Menuju Kenormalan Baru, Pemkab Siap Lakukan Rapid Tes Massal

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Menuju kenormalan baru (new normal), Pemerintah Kabupeten (pemkab) Manokwari melakukan berbagai persiapan. Diantanranya pengadaan masker dan alat rapid tes yang akan dilakukan secara masal.

(Plt) Bupati Manokwari, Edi Budoyo menjelaskan, untuk menyambut kenormalan baru, pemkab Manokwari harus melakukan rapid test secara massal minimal 5.000-7.000 sampel. Meskipun hingga kini Monokwari masih zona kuning dan dalam masa trasisi menuju kenormalan baru maka harus dipersiapkan secara baik.

Ia menjelaskan, saat ini pihaknya telah melakukan pengadaan alat rapid test. Pemeriksaan rapid test secara massal itu akan dikhususkan bagi penduduk yang ber-KTP Manokwari.

“Timbul perdebatan mengapa rapid test di Manokwari bayar, dalam kondisi rapid test yang dilaksanakan oleh Pemkab Manokwari kita harus hadir untuk rakyat dan tidak ada kata membayar. Kecuali rapid test yang dilaksanakan secara mandiri yang dilaksanakan di rumah sakit swasta sedangkan untuk pemda di pusksesmas-puskesmas. Hibah untuk rumah sakit swasta sudah kita recofusing, dan sementara masih digodok. Tidak menutup kemungkinan bisa dibatalkan,” jelasnya Jumat (12/6/2020).

Saat ini Pemkab Manokwari melalui Satgas Covid-19 tengah fokus pada penyembuhan pasien covid yang masih dirawat hingga saat ini.

“Kita masih masa transisi dan belum berani mengatakan new normal. Yang paling penting tiga pasien kita harus sembuh dulu. Total pengadaan rapid test massal sekitar 5.000-7.000, kita pengadaan minimal 5.000,” sebut Edi.

Selain itu, pihaknya juga telah melakukan pengadaan masker. Jumlah masker yang disiapkan akan disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.

Selain itu, pihaknya juga berupaya memberdayakan para penjahit lokal untuk membuat masker yang juga akan dibagikan oleh masyarakat Manokwari.

“Nanti apabila kita akan menuju new normal, maka kita harus mempersiapkan masker yang juga dibagikan kepada penduduk sesuai dengan kemampuan keuangan daerah. Intinya bahwa dalam rangka menuju new normal, semua penduduk yang keluar dari rumah wajib memakai masker,” jelas Edi.

“Kita akan persiapkan sebanyak-banyaknya karena bukan hanya yang ada di kota, tetapi juga yang ada di distrik-disrik dan disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah,” sambung Edi.

Edi menyebutkan, dari total Rp. 92 Miliar, yang khususkan untuk kesehatan sebesar Rp. 46 Miliar, dan diharapkan pandemi Covid-19 segera berakhir dan tidak berkepanjangan, sehingga besaran dananya tidak akan berubah lagi.

“Mau tidak mau, suka tidak suka dengan keterbatasan anggaran kita, mengingat kemampuan keuangan kita juga sangat terbatas, kita harus siap untuk menghadapi new normal. Tetapi kita harus memberdayakan semua komponen yang ada di Kabupaten Manokwari, masyarakat juga harus membantu. Pengawasannya tentunya nanti dilakukan oleh pihak TNI Polri dan Satpol PP,” tegasnya.

Dikatakan Edi, pemkab Manokwari harus siap menghadapi kenormalan baru, dimana saat ini telah memasuki masa transisi dan tidak serta merta menyatakan kenormalan baru. Mengingat Kabupaten Manokwari masih masuk dalam kategori zona kuning.

“Masih ada pasien korona yang dirawat. Nanti kalau seandainya tiga pasien ini berhasil keluar (sembuh), berarti kita bisa menyatakan itu (new normal). Regulasinya akan disusun oleh ketua harian, apakah kita bisa menyatakan bahwa Manokwari adalah daerah, atau tidak,” ungkapnya.

Selain makser dan rapid test massal, Pemkab Manokwari juga harus mempersiapkan tempat karantina terpusat. Sayangnya hingga saat ini pihak pemkab belum bisa menyiapkan tempat karantina tersebut.

Hal tersebut merupakan konsekuensi dari rapid test massal, guna antisipasi apabila berdasarkan hasil pemeriksaan ada sampel yang reaktif (positif).

“Kita harus mempersiapkan tempat karantina terpusat. Masih sementara mencari, tempat penampungan ini memang harus disiapkan. Belum ada fasilitas karantina yang siap,” jelas Edi.

Diketahui bahwa Pemkab Manokwari juga telah memiliki satu unit alat PCR, namum alat tersebut belum bisa diaktifkan karena masih menunggu teknisi yang hingga saat ini masih terkendala akses transportasi.

“Sudah datang satu bulan lalu sebanyak satu unit. Kapasitas untuk pemeriksaan sehari dari swab yang dilakukan sekitar 200 sampel dan itu cukup membantu dalam mengetahui hasilnya karena tidak lagi dikirim ke Makassar,” pungkasnya. (PB19)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: