 2021 dan 59,97 persen pada Februari 2022.

Berdasarkan laporan yang sama, BPS mencatat, dalam tiga tahun terakhir, proporsi penduduk yang bekerja sebagai buruh, karyawan, ataupun pegawai terus turun, dari 37,02 persen pada Februari 2021 menjadi 36,72 persen pada Februari 2022 dan 36,34 persen pada Februari 2023. Sementara itu, jumlah penduduk yang berusaha sendiri terus naik, dari 19,57 persen pada Februari 2021 menjadi 19,84 persen pada Februari 2022 dan 20,67 persen pada Februari 2023.

Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI), Elly Rosita Silaban, melihat data tersebut mengindikasikan situasi ketenagakerjaan yang memburuk selama masa pandemi Covid-19. Tak sedikit buruh yang dipecat sehingga harus beralih ke sektor informal. “Kondisi susah terutama dialami pekerja padat karya,” ujar dia.

Sejalan dengan data BPS tersebut, Elly mengatakan, selama masa pandemi, banyak pekerja formal yang akhirnya berhenti bekerja. Sebagian dari mereka memulai usaha kecil-kecilan, tapi tak sedikit pula yang tidak bekerja sama sekali. “Karena kalau mau punya usaha kecil-kecilan atau berdagang kan, mereka harus punya modal.”

Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Arief Anshory Yusuf, mengatakan meningkatnya informalitas itu patut penjadi perhatian. Musababnya, hal tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak mendukung pekerjaan yang berkualitas.

“Jadi, jumlah penganggur kecil, tapi bekerja serabutan dan berpenghasilan minim,” ujar Arief. Ia menduga kenaikan proporsi pekerja sektor informal tersebut disebabkan oleh maraknya pemberhentian pekerja pada masa pandemi.

Para pekerja yang dipecat atau dirumahkan diperkirakan belum semua kembali mendapatkan pekerjaan tetap. Akhirnya, mereka pun mesti bekerja serabutan. Arief mengatakan persoalan informalitas tersebut perlu ditangani karena berkorelasi dengan tingkat kemiskinan di perkotaan.

Menurut Arief, banyak penduduk yang bekerja di sektor informal merupakan pekerja sektor jasa di perkotaan. Karena itu, ia menyebutkan, ketika proporsi pekerja informal meningkat sekitar 5 persen pada masa pandemi dan tidak kunjung turun, tingkat kemiskinan di perkotaan juga belum menurun. Padahal hampir 60 persen penduduk tinggal di perkotaan.

“Sekarang yang digembar-gemborkan pemerintah pertumbuhan ekonominya saja, padahal pemulihan ekonomi kita kemarin terbantu oleh Perang Ukraina yang membuat naik harga energi, termasuk batu bara,” kata Arief. (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.