Berita Utama

Meski Alami Inflasi, Daya Beli Masyarakat Cenderung Stabil

MANOKWARI, papuabaratnews.co Kemampuan daya beli masyarakat terlihat cenderung stabil meskipun terjadi inflasi.

Kepala Disperindagkop dan UKM Manokwari, Rosita Watofa mengatakan, stabilnya kemampuan daya beli masyarakat dapat dilihat dari aktivitas di sektor ekonomi yang masih ramai dan berjalan seperti biasa.

“Daya beli masyarakat terlihat stabil. Dilihat dari kondisi pasar dan pusat perbelanjaan yang masih ramai pengunjung meskipun tidak seramai biasanya sebelum pandemi,” ujarnya kepada Papua Barat News belum lama ini.

Diketahui, selain berdampak bagi sektor kesehatan, pandemi Covid-19 juga sangat berdampak pada sektor ekonomi. Dimana pendapatan per kapita mengalami penurunan.

Sementara untuk menekan inflasi yang terjadi di Manokwari, Rosita mengatakan, pihaknya akan mengunjungi para distributor guna menekan harga.

“Nanti kita akan lihat laporan terkait stok dan selanjutnya kita akan ke distributor perihal harga. Berdasarkan pertemuan dengan BPS, bahwa Kabupaten Manokwari mengalami inflasi cukup tinggi. Inflasi bukan hanya menjadi tugas dari disperindag saja, melainkan juga OPD lain agar saling bersinergi guna menekan kenaikan harga (inflasi),” terangnya.

Hal senada juga diungkapkan Kepala BPS Manokwari, Mustamir. Berdasarkan pantauan BPS, bahwa pada tahap awal (pandemi) masyarakat cukup terkejut. Sehingga pada triwulan pertama kondisi Manokwari anjlok cukup drastis.

“Tetapi pada triwulan kedua ini sudah cukup stabil, keadaan sudah terlihat membaik dan mulai stabil walaupun belum bisa normal seperti semula. Masyarakat terlihat sudah mulai terbiasa sehingga bisa melakukan kegiatan seperti biasanya,” bebernya.

Jika dilihat dari kondisi ini, kata Mustami, beberapa sektor memang mengalami persoalan. Tetapi kegiatan-kegiatan secara umum sudah mulai stabil.

“Kita tidak boleh stagnan. Kita boleh khawatir dengan masalah pendemi, tetapi kita harus bersikap mempertahankan hidup. Artinya masyarakat berupaya untuk melakukan suatu aktivitas sehingga jangan sampai pandemi membuat masalah bagi kehidupan dia (masyarakt),” lanjutnya.

Mustamir menyebutkan pada Agustus 2020, Kabupaten Manokwari mengalami inflasi sebesar 0,49 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 107,74. Dari 90 kota IHK, tercatat 37 kota mengalami inflasi dan 53 kota mengalami deflasi. Kabupaten Manokwari menempati peringkat inflasi ke-6 di Indonesia

Inflasi di Kabupaten Manokwari terjadi dikarenakan adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks pada semua kelompok pengeluaran. Jika dilihat pada Agustus 2020 terhadap Desember 2019, terjadi inflasi sebesar -0,83 persen. Adapun tingkat inflasi dari tahun ke tahun terhitung sejak Agustus 2019-Agustus 2020 sebesar 0,43 persen. (PB19)

***Artikel ini Telah terbit di Harian Papua Barat News Edisi Rabu 9 September 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.