Berita UtamaInforial

Papua Barat Tunggu Petunjuk Vaksinasi Covid-19

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Pemerintah Provinsi Papua Barat masih menunggu petunjuk pemerintah pusat terkait pemberian vaksin atau vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat.

Juru bicara Pemerintah Provinsi Papua Barat pada Percepatan Penanganan Covid-19 Arnoldus Tiniap mengatakan, hingga saat ini belum ada surat edaran yang diterima dari pusat terkait pelaksanaan vaksinasi tersebut.

“Namun dari referensi yang kita baca, intinya yang harus dipastikan adalah jumlah sasaran. itu dihitung dari jumlah penduduk setiap daerah,” ucap Tiniap di Manokwari, Senin (2/11/2020).

Dia menyebutkan jumlah penduduk Papua Barat saat ini sekitar 1,3 juta jiwa. Karena itu pemberian vaksin tidak harus dilakukan terhadap 100 persen penduduk. Bisa dilakukan terhadap 70 hingga 80 persen penduduk di daerah.

Menurut Tiniap hal itu bisa menjadi referensi sementara sebagai gambaran untuk pelaksaan vaksinasi di Papua Barat.

“Namun tetap kita harus menunggu petunjuk pusat, karena ini menyangkut pembiayaan dan beberapa hal prinsip lainya,” katanya.

Arnold mengutarakan kasus Covid-19 di Papua Barat masih terus berambah. Sambil menanti ketersediaan vaksin masyarakat diminta tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

“Protokol kesehatan adalah cara paling efektif untuk mencegah penularan. Jangan sampai lengah, Covid-19 sudah menyebar di mana-mana,” katanya menambahkan.

Sesuai data Satgas Covid-19, pada Senin (2/11/2020), jumlah warga yang terpapar virus korona di Papua Barat tercatat sebanyak 4.189 orang. Dari jumlah itu 3.655 di antaranya berhasil sembuh dan 66 orang meninggal dunia.

Tunggu ijin edar

Sementara itu, Kepala Divisi Unit Klinik dan Vaksinasi Bio Farma Mahsun Muhammadi mengatakan penggunaan vaksin untuk kepentingan darurat tidak berarti mengabaikan aspek keamanan, efikasi, dan mutunya. Kalaupun vaksin Covid-19 sudah ada, penggunaannya harus menunggu izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan.

”Produk vaksin Covid-19 buatan Sinovac di China kemungkinan sudah ada November-Desember nanti. Tetapi, penyuntikannya menunggu BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Kalau mau cepat harus menggunakan skema penggunaan untuk darurat (emergency use authorization/EUA),” kata Muhammadi dikutip Kompas.id.

Sementara vaksin Sinovac yang akan diproduksi Bio Farma masih harus menunggu uji klinis fase tiga, yang laporan awalnya baru ada pada Januari 2021, sedangkan laporan lengkap baru ada pada Maret-April mendatang. ”Kapasitas produksi vaksin Covid-19 Bio Farma bisa 250 juta dosis per tahun,” lanjutnya.

Mahsun mengatakan, di seluruh dunia belum ada yang memakai vaksin Covid-19 secara massal. ”Walaupun ada sejumlah negara menggunakan EUA, dengan jumlah terbatas untuk tenaga medis dan tentara, seperti di China. Sejauh ini belum ada laporan efek samping yang dilaporkan. Tetapi ini vaksin baru, jadi harus tetap dipantau,” tuturnya. (ANT/KOM/RED)

**Artikel ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Selasa 3 November 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.