Berita UtamaEKONOMIInforial

Kuartal IV 2020, Ekonomi Papua Barat Tumbuh Melambat

  • Tahunan terkontraksi -5,21% yoy

 

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Perekonomian Provinsi Papua Barat pada kuartal IV tahun 2020 mengalami sedikit perbaikan, namun belum mencapai level tertinggi.

Badan Pusat Statistik Papua Barat mencatat, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) termasuk minyak dan gas (migas) pada kuartal IV-2020 tumbuh melambat sebesar 2,03%, jika dibandingkan kuartal III (quartal to quartal/q-to-q). Tanpa migas, ekonomi Papua Barat tumbuh 4,30%.

“Kita tahu bersama selama tahun 2020 itu ada pandemi, berbagai upaya difokuskan untuk penanganan pandemi itu,” kata Kepala BPS Papua Barat Maritje Pattiwaellapia dalam konfrensi pers virtual, Jumat (5/2/2021).

Dari sisi lapangan usaha, sambung dia, hampir semua lapangan usaha mengalami pertumbuhan positif pada kuartal IV dibanding kuartal III-2020.

Meliputi, lapangan usaha jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh 6,93%, lapangan usaha penyedia akomodasi dan makan minum tumbuh 5,74%, lapangan usaha perdagangan besar dan eceran tumbuh 4,56%, administrasi pemerintahan tumbuh 4,29%, pertanian tumbuh 3,98%, jasa pendidikan tumbuh 3,91%, jasa keuangan tumbuh 3,26%, real estate tumbuh 3,18%, pengadaan listrik tumbuh 2,88%, jasa perusahaan tumbuh 2,77%, lapangan usaha konstruksi tumbuh 2,04%, lapangan usaha pengadaan air dan pengelolaan sampah tumbuh 1,95% serta lapangan usaha informasi dan komunikasi yang tumbuh hanya 1,91%.

“Pertumbuhan tertinggi disumbang oleh lapangan usaha transportasi dan pergudangan sebesar 25,82%,” jelas Maritje.

“Sedangkan lapangan usaha yang terkontraksi adalah pertambangan dan penggalian -0,12%, serta industri pengolahan -0,40%,” sambungnya.

Dari sisi pengeluaran, kata Maritje, ada sejumlah komponen pengeluaran yang mengalami pertumbuhan positif pada kuartal IV dibanding dengan kuartal III tahun 2020.

Komponen pengeluaran konsumsi pemerintah tumbuh 40,67%, komponen pembentukan modal tetap bruto tumbuh 12,79%, serta komponen pengeluaran lembaga non profit yang melayani rumah tangga sebesar 2,81%.

“Sedangkan komponen pengeluaran yang terkontraksi itu impor luar negeri -80,78%, pengeluaran konsumsi rumah tangga -2,95%, dan ekspor luar negeri -1,39%,” jelas Maritje.

Secara tahunan

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua Barat dengan migas secara tahunan (year on year/yoy) terkontraksi -5,21% yoy jika dibanding kuartal IV tahun 2019 yang tumbuh 8,27% yoy.

Maritje Pattiwaellapia menuturkan, kondisi ini dipicu oleh kinerja sejumlah lapangan usaha yang mengalami kontraksi. Meliputi, jasa konstruksi -16,50% yoy, transportasi dan pergudangan -12,61% yoy, serta penyedia akomodasi dan makakan -7,68% yoy, pertambangan dan penggalian -7,62% yoy serta lapangan usaha pertanian -7,10% yoy.

“Jasa konstruksi terkontraksi paling dalam,” jelas Maritje.

Dari sisi pengeluaran, sambung dia, komponen impor luar negeri terkontraksi paling dalam -83,35% yoy dan ekspor luar negeri -10,84% yoy.

Perlu diketahui bahwa, laju PDRB Papua Barat secara tahunan tanpa migas pada kuartal IV 2020 mengalami kontraksi lebih dalam yakni -7,40% yoy.(PB15)

Berita ini telah terbit di Harian Papua Barat News edisi Senin 8 Februari 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.