Berita UtamaInforial

Keberagaman Patut Dibanggakan

MANOKWARI, papuabaratnews.co Keberagaman adalah sebuah kekayaan dalam membangun bangsa dan daerah. Karenanya keberagaman itu tidak untuk diperdebatkan, melainkan patut disyukuri dan dibanggakan.

“Perbedaan dan keberagaman seharusnya dapat dijadikan potensi dan kekuatan kekuatan untuk saling menghargai. Bukan untuk saling menyerang dan menjatuhkan,” ujar Pangdam XVIII/Kasuari Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa pada kegiatan Fokus Grup Diskusi (FGD) yang digelar oleh Dit Binmas Polda Papua Barat bertajuk Merajut Kebhinekaan, Menolak Rasisme di salah satu hotel di Manokwari, Senin (1/2/2021).

Saat ini, kata dia, ada banyak kelompok mencoba dengan berbagai cara untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa yang sudah lama terpelihara di Indonesia umumnya, dan Papua Barat khususnya. Akan tetapi, kesadaran masyarakat untuk mencintai perbedaan adalah salah satu dasar kekuatan melawan perpecahan.

“Mencintai perbedaan adalah kuncinya. Dan saya merasa Papua Barat adalah daerah yang sangat menghargai perbedaan tersebut,” kata dia.

Ia melanjutkan, pembuktian dari kecintaan masyarakat Papua Barat terukur dari keberhasilan meraih predikat provinsi dengan nilai toleransi tertinggi di Indonesia tahun 2019 dan 2020. Hal tersebut menandakan bahwa persatuan dan kesatuan adalah antar warga adalah kunci dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Jika kita menimbulkan konflik. Karena dampaknya akan dirasakan oleh generasi setelah kita. Mereka akan merasa tidak aman dan nyaman dalam menjalankan aktivitas kehidupan. Termasuk untuk memperoleh pendidikan,” kata Pangdam.

Ia juga menuturkan bahwa, tak ada satupun warga negara Indonesia memilih kapan dan dimana dilahirkan. Tak ada satupun juga yang memilih dari keturunan mana dia berasal. Sehingga, anugerah tersebut patut disyukuri karena diberikan kesempatan hidup di Indonesia dan boleh bepergian serta tinggal di seluruh wilayah negara.

“Saya tidak pernah memilih dilahirkan di Bali. Demikian juga dengan teman-teman di Papua. Ini adalah takdir. Olehnya kita juga harus menerima takdir tersebut sebagai anugerah. Komunikasi yang konstruktif adalah kunci dalam membangun kebhinekaan,” ucap Cantiasa.

Sementara itu, Wakapolda Papua Barat Brigjen Pol Patrige Renwarin dalam materinya menyampaikan, tugas merajut kebhinekaan tidak hanya diembankan kepada masyarakat. Akan tetapi, para pemimpin daerah, kepala suku dan pemimpin agama menjadi juru kunci dalam mengajak masyarakat dan umatnya merajut kebhinekaan.

“Pemimpin harus menjadi pemandu bagi masyarakat dalam menggelorakan semangat keberagaman,” ujarnya.

Menurut dia, petuah-petuah dalam menjaga keharmonisan yang ditinggalkan oleh para leluhur menjadi salah satu faktor penting yang perlu diajarkan kepada generasi muda. Supaya, generasi muda tidak terjebak dalam pola hidup yang dapat memecah belah persaudaraan.

“Hal itu perlu dilakukan karena generasi muda saat ini sudah terkontaminasi dengan akulturasi budaya luar yang mempengaruhi sisi kemanusiaan mereka,” jelas dia.

“Apalagi kita di Papua Barat ini terdiri dari berbagai suku dan budaya. Setiap kita pasti punya cerita leluhur tentang toleransi yang layak diajarkan kepada generasi muda kita,” kata dia lagi.

Assintel Kejaksaan Tinggi Manokwari Rudi Hartono menyampaikan, di manapun dan atas nama apa pun, tindakan rasisme tidak dibenarkan. Rasisme merupakan bentuk diskriminasi paling kejam yang dapat mengoyak kebhinekaan yang telah dibangun oleh para pendiri bangsa.

“Karena kita beragam maka ada yang namanya Bahasa Indonesia. Ada lagu Indonesia Raya. Ada Pancasila dan UUD 1945,” katanya.

Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani menegaskan, dalam UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, pihaknya diberikan kewenangan untuk memastikan jalannya pemerintahan dan pembangunan yang dapat terlaksana dengan baik termasuk menjamin kerukunan hidup masyarakat demi mewujudkan keamanan dan ketertiban.

“Untuk itu menjadi tanggung jawab kami agar selalu menyerukan kepada masyarakat agar selalu hidup berdampingan secara damai,” kata Wagub.

Dirinya berharap, predikat provinsi dengan indeks kerukunan umat beragama tertinggi di Indonesia harus menjadi contoh bagi daerah lain. Hal tersebut menunjukkan apa yang didapatkan dari kemajemukan ataupun pluralisme masyarakat di Papua Barat sudah mendapatkan pengakuan.

“Jangan kita cederai dengan tindakan atau ujaran yang dapat menimbulkam perpecahan,” kata dia.

Untuk diketahui, pihak penyelenggara menghadirkan 4 orang Narasumber yaitu Wakil Gubernur Papua Barat Mohammad Lakotani, Pangdam XVIII/Kasuari Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa, Wakapolda Papua Barat Brigjen Pol Patrige Rahawarin dan  AssIntel Kejati Papua Barat Rudi Hartono. Kegiatan dipandu langsung oleh Moderator Kompol Agustina Sineri. (PB25)

**Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Selasa 2 Februari 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.