Berita Utama

Kekerasan Berulang yang Berujung Kematian Prajurit

JAKARTA – Peneliti dari Imparsial, Hussein Ahmad, mengatakan lembaganya mencatat sudah empat kali terjadi kasus kekerasan senior terhadap junior di lingkup internal TNI yang berujung kematian. Peristiwa teranyar terjadi terhadap Prajurit Dua Muhammad Indra Wijaya yang diduga meninggal akibat tindak kekerasan oleh seniornya di mes Tamtama Tiger Markas Komando Operasi Angkatan Udara III Biak, Papua, pada Sabtu malam lalu.

Ia berpendapat peristiwa ini makin membuktikan bahwa TNI masih menghadapi masalah kultur kekerasan, khususnya antara senior dan junior. “Perlu diingat bahwa doktrin komando bukan berarti dapat melegitimasi kekerasan,” kata Hussein, Rabu (23/11/2022).

Menurut Hussein, doktrin komando memang menuntut kepatuhan, tapi bukan berarti senior atau atasan dapat menghukum menggunakan kekerasan hingga berlebihan, bahkan menghilangkan nyawa prajurit lainnya. Ia menganggap kasus kematian Indra ini seharusnya mendorong reformasi di lingkup internal TNI, khususnya menghilangkan kultur kekerasan.

Reformasi itu, kata dia, dapat dimulai dari perubahan pola pendidikan di tingkat dasar. Lalu TNI mesti memberikan hukuman tegas kepada pelaku, bukan hanya berupa sanksi kode etik, tapi juga pertanggungjawaban pidananya. Pelaku penganiayaan dan pembunuhan seharusnya dimintai pertanggungjawabannya di pengadilan yang terbuka, transparan, dan akuntabel.

“Tidak boleh lagi ada pelaku yang seolah-olah dilindungi institusi sebagaimana kita dengar beberapa saat lalu pada kasus serupa,” ujar Hussein.

Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE), Anton Aliabbas, berpendapat bahwa dugaan terjadinya kekerasan terhadap Indra tersebut tidak bisa dibiarkan. Polisi militer TNI seharusnya menginvestigasi lebih lanjut mengenai duduk perkara dugaan kekerasan tersebut serta memproses secara hukum semua prajurit yang terlibat. “Hasil investigasi menjadi penting untuk diumumkan kepada publik demi menghindari adanya spekulasi ataupun kabar miring perihal kasus tersebut,” kata Anton.

Selama ini, kata dia, Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa mempunyai perhatian tersendiri ihwal pelanggaran hukum yang dilakukan prajurit TNI. Karena itu, kelanjutan dari sikap tersebut menjadi kunci agar hubungan antarprajurit dalam satuan tidak terkena dampak akibat kesimpangsiuran informasi atas kasus tersebut.

Anton melihat kasus kekerasan di tubuh militer terkadang terjadi pada satuan-satuan tertentu, seperti pendidikan. Ia pun pernah mendengar terjadi kasus kekerasan yang menimpa taruna di akademi. Adapun kekerasan di satuan lain lebih banyak pada dinamika hubungan antarprajurit.

Menurut Anton, TNI perlu menguatkan pengawasan setiap komandan satuan prajurit. Dengan demikian, ketika ada kasus penganiayaan terhadap prajurit di satuan, komandan di satuan tersebut harus ikut bertanggung jawab dan mendapat sanksi.

Ketua Badan Pengurus Centra Initiative, Al Araf, juga mendorong kasus kematian Indra diusut secara tuntas. “Jangan ada yang ditutup-tutupi dari kasus tersebut sehingga proses hukum serta investigasinya perlu dilakukan secara akuntabel dan terbuka,” kata dia.

Al Araf berpendapat TNI perlu menguatkan pengawasan internal dan penghukuman yang tegas kepada para pelaku. Ia pun menilai banyak kemungkinan penyebab terjadinya kekerasan terhadap Indra, di antaranya karena kultur di organisasi, yaitu senior yang merasa superior terhadap juniornya. “Pola pengawasan yang lemah serta penghukuman terhadap pelaku yang minim membuat kasus kasus seperti itu terjadi lagi,” katanya.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama Indan Gilang Buldansyah, memastikan institusinya akan memberikan sanksi berat kepada pelaku yang terbukti bersalah. Ia mengatakan TNI AU tidak akan menutupi kesalahan prajurit dalam kasus kematian Indra tersebut. “Ini menjadi evaluasi buat kami TNI AU, bagaimana kami melakukan proses pembinaan terhadap prajurit,” kata Indan. (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.