Berita UtamaInforialPOLITIK & HUKUM

Kabid Humas: Rekonstruksi Kasus Sumiati Dilakukan Jika Perlu

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Kepolisian Resor (Polres) Manokwari belum akan melakukan rekonstruksi atau reka ulang adegan pembunuhan terhadap Sumiati Simanullang. Rekonstruksi kasus pembunuhan bermotifkan dendam atau sakit hati itu, baru akan dilakukan penyidik, jika dianggap perlu.

“Tergantung penyidik. Jika perlu, maka pasti dilakukan. Tapi jika penyidik mengganggap fakta sudah cukup dengan keterangan tersangka, maka rekonstruksi tidak akan dilakukan,” kata Kabid Humas Polda Papua Barat AKBP Adam Erwindi saat ditemui Papua Barat News, Selasa (1/8/2020) pagi.

Ia menjelaskan, penyidik Polres sejauh ini sedang menyiapkan atau merampungkan penyusunan berkas perkara terhadap tersangka DI (28), guna proses pelimpahan tahap satu ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Manokwari.

“Belum ada penambahan tersangka, sementara ini masih satu orang. Berkasnya masih dirampungkan, masih ada beberapa perbaikan. Kita tunggu saja, karena begitu jaksa nyatakan lengkap, langsung kita tahap 2 kan,” ujar Erwindi.

Menurut Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari Yan Christian Warinussy, penyidik perlu dan harus menggelar rekonstruksi untuk dapat mengungkap fakta-fakta lain terkait kasus pembunuhan tersebut.

Dari rekonstruksi dapat diketahui apa, dari mana dan bagaimana atau dengan kata lain, peran tersangka menjadi jelas. Apalagi, kata Warinussy, rekonstruksi merupakan satu dari empat metode pemeriksaan kasus tindak pidana.

“Ada empat teknik metode pemeriksaan untuk bisa mendapatkan keterangan, yakni interviuw, interogasi, konfrontasi, dan rekonstruksi,” ujar Warinussy.

“Ini yang saya maksud rekonstruksi, sehingga kedudukan atau peranan maupun barang bukti dalam tindak pidana tersebut menjadi jelas,” katanya lagi.

Dalam kasus ini, DI diperkarakan lantaran diduga sebagai pelaku pembunuhan terhadap Sumiati Simanullang. Ibu beranak dua yang sehari-harinya bekerja sebagai honorer pada Dinas Kesehatan Manokwari itu, dibunuh dengan cara tragis dan jasadnya dibiarkan membusuk di semak rerumputan kawasan pemukiman penduduk, Sowi Gunung.

Akibat dari melakukan pembunuhan berencana bermotifkan dendam, tersangka DI yang diketahui berprofesi sebagai seorang sopir itu, dijerat dengan Pasal 338 KUHP atau Pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau pidana seumur hidup atau paling lama pidana 20 tahun penjara. (PB13)

**Artikel ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Rabu 2 September 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.