Berita UtamaInforial

Konferensi Internasional KOBI Dibagi Dua Sesi

MANOKWARI, papuabaratnews.co — Konferensi internasional dan rapat koordinasi nasional Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) tahun 2021 yang diselenggarakan di Manokwari selama dua hari (24-25 November 2021), dibagi dalam dua sesi yakni sesi paripurna dan paralel.

Ketua panitia konferensi Keliopas Krey mengatakan, ada sembilan pembicara utama yang berasal dari dalam maupun luar negeri akan tampil pada sesi paripurna. Mereka adalah Kepala Balitbangda Papua Barat Prof Charlie D Heatubun, Conservation International Victor Nikijulu, Staf Khusus Presiden Billy Mambrasar, Prof Jatna Supriyatna dari Universitas Indonesia, M J Sadsoistoeboen dari Universitas Papua, Robert Hewat dari National University of Kamboja, Sebastien Allard dari Curtin University dan Arlan Suruan dari PT Freeport Indonesia.

“Kalau pembicara pada sesi paralel berasal dari berbagai institusi mulai dari Aceh sampai Merauke, hingga dari luar negeri,” ucap dia saat memberikan sambutan dalam acara pembukaan, Rabu (24/11/2021).

Ia melanjutkan, ada 100 naskah telah terdaftar pada sistem easy chair dan juga email. Pihaknya mengidentifikasi ada 51 institusi yang meliputi 38 universitas dari dalam negeri dan empat universitas luar negeri (University College London, Kyoto University Japan, University Tun Hussein Onn Malaysia dan University of Texas). Selain itu, ada dua balai penelitian, tig pusat penelitian, Dinas Kesehatan Papua Barat, dan tiga NGO (WRI, IPCRI dan WCS).

“Untuk peserta non presenter pada konferensi ini terdiri dari para dosen, guru, peneliti, praktisi, dan mahasiswa. Jumlahnya mencapai 200 orang,” ujar Krey.

Ia menerangkan, konferensi internasional dan rapat koordinasi nasional KOBI tahun 2021 memiliki tiga manfaat. Pertama, peserta konferensi memperoleh pengetahuan mengenai perkembangan ilmu pengetahuan bidang bioderversitas dan biosistematika, konservasi sumber daya alam dan lingkungan, biologi molekuler dan bioteknologi, mikrobiologi dan kesehatan serta bioantropologi. Kedua, terjalin hubungan kerjasama antar institusi riset, peneliti, akademik, pemerintah dan lembaga swasta guna mendorong upaya perlindungan plasma nutfah di Tanah Papua.

“Ketiga, tersedianya publikasi ilmiah pada jurnal bereputasi sebagai referensi bagi masyarakat global,” pungkas dia. (PB15)

 

*Berita ini sudah dirilis di Harian Papua Barat News, Edisi Kamis 25 November 2021, Halaman 1

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.