Berita Utama

Pemerintah Didorong Mengubah Pendekatan di Papua

JAKARTA – Konflik bersenjata di Papua dinilai menjadikan rakyat sipil, terutama perempuan dan anak-anak, menjadi korban utama. Oleh karena itu, pemerintah diminta untuk membuat pendekatan yang berbeda agar konflik ini bisa diredam. Pendekatan keamanan tidak saja bisa memicu kekerasan, tetapi juga tidak efektif serta dapat menjatuhkan nama Indonesia di mata internasional.

Pengamat militer Made Supriatma, Kamis (20/4/2023), dalam diskusi berjudul ”Siaga Tempur dan Ancaman Keamanan serta Perdamaian di Papua”, menuturkan, saat ini Organisasi Papua Merdeka (OPM) sudah memasuki generasi ketiga. Mereka tidak lagi berharap pada mesias yang akan membebaskan Papua seperti generasi pertama. Mereka telah banyak belajar dan memilih jalan politik sebagai perjuangan. Oleh karena itu, pemerintah harus piawai memilih strategi agar tidak kalah dalam mata dunia internasional.

Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Muhammad Isnur juga mengatakan, sudah saatnya pemerintah membuat pendekatan yang komprehensif dalam mengatasi masalah Papua. Pendekatan ini harus mulai dari tataran regulasi bahkan undang-undang. Ia mempertanyakan, ada sekitar 10.000 pasukan yang dikirimkan ke Papua tanpa adanya undang-undang yang mendasari gerak mereka.

Padahal, Undang-Undang TNI menyebutkan pergerakan pasukan boleh dilakukan atas dasar perintah presiden dan jika ada kekerasan bersenjata. Namun, operasi militer ini dinilai tidak melalui prosedur yang ada dan ilegal secara undang-undang.

Konflik ini secara diplomasi dianggap merugikan Indonesia dan banyak nyawa rakyat dan prajurit yang terkorbankan. Namun, yang paling terkorbankan ialah rakyat yang setiap usai ada korban prajurit akan mengungsi karena takut pada eskalasi kekuatan militer. ”Kami merasa tidak aman di Maybrat, rasanya seperti perang terus,” kata Lamberti Faan, koordinator korban pengungsi Maybrat.

Lamberti mengatakan, kehadiran aparat, terutama TNI, membuat rakyat jadi merasa terintimidasi. Markas Koramil Kisor di Maybrat pada 2 September 2021 diserang. Empat prajurit TNI gugur dalam peristiwa tersebut. ”Kami trauma lihat seragam Polri dan TNI. Lihat bajunya saja orang-orang tua di kampung sudah takut,” katanya.

Ia juga mengatakan, sejak konflik itu, semakin banyak aparat di Maybrat dan membangun banyak pos militer. Para aparat ini beralasan kehadiran mereka untuk pembangunan dan keamanan. Padahal, Lamberti mengatakan, masyarakat merasakan sebaliknya. Saat ini, masyarakat dan para pengungsi dihadapkan pada kenyataan gereja dan sekolah dipakai sebagai tempat militer. Selain itu, mereka juga sulit sekolah dan mendapat layanan kesehatan.

Ester Haluk dari perwakilan Gereja Kingi juga menyoroti perempuan dan anak-anak yang menjadi korban utama konflik. Ia mengatakan, perempuan banyak yang kurang gizi, padahal mereka juga beberapa dalam keadaan sakit dan hamil. Akibatnya, anak-anak terutama yang bayi dan di bawah tiga tahun juga tidak tertangani dengan baik. ”Saya lihat sendiri selimut untuk bayi saja tidak ada jadi bayi banyak yang sakit,” kata Ester.

Empat jenazah prajurit

Empat jenazah Prajurit TNI korban kontak tembak dengan Kelompok Separatis Teroris Papua pada Sabtu (15/4/2023) tiba di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, dan Bandara Adisoemarno, Solo, pada Kamis (20/4) sore.

Jenazah Pratu Kurniawan, Pratu Ibrahim, dan Prada Syukra tiba di Lanud Halim Perdanakusuma. Jenazah mereka disambut Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono didampingi Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo, Kepala Staf TNI AD Jenderal Dudung Abdurachman, Panglima Konstrad Letnan Jenderal Maruli Simanjuntak, serta pejabat TNI lainnya. Hadir pula Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Kepala Pusat Penerangan TNI Laksamana Pertama Julius Widjojono mengatakan, jenazah diberangkatkan dari RSUD Timika, Kabupaten Mimika, Papua, menggunakan pesawat jenis Hercules. Satu jenazah atas nama Pratu Miftahul Arifin diturunkan di Bandara Adisoemarmo Solo, Jawa Tengah.

Kepala Bidang Penerangan Umum Puspen TNI Kolonel (Sus) Aidil mengatakan, tiga jenazah yang tiba di Lanud Halim Perdanakusuma kemudian melanjutkan lagi penerbangannya sesuai daerah asal almarhum. Jenazah Almarhum Pratu Ibrahim diterbangkan ke Palembang, jenazah almarhum Prada Syukra diterbangkan ke Padang menggunakan pesawat CN-295, sedangkan jenazah almarhum Pratu Kurniawan diberangkatkan menuju Karawang, Jawa Barat, menggunakan ambulans. (KOM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.