Kasus HIV-AIDS di Papua Barat Tembus 20.496 Orang

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Ribuan kasus HIV-AIDS kembali ditemukan sepanjang tahun ini di Provinsi Papua Barat. Jumlah penderita HIV-AIDS per September 2020, mencapai 20.496 orang.

Sampel darah 203.005 orang dari seluruh kabupaten/kota se-Papua Barat telah diperiksa di laboratorium baru-baru ini, dan hasilnya sekitar 5.012 orang positif HIV-AIDS. Penderita HIV-AIDS yang telah dirawat sekitar 2.215 orang, sementara ODHA yang menjalani pengobatan seumur hidup dengan ARV ada 2.085 orang.

Peringatan Hari AIDS sedunia 1 Desember kemarin diharapkan menjadi refleksi bagi semua pihak di Papua Barat, sehingga dapat menekan angka penyebaran virus yang mematikan itu.

Kepala Dinas Kesehatan Papua Barat Otto Parorongan mengatakan, penularan virus HIV-AIDS di Papua Barat masih tergolong tinggi. Ini disebabkan oleh masih banyaknya penderita HIV-AIDS yang belum berani terbuka tentang kondisi statusnya sebagai Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA). Sikap ini menyebabkan penularan kasus HIV-AIDS terus terjadi.

“Banyak pasien yang sudah berstatus positif tetapi tidak mau terbuka mengikuti perawatan sehingga makin menularkan ke yang lain,” ujarnya di Manokwari kepada Papua Barat News, Selasa (1/12/2020).

Otto menyebutkan, berbagai upaya untuk memutus mata rantai penularan virus HIV-AIDS terus dilakukan oleh pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan. Salah satunya, melakukan sosialisasi kepada kelompok rentan dan masyarakat umum. Menurutnya,  sosialisasi harus terus dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat agar peduli pada kondisi kesehatannya dan sesama. “Target kita di 2030 Papua Barat bebas HIV-AIDS,” terangnya.

Senada dengan itu,  Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Papua Barat dr Nurmawati menegaskan, Kota Sorong menjadi daerah dengan kasus tertinggi HIV-AIDS.

Kasus HIV-AIDS di Kota Sorong mencapai 1.381 kasus dari 47.473 orang yang telah diperiksa. Sementara ODHA yang telah diobati ada 459 orang dan sedang menjalani rawat jalan seumur hidup sekitar 777 pasien. Kota Sorong telah ditetapkan menjadi daerah sasaran penanganan virus HIV-AIDS di Papua Barat.

“Kota Sorong memiliki populasi penduduk tertinggi di Papua Barat karena itu angka sebarannya juga paling tinggi,” terangnya.

Media penularan, kata dia,  berpindah melalui cairan yang keluar dari tubuh manusia seperti darah, sperma dan cairan kewanitaan. Karena itu dirinya meminta agar perilaku seksual bergonta-ganti pasangan harus dihentikan. Apalagi di kalangan ODHA yang sampai saat ini tidak mengikuti perawatan medis dengan mengkonsumsi obat ARV (Antiretroviral). “Umumnya penularan HIV-AIDS melalui cairan tubuh manusia,” paparnya.

Ia berharap upaya percepatan memutus mata rantai penularan virus HIV-AIDS terus dilakukan. Diakuinya upaya memutus mata rantai penularan menjadi tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah. Karena itu dia mengingatkan agar stigma negatif kepada ODHA harus disingkirkan. Pasalnya selama ini ditemukan fakta meningkatnya kasus penularan virus HIV-AIDS karena ketakutan pada stigma negatif masyarakat kepada ODHA. Stigma negatif dan diskriminasi harus dihentikan.

“ODHA tetaplah manusia sama seperti kita, karena itu harus kita terima menjadi bagian dari kita,” pungkasnya. (PB22)

**Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Rabu 2 Desember 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: