Berita UtamaEKONOMIInforial

Ekspor Papua Barat Kembali Merosot

  • Ekspor migas turun 11,87 persen

 

MANOKWARI, papuabaratnews.co Pandemi Covid-19 yang belum berakhir memberikan dampak negatif terhadap kinerja ekspor Provinsi Papua Barat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor pada Juli 2020 tercatat 120,37 juta dolar AS. Jumlah ini mengalami penurunan sebesar 11,20 persen (month to month/mtm) apabila dibandingkan dengan nilai ekspor pada Juni 2020 yakni 135,35 juta dolar AS.

Secara tahunan (year on year/yoy) juga mengalami kemerosotan sebesar 28,98 persen, jika dibandingkan dengan Juli 2019 yang tercatat 169,47 juta dolar AS.

“Ekspor Bulan Juli 2020  turun 11,20 persen (mtm) dan tahunan pun turun 28,98 persen (yoy),” ujar Kepala BPS Papua Barat, Maritje Pattiwaellapia, saat menggelar konfrensi pers secara virtual, Selasa (1/9/2020).

Ia menerangkan, perkembangan ekspor Papua Barat di tahun 2020 terus mengalami penurunan jika dibandingkan dengan realisasi ekspor tahun 2019 lalu. Ekspor pada Januari 2020 tercatat 180,9 juta dolar AS atau turun 26,22 persen  (mtm) jika dibandingkan dengan ekspor pada Desember 2019. Pada Februari 2020 nilai ekspor turun menjadi 156,9 juta dolar AS. Nilai ekspor ini terus menurun pada Maret 2020 menjadi 119,6 juta dolar AS atau turun sebesar 23,81 persen (mtm). Namun, pada April 2020 nilai ekspor cukup meningkat menjadi 176,9 juta dolar AS dan Mei 2020 kembali turun menjadi 169,5 juta dolar AS. Kemudian, nilai ekspor Juni 2020 turun menjadi 135,35 juta dolar AS dan terus mengalami penurunan pada Juli 2020.

“Dari Januari sampai Bulan Juli ini nampaknya terus mengalami penurunan,” terang Maritje.

Total ekspor Papua Barat menurut sektor, kata dia, masih didominasi oleh minyak dan gas (Migas). Hal ini tergambar dari realisasi ekspor migas mencapai 115,64 juta dolar AS atau 96,07 persen dari total ekspor Papua Barat pada Juli 2020. Sedangkan ekspor non migas hanya 4,73 juta dolar AS atau 3,93 persen dari total ekspor.

“Migas mengalami penurunan -11,87 persen (mtm) dan turun -30,15 persen (yoy). Namun, nonmigas mengalami kenaikan 9,20 persen (mtm) dan 20,96 persen (yoy),” tutur dia.

Tiongkok tujuan ekspor terbesar

BPS mencatat, Tiongkok maish menjadi negara tujuan ekspor terbesar Papua Barat dengan nilai mencapai 75,09 juta dolar AS atau 62,39 persen. Kemudian, Korea Selatan sebesar 21,47 juta dolar AS atau 17,84 persen dari total ekspor Papua Barat. Disusul Jepang sebesar 8,86 juta dolar AS atau sekitar 7,21 persen, Taiwan sebesar 7,08 juta dolar AS atau 5,88 persen. Mexico mencapai 4,30 juta dolar AS atau 3,57 persen, Malaysia mencapai 2,16 juta dolar AS atau 1,80 persen dan Papua Nugini mencapai 1,05 juta dolar AS atau 0,87 persen. Sisanya ada negara India, Hong Kong, Timor Leste, Singapore dan lainnya.

“Komoditas yang diekspor ke Tiongkok adalah bahan bakar mineral, garam, belerang, kapur, ikan dan udang,” kata Maritje Pattiwaellapia.

94,45 persen ekspor dari Pelabuhan Bintuni

Maritje menjelaskan, ekspor Papua Barat pada Juli 2020 melalui empat pelabuhan laut dan satu pelabuhan udara. Ekspor terbesar Papua Barat berasal dari pelabuhan laut Bintuni dengan nilai 113,68 juta dolar AS atau 94,45 persen dari total nilai ekspor Papua Barat. Disusul oleh pelabuhan laut Manokwari sebesar 2,59 juta dolar AS atau 2,15 persen, dan pelabuhan laut Sorong sebesar 1,96 juta dolar AS atau 1,63 persen.

“Sedangkan ekspor dari pelabuhan udara Soekarno-Hatta sebesar 1,11 juta dolar AS (0,92 persen), dan pelabuhan laut Tanjung Perak sebesar 1,03 juta dolar AS (0,86 persen),” pungkas dia. (PB15)

**Artikel ini telah terbit di Harian Papua Barat News, edisi Jumat 4 September 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.