Berita Utama

Panglima TNI Sebut Semua Prajurit Sudah Kembali

JAKARTA – Panglima TNI Laksamana Yudo Margono mengeklaim seluruh prajurit TNI yang diserang di Nduga, Papua Pegunungan, telah diketahui nasibnya. Selain lima yang gugur dan sebagian yang dirawat akibat trauma, sisanya telah kembali ke pos masing-masing.

Dalam kejadian di Nduga pada Sabtu (15/4/2023), ada sebanyak 36 prajurit yang diserang Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) di di Mugi-Mam, Nduga. Pasukan itu terdiri atas personel Satgas Yonif Raider 321/Galuh Taruna serta sejumlah anggota pasukan elite Kopassus.

Pada Minggu (23/4/2023), Mabes TNI mengumumkan satu jenazah prajurit yang dibunuh dalam penyerangan itu sudah ditemukan dan di evakuasi. Dengan begitu, total ada lima prajurit gugur dalam peristiwa tersebut.

Sebelumnya, menurut Mabes TNI, 16 prajurit juga sudah dievakuasi. Tujuh di antaranya mengalami trauma sehingga harus dirawat. Sementara 10 dalam keadaan sehat dan sadar. Bagaimana dengan belasan prajurit lainnya?

“Mereka sudah kembali ke posnya masing-masing,” ujar Panglima TNI seusai rapat di Istana Wakil Presiden, Rabu (26/4/2023). Ia menyatakan, sudah tak ada lagi korban dari pihak TNI yang dicari dan tak ada tambahan jumlah korban meninggal.

“Enggak (ada tambahan korban), kemarin sudah disampaikan Pak Kapuspen,” kata Panglima. Pernyataan Panglima TNI itu sekaligus menyangkal klaim TPNPB yang mengaku telah menewaskan 15 prajurit TNI dalam serangan.

Kejadian penyerangan itu terkait dengan upaya pembebasan terhadap pilot Susi Air berkewarganegaraan Selandia Baru, Kapten Philips Mark Mehrtens. Pilot itu disandera TPNPB-OPM sejak 7 Februari 2023.

Atas penyerangan yang menewaskan lima prajurit TNI itu, Panglima TNI memerintahkan dilakukan operasi siaga tempur di Nduga. Sejak Kapten Philip disandera, sudah delapan prajurit TNI gugur dibunuh TPNPB.

Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono menegaskan, status siaga tempur TNI di Papua bukan sebagai operasi militer. Yudo mengatakan, status siaga tempur yang dimaksud adalah bentuk kesiagaan pasukan TNI untuk menghadapi serangan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di daerah rawan Papua.

“Itu kan bukan operasi militer, siaga tempur itu kan supaya pasukan kita sendiri siaga kalau suatu waktu-waktu diserang TNI kan harus selalu siaga pasukan waktu-waktu walaupun melaksanakan operasi,” ujar Yudo.

Namun demikian, penetapan siaga tempur ini, kata Yudo, bukan berarti sebelumnya TNI tidak siaga. Menurut mantan kepala staf TNI Angkatan Laut ini, yang dilakukan TNI adalah operasi teritorial dan operasi komunikasi sosial karena tingkat kerawanannya tidak tinggi.

Akan tetapi lanjut dia, status siaga tempur ditetapkan khusus daerah-daerah tertentu yang kerawanan tinggi, “Ya kita tekankan lagi kepada mereka untuk siaga tempur. Itu kan penekanan, bukan operasi militer, jadi jangan diplesetkan itu operasi militer, bukan belum operasi militer. Siaga tempur itu untuk menumbuhkan naluri militer pada para prajurit,” ujarnya.

Sementara itu, tentang perkembangan pembebasan sandera pilot Susi Air, aparat TNI masih terus melakukan pencarian. “Kita masih mencari baik melalui pemerintah daerah, tokoh agama, sampai sekarang kan. (Tempatnya) masih belum. Kami masih cari di daerah Nduga,” ujarnya.

Sementara itu, TPNPB-OPM kembali melansir video yang menunjukkan Kapten Philip pada Rabu (26/4/2023). Ia tampak mengenakan kaus dan celana pendek. Kualitas video tersebut tak begitu jernih, tapi suara Kapten Philips terdengar jelas. Ia mengatakan, video direkam pada Senin (24/4/2023).

“Sekarang sudah hampir tiga bulan OPM tangkap saya di Paro. Saya masih hidup, masih sehat. Makan dan minum dengan baik,” kata dia dengan bahasa Indonesia yang fasih dalam video tersebut. Ia juga mengeklaim bahwa pasukan TNI-Polri telah menjatuhkan bom di sekitar lokasi ia disandera.

“Jadi, tidak usah lepas bom karena bahaya buat saya dan orang-orang di sini,” kata Kapten Philips. Ia terlihat diapit dua anggota TPNPB saat memberikan keterangan tersebut.

Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz Kombes Pol Donny Charles Go membantah kesaksian tersebut. Menurut dia, satgas tak menggunakan bom dalam proses pencarian pilot Susi Air. “Anggota kami di lapangan tidak dibekali dengan senjata itu,” kata Donny. (REP)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.