Krisis Oksigen, Pasien Meninggal di Papua Barat Bertambah

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Jumlah pasien Covid-19 yang meninggal karena persediaan oksigen yang terbatas di Papua Barat terus bertambah. Tercatat sebanyak sembilan pasien meninggal akibat masalah tersebut. Respons cepat dari pemerintah pusat diperlukan untuk mengatasi krisis ini.

Data yang berhasil dihimpun Papua Barat News, sembilan pasien yang meninggal ini terdiri dari 3 pasien di RSU Provinsi Papua Barat dan 6 pasien di RSUD Manokwari.

Direktur RSUD Manokwari Alwan Rimosan mengatakan, pasien Covid-19 meninggal dalam empat hari terakhir dengan gejala berat akibat saturasi oksigen di bawah angka 60 persen. Angka itu jauh di bawah ambang batas saturasi normal, yakni 95 persen.

Ia menyatakan, pihak rumah sakit sudah berupaya maksimal dalam penanganan pasien dengan gejala berat. Namun, produksi oksigen di RSUD Manokwari hanya 10-15 tabung berukuran 2 meter kubik per hari.

Adapun kebutuhan oksigen di RSUD Manokwari sebanyak 30-40 tabung berukuran 6 meter kubik per hari. Sementara kebutuhan oksigen 1 pasien dengan gejala berat bisa mencapai 10-15 tabung per hari.

”Kapasitas produksi oksigen di rumah sakit kami hanya cukup untuk satu pasien gejala berat. Produsen oksigen di Manokwari juga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan kami,” ujar Alwan.

Kebutuhan oksigen medis di RSUD Manokwari melonjak karena tingginya jumlah pasien Covid-19. Keterisian tempat tidur (bed occupancy rate/BOR) untuk pasien Covid-19 di RSUD Manokwari sudah mencapai 100 persen dengan jumlah pasien yang dirawat sebanyak 33 orang.

Alwan pun berharap ada bantuan dari Kementerian Kesehatan untuk mengirimkan alat produksi oksigen ke Manokwari. Hal ini agar rumah sakit dapat memenuhi kebutuhan vital tersebut.

Direktur RSUD Provinsi Papua Barat dr Arnold Tiniap mengatakan, tiga pasien yang meninggal di rumah sakitnya karena tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup. Dia mengungkapkan, total produksi oksigen di Manokwari hanya 100 tabung per hari. Terdapat enam rumah sakit di Manokwari dan kebutuhan setiap rumah sakit minimal 100 tabung per hari.

”Kami sudah menyampaikan masalah ini kepada pemerintah pusat. Hingga saat ini belum ada respons dari pusat untuk membantu masalah krisis oksigen di Papua Barat,” tutur Arnold yang juga juru bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Papua Barat.

Arnold menambahkan, meningkatnya pemakaian oksigen di setiap rumah sakit di Papua Barat dipengaruhi jumlah pasien Covid-19 dengan gejala berat yang melonjak drastis.

”Sebanyak 20 persen dari total 100-200 kasus positif Covid-19 per hari adalah pasien dengan gejala berat. Satu pasien dengan gejala berat bisa menghabiskan 10-15 tabung berukuran 2 meter kubik per hari,” papar Arnold.

Sementara itu, persediaan tabung oksigen di sejumlah rumah sakit di Kota Sorong, juga diketahui mulai menipis. Jumlah yang disuplay dari produsen juga mulai terbatas. Sejumlah produsen yang selama ini menyuplai ke industri kini berfokus membantu pemerintah.

Direktur PT. Klasaman Indah Raya, David Wirawan mengaku, jika pihaknya kewalahan melayani tingginya permintaan tabung oksigen terutama dari pihak rumah sakit sejak PPKM darurat diberlakukan di Kota Sorong.

Akibat tingginya permintaan, David menyatakan pihaknya selaku produsen tabung oksigen yang berfokus menyuplay kebutuhan industri kini mengalihkan suplynya ke layanan medis. Meskipun sempat mengalami penurunan hasil produksi tabung akibat teknisi yang didatangkan dari luar daerah namun kini telah normal kembali.

Juru bicara Gugus Tugas percepatan penanganan Covid-19 Kota Sorong, Rudy Laku membenarkan jika sejumlah rumah sakit mengalami keterbatasan tabung oksigen. Gugus Tugas memastikan dinas terkait akan selalu berupaya memenuhi kebutuhan tabung oksigen guna penanganan pasien Covid-19.

Saat ini terdapat 1 kota dan 11 kabupaten yang berstatus zona merah Covid-19 di Papua Barat. Hanya tersisa satu kabupaten yang berstatus zona hijau, yakni Pegunungan Arfak. Sebanyak 12 daerah zona merah itu adalah Kota Sorong, Sorong, Sorong Selatan, Manokwari, Manokwari Selatan, Teluk Bintuni, Teluk Wondama, Tambrauw, Maybrat, Raja Ampat, Kaimana, dan Fakfak.

Sebanyak 23 rumah sakit di Provinsi Papua Barat sangat memerlukan tambahan pasokan oksigen medis untuk penanganan pasien Covid-19.

Dari data terakhir tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Papua Barat pada Selasa (27/7), total kumulatif kasus positif mencapai 17.397 orang. Data ini meliputi 13.786 orang sembuh, 3.341 orang dirawat, dan sebanyak 301 orang meninggal. (PB1)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: