Berita Utama

Kejagung Gabungkan Dua Perkara dalam Satu Dakwaan

JAKARTA – Kejaksaan Agung menggabungkan dua perkara dalam satu dakwaan yang menjerat Inspektur Jenderal Ferdy Sambo. Dua perkara itu adalah kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat dan perintangan penyidikan atau obstruction of justice.

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Fadil Zumhana mengatakan, penggabungan tersebut agar lebih efektif selama proses persidangan. “Dua tindak pidana, satu tersangka, kami gabung dalam satu dakwaan. Dakwaan pertama dan kedua, kumulatif,” ujar Fadil di Kejaksaan Agung, Kamis (29/9/2022).

Penggabungan perkara diatur dalam Pasal 141 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Menurut dia, dua perkara tersebut bakal digabung dalam satu dakwaan saat proses sidang. Fadhil menegaskan, penggabungan perkara Ferdy Sambo untuk mengikuti asas persidangan secara cepat, sederhana, dan berbiaya ringan, selain untuk mempermudah pembuktian.

Brigadir Yosua tewas meregang nyawa di rumah dinas Ferdy Sambo di Kompleks Polri Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan, pada 8 Juli 2022. Penyidik Markas Besar Kepolisian menetapkan Ferdy Sambo dan istrinya, Putri Candrawathi, sebagai tersangka pembunuhan berencana. Eksekusi terhadap Yosua dibantu Brigadir Kepala Ricky Rizal, Kuat Ma’ruf, dan Bhayangkara Dua Richard Eliezer Pudihang Lumiu. Kecuali Eliezer, para tersangka dijerat Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Selain kasus pembunuhan berencana, Ferdy Sambo dan kawan-kawan dijerat kasus menghalangi penyidikan atau obstruction of justice. Dalam kasus ini, ada tujuh tersangka. Mereka adalah Ferdy Sambo, Brigjen Hendra Kurniawan, Kombes Agus Nurpatria, AKBP Arif Rahman Arifin, Kompol Baiquni Wibowo, Kompol Chuck Putranto, dan AKP Irfan Widyanto. Total ada 11 tersangka dalam dua kasus tersebut.

Kejaksaan menyatakan berkas kedua perkara itu telah lengkap atau P21. Polri bakal menyerahkan 11 tersangka dan barang bukti—sebagai pelimpahan tahap kedua—kasus pembunuhan Brigadir Yosua ke jaksa penuntut umum pada Senin depan. Kejaksaan juga bersiap menyusun surat dakwaan dan melimpahkan berkas tersebut ke pengadilan.

Fadil menegaskan akan berupaya membuktikan bahwa Ferdy Sambo dan kawan-kawan dapat dijerat dengan pasal berlapis itu. “Kami berupaya semaksimal mungkin sebagai jaksa membuktikan Pasal 340 KUHP. Inilah profesionalisme kami,” ujar Fadil.

Pasal 340 KUHP berbunyi barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun. Adapun Pasal 338 KUHP merupakan tindak pidana pembunuhan biasa dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun.

Penggabungan perkara dalam satu surat dakwaan akan dibuat secara kumulatif, yakni surat dakwaan dengan pasal berlapis. Dalam kasus pembunuhan berencana, surat dakwaan akan dibuat dakwaan primer dan subsider. Demikian pula surat dakwaan dalam perkara obstruction of justice akan ada primer dan subsider. Misalnya pada dakwaan pertama digunakan Pasal 340 KUHP juncto Pasal 55 atau Pasal 56 sebagai dakwaan primer dan Pasal 338 KUHP juncto 55 atau 56 sebagai dakwaan subsider.

Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso menjelaskan, surat dakwaan dalam kasus pertama, yakni pembunuhan berencana, harus dibuktikan berdiri sendiri. Begitu pula pada dakwaan kedua, obstruction of justice. Pasal yang disangkakan dalam kasus kedua, yakni Pasal 32 dan Pasal 33 juncto Pasal 48 dan Pasal 49 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). “Penggabungan dakwaan tidak akan memperlemah dakwaan satu dengan dakwaan yang lain,” kata Sugeng.

Bila kedua dakwaan kasus itu terbukti, kata Sugeng, hukumannya adalah ancaman hukuman terberat ditambah sepertiga. Pegiat pemantau kepolisian ini mencontohkan, jika pembunuhan berencana terbukti dan hakim memutuskan hukuman mati, maka itu yang tertinggi, tidak perlu ditambah sepertiga. Namun, jika tuntutannya 15 tahun, hakim dapat memutuskan ditambah sepertiga dari subsider, menjadi 20 tahun. IPW mendorong Kejaksaan Agung mengajukan perkara Irjen Ferdy Sambo dalam kasus tewasnya Brigadir Yosua dengan dakwaan Pasal 340 juncto Pasal 338 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP.

Kamaruddin Simanjuntak, pengacara keluarga Yosua, tidak mempermasalahkan jika dua perkara digabungkan dalam satu dakwaan dalam persidangan Ferdy Sambo. Dia hanya berharap, dalam sidang nanti, para tersangka yang akan menjadi terdakwa dalam ruang sidang tidak digabung agar mereka satu sama lain bisa menjadi saksi dan mengkonfrontasi keterangan yang lain. Kamarudin khawatir, jika digabung saat sidang berlangsung, para terdakwa akan berkoordinasi. “Paling buruknya kalau mereka bekerja sama, bisa akan berubah dakwaan dari Pasal 340 KUHP menjadi Pasal 338 KUHP. Ancaman pasal itu 15 tahun,” ujar dia.

Adapun koordinator pengacara keluarga Ferdy Sambo, Arman Hanis, mengatakan kliennya sadar telah berbuat salah dalam kasus ini. Tim kuasa hukum berharap dapat terwujud proses hukum yang obyektif dan berkeadilan. “Kami sadar ada kekeliruan yang pernah terjadi. Kami akan akui secara terbuka di persidangan. Harapan kami hanya sederhana: semoga proses hukum berjalan secara obyektif dan adil,” ujar Arman, menirukan ucapan Ferdy. (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.