Berita UtamaInforial

Kreativitas dari Penjara, Inovasi Tanpa Pamrih

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Perilaku Narapidana (Napi) erat dengan stigma negatif di masyarakat pada umumnya. Ini menjadikan mantan napi terkadang merasa kesulitan beradaptasi dengan kehidupan di luar tembok penjara.

Mengubah stigma negatif itu, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) berupaya menginovasi cara pembinaan bagi para warga binaannya, agar kelak dapat menjalani hidup yang positif, produktif dan berdaya guna di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat.

Menurut Kepala Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIIA Manokwari Enggelina Hukubun, secara moral perempuan memiliki tanggung jawab lebih besar ketimbang laki-laki dari sisi psikologis, terutama kepada anak dan suami. Untuk itu, dalam Lapas mereka harus diberi ruang yang sedikit lebih luas. Ruang itu dikhususkan untuk mengasuh anak.

“Sesuai peraturan, kita memperbolehkan anak mengikuti Ibunya di dalam Lapas. Mengikuti itu artinya diasuh, dan itu dikhususkan bagi anak yang masih berusia 0 sampai 2 tahun,” kata Hukubun kepada Papua Barat News, Senin (23/11/2020) di ruang kerjanya.

Di Lapas Perempuan, pembinaan terhadap warga binaannya bukan sekadar mengajarkan sebuah keterampilan, tetapi dipersiapkan untuk menghadapi hari esok. Hari dimana mereka terbebas dari masa hukuman, hari dimana mereka melangkahkan kakinya sebagai pribadi yang baru. Pribadi yang positif, penuh semangat, dan mampu menghidupkan keluarga.

“Ada tiga pilar yang menjadi patokan kami dalam membina, yaitu secara pribadi hidup harus dipulihkan oleh Tuhan, kemudian kehidupan dengan sesama, dan penghidupan,” ujar Hakubun. “Harus punya keterampilan, jadi saat bebas nanti, tidak canggung hidup di masyarakat, dan mampu menghidupkan keluarga. Itulah tujuan Pemasyarakatan,” katanya lagi.

Terkait keterampilan, banyak memang kerajinan tangan yang mampu dikerjakan oleh para warga binaan khusus Perempuan. Namun yang menjadi khas di LPP Manokwari, ialah menyulam atau merajut. Banyak yang telah dibentuk, mulai dari tas jinjing, dompet, hingga pembungkus tisu. Semuanya bisa dirajut dari bahan woll ataupun manik-manik.

Keahlian itupun merupakan hasil didik dari salah satu petugas LPP Manokwari. Selain dapat menghasilkan uang, kegiatan itu pun mampu mengatasi kebosanan dari para warga binaan, mengalihkan diri dari pikiran buruk dan semacamnya selama berada dibalik jeruji besi.

“Kita terus berupaya agar ada sesuatu untuk mereka kerjakan, daripada cuma makan-tidur. Dan syukur-syukur itu sesuai dengan minat dan bakat mereka,” ujar salah satu petugas pembinaan. “Intinya, kita menggerakan mereka untuk berbuat sesuatu yang positif dan produktif. Hal yang tentunya bisa bermanfaat saat mereka bebas nanti,” katanya lagi.

Terlepas dari itu semua, kendala terbesar LPP Kelas IIIA Manokwari, ialah menyangkut penjualan hasil kreatifitas warga binaan. Sebab, mereka belum mempunyai tempat ataupun pasar tersendiri. Saat ini, penjualan hasil kerajinan hanya bertumpu pada pengunjung. Dimana ketika jam kunjungan dibuka, saat itulah barang dipamerkan.

Sayangnya, pandemi Covid-19 sejak Maret lalu, seakan menutup pintu rezeki para warga binaan, tak terkecuali penghuni LPP Manokwari. Peniadaan jam besukan berarti tidak ada kerajinan tangan yang bisa dijual. Kendati demikian, kegiatan menyulam tetap berjalan dibalik tembok yang dihuni oleh 17 Narapidana itu.

“Hasil produksi mereka memang masih sulit untuk dijual, dan ini merupakan suatu persoalan. Kami belum mempunyai tempat sendiri. Mau buka galeri didepan, itu tempat milik orang. Jadi sementara hasil kerajinan tangan ini dijual hanya pada saat ada kunjungan saja,” ujar Hakubun.

“Untuk sulaman tas, mayoritas dijual segarga Rp100 sampai Rp150 ribu,” katanya lagi.

Hakubun berharap, visi untuk LPP Manokwari mempunyai galeri khusus buat hasil karya warga binaan dapat segera terwujud, terutama galeri khusus untuk persewaan baju adat papua, catering, salon dan rias pengantin. Dengan begitu, menurutnya, bakat dari para warga binaannya dapat lebih bermanfaat lagi.

“Saya kira hal-hal yang tersangkut paut dengan perempuan, kami kerjakan disini. Jadi kembali lagi pada tujuan utama tiga pilar Pemasyarakatan. Dipulihkan oleh Tuhan, memulihkan hubungan antar sesama, dan menghidupkan keluarga,” kata Hakubun. (PB13)

**Berita ini telah Terbit di Harian Papua Barat News edisi Selasa 24 November 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.