Menteri Nadiem Klarifikasi Istilah Tim Bayangan

JAKARTA – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim mengklarifikasi istilah tim bayangan. Tim yang belakangan disebut-sebut sebagai pelaksana program bernama GovTech Edu itu ditengarai merupakan tradisi dan cara lama dengan memboyong orang pilihannya agar bisa bekerja bersama sang menteri.

Dilansir Tempo, diduga orang-orang yang berada di balik GovTech Edu merupakan bagian dari tim yang dulu pernah membantu Nadiem ketika berkiprah di Gojek. “Orang-orang yang dulu membantu di government relationship Gojek kini membantu Nadiem selama jadi menteri,” kata seorang sumber yang pernah mendapat tawaran bergabung dalam GovTech Edu.

Menurut dia, ini merupakan cara lama para menteri dalam memboyong orang-orang kepercayaannya ke dalam satu gerbong. Dia merujuk pada menteri-menteri sebelum Nadiem, para akademikus dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diboyong untuk mengisi jabatan di Kementerian Pendidikan. “Nadiem, kan, dari Universitas IVY League, Amerika Serikat, enggak ada yang mau jadi struktural.”

Tak lama setelah menjabat menteri, Nadiem membentuk tim eksternal dengan mendapat anggaran resmi Kementerian Pendidikan. Ketika itu, mereka menggunakan anggaran dari cash standby—anggaran yang tersedia saat itu. Setelahnya, tim bayangan ini mendapat anggaran sendiri melalui Tim Percepatan Transformasi. Mereka mendapat anggaran melalui rencana kerja dan anggaran kementerian negara atau lembaga (RKA-KL).

Persoalan tim bayangan ini muncul ketika Menteri Nadiem menyebut shadow organization dalam forum United Nations Transforming Education Summit di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York, Amerika Serikat, pada 19 September 2022. Kala itu, Nadiem mengatakan tim bayangan itu beranggotakan 400 orang dan bukan vendor dari kementerian. Mereka bekerja mirroring, yakni membantu direktorat jenderal mengimplementasikan kebijakan melalui platform digital.

Tugas mereka adalah sebagai manajer produk, software engineer, dan data scientist. Tim ini juga akan dimintai bantuan untuk memvalidasi kebijakan melalui survei terhadap guru. Kerja tim eksternal tersebut lantas memicu kritik dari anggota parlemen yang membidangi Komisi Pendidikan. Organisasi masyarakat sipil, termasuk Muhammadiyah, turut mengkritik akuntabilitas dan transparansi perekrutan 400 anggota tim bayangan tersebut. Salah satunya persoalan gaji tim bayangan itu yang tidak pernah diterangkan ke publik.

Nadiem di hadapan anggota parlemen lantas mengaku keliru atas penyebutan tim bayangan. Dia lantas menjelaskan tim yang dia maksud adalah GovTech Edu, anak usaha PT Telkom Indonesia yang berkolaborasi dengan Kemendikbudristek. Anak usaha ini merupakan unit yang didirikan pada 2020 dan berada di balik pembuatan berbagai aplikasi pendidikan di Kementerian Pendidikan.

“Seluruh tim kami adalah tim permanen yang merupakan vendor yang dirumahkan di bawah anak perusahaan Telkom. Di situlah mereka dan memang mereka itu secara teknis adalah vendor. Jadi, jangan ada yang menyebut mereka bukan vendor,” ucap Nadiem pada Senin (26/9/2022).

Nadiem melalui siaran pers sempat menjelaskan bahwa tim GovTech Edu merupakan profesional muda di bidang teknologi. Mereka bertugas menghadirkan beragam platform teknologi gratis untuk masyarakat. “Dan itulah yang sebenarnya dipuji, bukan karena kami mengeluarkan produk platform teknologi, tapi cara kami bekerja bersama,” ujar Nadiem.

Direktur Digital Bisnis PT Telkom Indonesia, Fajrin Rasyid, juga menjelaskan bahwa orang-orang yang bekerja di GovTech Edu merupakan para profesional dari berbagai platform teknologi.

Fajrin pun menunjukkan daftar tim GovTech yang tercantum dalam laman linkedin.com/company/govtechedu/. “Siapa saja bisa cek LinkedIn ini. Banyak veteran (vp atau c level) dari startup (perusahaan rintisan) bahkan unicorn yang ada di sana,” ucap Fajrin ketika dimintai konfirmasi.

Fajrin juga memastikan GovTech Edu merupakan unit independen yang bekerja untuk Kemendikbudristek. Salah satu produk teknologi yang sukses dibangun adalah platform Merdeka Mengajar. Ini merupakan wadah untuk membantu guru dalam mengajar sesuai dengan kemampuan murid, mengakses materi pelatihan mandiri kapan pun dan di mana pun, membantu guru menginspirasi rekan sejawat, serta agar guru terkoneksi dengan banyak komunitas guru di seluruh Indonesia. (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: