Berita Utama

Kisah Sukses dan Gagal Mata Uang Digital

JAKARTA — Sebelum Bank Indonesia menerbitkan desain pengembangan Digital Rupiah dalam buku putih soal mata uang digital bank sentral atau Central Bank Digital Currency (CBDC), sejumlah negara telah mengembangkan mata uang digital lebih dulu. Bahkan lembaga internasional PricewaterhouseCoopers (PwC) memperkirakan lebih dari 80 persen bank sentral di dunia sedang merancang mata uang digital mereka.

“Ada tiga CBDC retail yang telah jalan dan setidaknya 28 proyek percontohan CBDC. Sedikitnya 68 bank sentral mengumumkan secara resmi tentang proyek CBDC mereka,” begitu laporan PwC Global CBDC Index and Stablecoin Overview 2022 yang terbit pada April lalu.

CBDC retail merupakan mata uang digital yang dirancang untuk publik. Sedangkan CBDC wholesale adalah mata uang digital yang digunakan lembaga keuangan untuk menyelesaikan transaksi dalam skala besar. Menurut laporan PwC, proyek-proyek CBDC retail di berbagai belahan dunia semakin matang dibanding CBDC wholesale.

Di antara negara-negara yang sudah menerapkan mata uang digital bank sentral secara penuh ialah Nigeria dan Bahama. Bank Sentral Nigeria (CBN) mengeluarkan mata uang digital bernama e-Naira. Sedangkan bank sentral Bahama merilis Sand Dollar. Bahama menjadi negara pertama yang mengeluarkan CBDC dan telah dipakai sebagai alat pembayaran yang sah terhitung sejak Oktober 2020.

Di Nigeria dan Bahama, seluruh penduduk bisa mengakses CBDC melalui dompet-dompet digital dan berbagai kartu pembayaran. “Di kedua negara tersebut, penerapan CBDC diperkirakan telah meningkatkan inklusi keuangan,” begitu  laporan PwC Global CBDC Index.

Adapun Cina menjadi raksasa ekonomi pertama yang membuat proyek percontohan CBDC pada 2020 lewat yuan digital. Per Maret 2022, program-program percontohan CBDC di Cina telah diterapkan di 12 kota, termasuk Beijing dan Shanghai.

Untuk CBDC wholesale, negara yang terbilang maju, menurut PwC, adalah Hong Kong dan Thailand.

Proyek Percontohan Mata Uang Digital yang Gagal

PwC juga mencatat proyek percontohan ataupun upaya mewujudkan CBDC yang gagal. Contohnya di Ekuador. Proyek Dinero electronico di Ekuador dibatalkan dan tidak masuk dalam agenda bank sentral setempat.

Sedangkan bank sentral Denmark, Danmarks Nationalbank, menyimpulkan CBDC retail tidak memberikan nilai tambah yang cukup besar dibandingkan pilihan yang ada saat ini. Kesimpulan tersebut dihasilkan setelah Danmarks Nationalbanks melakukan penelitian soal CBDC pada Juni 2022.

Direktur Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira, mengatakan Cina dengan yuan digital menjadi proyek percontohan CBDC yang terbilang sukses. “Setahu saya belum ada negara yang apply semasif Cina,” ujarnya.

Dia mengutip pernyataan bank sentral Cina (PBOC) yang menyebutkan nilai transaksi yuan digital per Mei 2022 telah menembus 83 miliar yuan atau lebih dari Rp 185 triliun. Nilai itu berasal dari 264 juta transaksi di 15 provinsi.

Sedangkan negara dengan penerapan CBDC penuh terbaik, menurut Bhima, adalah Bahama. Sand Dollar di Bahama diluncurkan berdasarkan kesadaran akan kebutuhan layanan pembayaran baru yang membuat semua masyarakat di Bahama, yang merupakan negara kepulauan, bisa mendapat akses layanan keuangan dengan mudah.

Adapun Deputi Gubernur Bank Indonesia, Juda Agung, sebelumnya mengungkapkan bahwa Digital Rupiah nantinya akan memegang peran penting dalam sistem keuangan  di masa depan.

“CBDC berpotensi cocok digunakan sebagai alat tukar yang sah dalam ekosistem terdesentralisasi, fitur utama yang tentu saja tidak ada di ekosistem uang kertas tradisional saat ini,” ujar Juda dalam acara G20 Techsprint Central Bank Digital Currency Midpoint Event di Nusa Dua, Badung, Bali, Selasa, 12 Juli lalu. (TEM/ANT)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.