Berita Utama

Lampu Hijau Impor Beras

JAKARTA – Kementerian Perdagangan memberi lampu hijau kepada Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk mengimpor beras guna menambah cadangan beras pemerintah yang kian tipis. Hingga kemarin pagi, stok beras yang dikuasai Bulog hanya 553 ribu ton, tak sampai separuh dari target cadangan beras sebanyak 1,2 juta ton pada akhir tahun.

Cadangan beras Bulog tak kunjung bertambah meski Rabu pekan lalu DPR telah meminta Kementerian Pertanian menyiapkan pasokan 600 ribu ton beras untuk diserap perseroan. “Kalau dalam enam hari enggak ada (pasokannya), apa lagi opsinya? Kan Bulog juga sudah ancang-ancang impor,” ujar pelaksana tugas Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Syailendra, kemarin.

Opsi impor, tutur Syailendra, disetujui pemerintah melalui rapat koordinasi terbatas yang dipimpin Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto pada awal November. Kala itu, Bulog ditugasi mengimpor beras sebanyak 500 ribu ton. Hanya, realisasi kebijakan tersebut masih menunggu penyerapan produksi beras di dalam negeri.

Kementerian Pertanian dalam beberapa kesempatan menyatakan Indonesia masih surplus beras, sehingga tidak perlu mengimpor. Namun, hingga kini, serapan Bulog di dalam negeri nyatanya masih jauh panggang dari api.

Karena itu, setelah upaya penyerapan beras lokal yang tak maksimal, Kementerian Perdagangan pun menyetujui permohonan izin impor Bulog. “Sekarang realisasi (penyerapan beras lokal) hanya 35 ribu ton, jauh dari target 500 ribu ton. Jadi, kami sudah clear, lampu hijau untuk impor. Tinggal dieksekusi oleh Bulog, izinnya berlaku tiga bulan,” ujar Syailendra.

Ia mengatakan Kementerian ogah mengambil risiko dari kurangnya cadangan beras Bulog. Musababnya, stok itu diperlukan untuk program ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga (KSPH) demi meredam lonjakan harga. “Jangan bermain-main dengan pangan rakyat, kami mendukung upaya Bulog mengadakan beras untuk menjamin ketersediaan,” tuturnya.

Kedatangan Beras Impor Belum Jelas

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengatakan sebelum pemerintah memutuskan impor, sebetulnya Bulog sudah membeli beras dari luar negeri. “Belinya sudah, impornya belum,” ujar dia.

Hal itu dilakukan, kata dia, karena stok beras Bulog tidak boleh kurang dari 1,2 juta ton. Jika di bawah itu, dampaknya bisa mendorong kenaikan tingkat inflasi pangan. Kondisi ini berbeda dengan komoditas lain, seperti cabai dan bawang. “Kalau harga beras naik Rp 10 saja, pengaruh terhadap inflasinya bisa 3,6 persen. Kalau cabai atau bawang naik, pengaruhnya cuma 0,1 persen,” ujar Zulkifli.

Ketua Umum Partai Amanat Nasional itu mengatakan Kementerian Perdagangan siap meneken perizinan impor jika sudah diperlukan. “Persetujuannya untuk beli barang, sudah keluar. Sekarang tinggal menentukan saja, kapan masuknya. Kalau memang diperlukan Bulog hari ini, besok sudah bisa.”

Adapun hingga kemarin, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat dan Kelembagaan Bulog Tomi Wijaya mengatakan realisasi impor tersebut masih diproses. Ia belum bisa memastikan kapan pasokan beras itu akan masuk ke Tanah Air.

“Intinya, sesuai dengan hasil rakortas, Bulog diperintahkan untuk top-up stok dalam rangka menjaga stabilitas harga beras nasional, dengan memaksimalkan penyerapan dalam negeri dan dari luar negeri,” ujar Tomi.

Dalam rapat bersama DPR pada Rabu pekan lalu, Direktur Utama Bulog Budi Waseso menuturkan rencana impor itu bukan inisiatif Bulog, melainkan penugasan untuk menambah cadangan. Apabila stok tidak ditambah–sementara perseroan masih harus terus menyalurkan KSPH–di akhir tahun stok beras Bulog akan semakin tipis.

“Dalam dua bulan Bulog harus menyalurkan lagi beras KSPH sebanyak 300 ribu ton, sehingga sisa stok (untuk tahun depan) hanya 300 ribu ton,” ujar pria yang kerap disapa Buwas itu. Karena itu, Bulog pun sudah berencana mendatangkan beras impor dengan harga komersial.

Meski demikian, Buwas mengingatkan realisasi impor akan berkejaran dengan waktu, karena pasokan beras di luar negeri juga semakin terbatas. “Banyak negara mulai melarang ekspor. Kalau terlambat, kita enggak bisa dapat barang,” kata Buwas. (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.