Berita UtamaEKONOMIInforial

Oktober 2020, Papua Barat Kembali Catat Deflasi

MANOKWARI, papuabaratnews.coBadan Pusat Statisik (BPS) mencatat Provinsi Papua Barat kembali mengalami deflasi sebesar 0,87 persen (month to month/mtm) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 102,80 pada Oktober 2020. Hal ini disebabkan oleh penurunan harga sejumlah komoditas di dua kota IHK yaitu Sorong dan Manokwari. Untuk Kota Sorong terjadi deflasi 0,61 persen (mtm) dan Kota Manokwari deflasi 1,81 persen (mtm).

“Oktober ini mengalami deflasi yang cukup dalam dibandingkan bulan sebelumnya mulai dari Agustus (deflasi 0,15 persen), September (deflasi 0,47 persen) dan Oktober ini,” ujar Kepala BPS Papua Barat Maritje Pattiwaellapia, saat menggelar konferensi pers virtual, Senin (2/11/2020).

“Kita berharap tidak terjadi deflasi terus menerus, karena akan berdampak ke daya beli masyarakat,” kata dia menambahkan.

Ia melanjutkan secara tahunan (year on year/yoy) atau Oktober 2020 terhadap Oktober 2019, Papua Barat mengalami deflasi 0,22 persen dan tingkat inflasi tahun kalender (Oktober 2020 terhadap Desember 2019) juga mengalami deflasi 1,06 persen.

Ia menjelaskan deflasi terjadi karena 7 dari 11 kelompok pengeluaran mengalami penurunan indeks. Meliputi kelompok transportasi -2,21 persen, kelompok makanan dan minuman -1,55 persen, kelompok pakaian dan alas kaki -1,03 persen, kelompok perumahan -0,14 persen, kelompok perawatan pribadi -0,23 persen, kelompok rekreasi -0,05 persen dan kelompok kesehatan -0,01 persen.

Sedangkan 4 kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi adalah kelompok pemiliharaan rutin rumah tangga 0,19 persen, kelompok informasi dan jasa keuangan 0,01 persen, kelompok pendidikan 0,03 persen dan kelompok penyedia makanan 0,00 persen (tidak mengalami perubahan).

“Kelompok transportasi ini mengalami penurunan cukup dalam,” kata Maritje.

Ia menerangkan bahwa dari 90 kota IHK di Indonesia, terdapat 24 yang mengalami deflasi dan 66 kota terjadi inflasi. Kota Manokwari menjadi kota yang mengalami deflasi tertinggi, sedangkan deflasi terendah terjadi di Kota Surabaya sebesar 0,02 persen dengan IHK 104.03.

Sementara di kawasan Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulampua), ada 13 kota mengalami deflasi dan 8 kota terjadi inflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Palu sebesar 0,41 persen dengan IHK 106,42 dan inflasi terendah terjadi di Bulukumba sebesar 0,08 persen dengan IHK 106,14. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Manokwari sebesar 1,81 persen IHK 105,12 dan deflasi terendah terjadi di Tual sebesar 0,09 persen dengan IHK 105,62.

Komoditas penyumbang deflasi

Ada lima komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya deflasi di Kota Sorong dan Kota Manokwari.

Maritje Pattiwaellapia menjelaskan komoditas penyumbang deflasi di Kota Manokwari adalah angkutan udara -0,8 persen, ikan cakalang -0,43 persen, ikan mumar -0,21, tomat -0,16 dan ikan ekor kuning -0,15.

“Sedangkan di Kota Sorong itu ikan mumar, ikan kembung, ikan teri dan daging ayam. Jadi itu beberapa komoditas yang mendorong deflasi pada Bulan Oktober,” tutur Maritje.(PB15)

**Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News edisi Rabu 4 November 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.