Kaum Milenial Diajak Ikut Lestarikan Lingkungan

  • Kualitas lingkungan turun

 

MANOKWARI, PB News – Generasi Z atau yang lebih dikenal dengan istilah kaum milenial diharapkan dapat berpartisipasi dalam upaya pelestarian lingkungan. Hal ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi Papua Barat yang telah mendeklarasikan diri sebagai provinsi konservasi.

Program Manager Pengelolaan SDM Yayasan EcoNusa, Natalie Jaya Tangkepayung, mengatakan, anak muda memiliki peran sangat signifikan dalam urusan pelestarian lingkungan hidup. Melalui penyelenggaraan Sekolah Eko Diplomasi (School of Eco Diplomacy/SED) anak muda diberikan pemahaman tentang cara menjaga lingkungan alam sekitar mereka. SED ini sudah digelar dua tahap yakni tahun 2018 dan tahun 2019 ini.

“Aksi sekecil apapun itu, kita (EcoNusa) dorong anak muda untuk lakukan. Paling penting itu aksi menjaga lingkungan tempat tinggal mereka, sekolah, kampus dan lainnya,” ujar Natalie kepada sejumlah awak media di Manokwari, Rabu (20/11/2019).

Ia menerangkan, SED tahun 2019 digelar selama tiga hari (20-22 November) di dua kota yakni Jayapura dan Manokwari. Selepas mengikuti program SED tingkat dasar, peserta diseleksi untuk mengikuti program kelas menengah (Intermediated) bersama anak muda dari wilayah Indonesia lainnya. Selanjutnya, peserta yang terpilih dapat mengikuti program tingkat atas (Advance).

“Jadi semua aksi mulai dari tingkat lokal sampai nasional, sebenarnya punya tujuan yang sama. Hanya bentuk dan strateginya berbeda,” terang dia.

Sekolah ini, sambung dia, dibuka secara online jadi proses pendaftaran peserta juga secara online. Jumlah peserta dalam program tahap kedua di Manokwari berasal dari beberapa SMA dan Universitas Papua.

“Akhir dari setiap sesi pelatihan, mereka akan buat kelompok. Per kelompok ditantang punya ide, aksi apa yang akan mereka lakukan setelah sekolah ini selesai,” tutur dia.

Salah satu contoh hasil dari sekolah diplomasi, kata dia, para peserta di Jayapura membuat spot air minum isi ulang untuk mengurangi penggunaan bahan plastik.

“Bawa revil sendiri dari rumah, jadi kalo air minum habis bisa isi ulang di kampus atau sekolah mereka,” ucap dia.

Selain materi teori tentang ekosistem dan perubahan iklim, nantinya peserta juga diberikan kesempatan untuk meninjau langsung kondisi lingkungan. Dalam kehidupan sehari-hari, peserta dapat menularkan virus pelestarian lingkungan kepada masyarakat dengan cara-cara persuasif.

Dalam kesempatan itu, Manager Pengembangan Masyarakat dan Kepemudaan Yayasan EcoNusa, Rina Kusuma, menuturkan, program SED memberikan kesempatan kepada kaum milienial dapat berkontribusi dalam memberikan perubahan positif, membangun narasi baru tentang Tanah Papua yang indah.

“Sebagai wujud teori perubahan yang diusung oleh EcoNusa untuk Tanah Papua. Mungkin dalam sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan bisa bikin sekolah tentang ini,” ujar Rina.

 

Penurunan kualitas lingkungan

EcoNusa pada prinsipnya mendukung Pemerintah Provinsi Papua Barat dalam mengimplementasikan Deklarasi Manokwari tahun 2018 silam. Seperti yang diketahui, penurunan kualitas lingkungan sudah terjadi di seluruh Tanah Papua. Kondisi ini disebabkan oleh meningkatnya aktivitas pembukaan lahan untuk permukiman serta investasi lainnya.

“Satu sisi baik, tapi harus dikelola secara baik juga. Supaya tidak merugikan masyarakat terutama masyarakat asli Papua,” terang dia.

EcoNusa juga akan memastikan bahwa Deklarasi Manokwari yakni provinsi berkelanjutan dapat dilaksanakan secara baik dan benar. Misalnya mendorong secara teknis, pelatihan dan sejumlah kegiatan advokasi.

“Juga berkomunikasi dan berkoordinasi dengan teman-teman mitra pembangunan untuk mendukung Pemerintah Provinsi Papua Barat,” pungkas dia.(PB15)

[Berita ini telah terbit di harian Papua Barat News edisi Kamis 21 November 2019]

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: