Berita Utama

Mgr Mandagi Diangkat Menjadi Uskup Agung Merauke

  • Ingin Papua Damai

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC (71) diangkat Paus Fransiskus menjadi Uskup Agung Merauke di Papua.

Mandagi yang sebelumnya Uskup Amboina sejak tahun 1994 itu mengabdi melampaui tugas dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin umat Katolik. Di Maluku, ia ikut memadam bara konflik sosial yang meletus dua dekade lalu.

Mengutip Hidupkatolik.com, berdasarkan pemberitahuan resmi dari Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Merauke Pastor Hendrikus Kariwop MSC, pengumuman pengangkatan Mandagi dilansir Tahta Suci di Roma, Rabu (11/11/2020) pukul 12.00 atau pukul 20.00 waktu Merauke. Di Merauke, pengumuman itu dibacakan di Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius Katedral Merauke.

Sebelum diangkat menjadi Uskup Agung Merauke, Mandagi sempat bertugas menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke. Ia menggantikan Mgr. Nicolaus Adi Seputra MSC yang mengundurkan diri sejak 7 Agustus 2019. Sejak saat itu, Mandagi, yang juga Uskup Amboina, sering pulang pergi Papua-Maluku.

Dengan diangkatnya Mandagi sebagai Uskup Agung Merauke, dia akan menetap  di Merauke. Untuk sementara, sambil menunggu pengangkatan Uskup Amboina yang baru, Mandagi masih bertanggung jawab atas Keuskupan Amboina.

Mandagi mulai bertugas sebagai Uskup Amboina setelah menggantikan Uskup Andreas Sol MSC. Selama 26 tahun terakhir, Mandagi yang berasal dari Minahasa, itu banyak berkiprah untuk urusan sosial kemanusiaan di Keuskupan Amboina, yang meliputi Maluku dan Maluku Utara.

Peran Mandagi yang paling terasa adalah menjadi salah satu tokoh perdamaian kala Maluku dilanda konflik sosial bernuansa agama pada tahun 1999. Oleh banyak kalangan di Maluku, Mandagi dianggap sebagai “Bapak” orang Maluku. Kendati populasi umat Katolik tak lebih dari 10 persen, suara Mandagi sangat  didengar di sana.

Ingin Papua damai

Dalam kesempatan wawancara dengan wartawan beberapa waktu lalu di Ambon, Mandagi menyatakan ingin membawa kedamaian di tanah Papua. Ia prihatin dengan banyaknya kekerasan di sana. “Kedamaian itu bisa hadir kalau ada kasih sayang dan pengampunan,” ujar Mandagi.

Rektor Universitas Cenderawasih Jayapura, Apolo Safanpo menyampaikan selamat dan bersyukur karena akhirnya Keuskupan Agung Merauke memiliki seorang uskup yang definitif. Ia berharap, Uskup Mandagi dapat lebih dekat dengan umat dan selalu menyuarakan aspirasi masyarakat dalam tugas pelayanannya di Merauke.

Ia pun menyatakan menyatakan gereja Katolik di Papua terkenal dengan pelayanan kesehatan dan pendidikan untuk pembangunan kualitas manusia.

“Kami berharap Uskup Mandagi tidak hanya melakukan tugas pewartaan tapi juga fokus pada program pendidikan dan kesehatan di wilayah kerja Keuskupan Merauke, ” harap Apolo.

Selama menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke, Mandagi beberapa kali mendampingi umat Katolik yang menjadi korban pelanggaran HAM. Salah satunya, pemukulan yang diduga dilakukan oknum polisi terhadap Marius Betera, warga, di perkebunan sawit di Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel, Papua, pada 16 Mei 2020. Beberapa jam setelah peristiwa tersebut, Marius meninggal.

Terbaru, Uskup Mandagi bersama Uskup Agats Mgr Aloysius Murwito dan Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, Minggu (1/11/2020), mengadakan pembicaraan dengan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD.

Pertemuan yang diadakan di kediaman Mahfud MD tersebut, membahas berbagai permasalahan yang tengah melanda Papua. Salah satunya adalah laporan tentang serangkaian penembakan yang diduga dilakukan oleh oknum TNI terhadap Pendeta Yeremia Zanambani di Distrik Hitadipa Kabupaten Intan Jaya, 19 September 2020, dan katekis Rufinus Tigau di Kampung Jalae, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, 26 Oktober 2020.

Uskup Mandagi mengatakan para Uskup Indonesia, prihatin dengan situasi tersebut. Meski dia mengatakan tidak ada kasus khusus yang dibahas. Namun ia mengaku pembicaraan difokuskan pada penderitaan yang ditimbulkan oleh kekerasan, baik pada warga sipil setempat maupun pada pasukan keamanan.

“Dialog yang lebih luas dengan masyarakat Papua dapat membantu meredakan ketegangan. Gereja Katolik selalu terbuka untuk berdiskusi,” ujarnya dikutip Vatican News.

“Orang Papua itu orang baik,” lanjut Mandagi. “Semua orang termasuk militer, polisi, dan pekerja gereja yang datang ke Papua tidak boleh memandang rendah mereka. Kita semua perlu menyelesaikan masalah Papua dengan dialog, dengan menghormati orang Papua dan tanpa kekerasan,” paparnya.

Uskup Mandagi mengungkapkan harapannya untuk menghentikan kekerasan.“Kami ingin Papua menjadi tanah cinta, bukan medan perang,” pungkasnya. (PB1)

**Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Kamis 12 November 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.