Berita Utama

Pemkab Akan Kembangkan Kopi di Mokwam

MANOKWARI, papuabaratnews.coPemkab Manokwari akan mengembangkan komoditi kopi di daerah dataran tinggi Mokwam, Distrik Warmare. Lahan yang disiapkan untuk pengembangan kopi jenis arabika yakni seluas 27 hektare.

“Kami bersama Bappeda bekerjasama untuk kembangan kopi disana. Dalam waktu dekat kami akan turun lapangan lagi untuk tatap muka dengan masyarakat disana, terkakit kampung mana yang bisa kita jadikan lokasi pengembangan,” jelas Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Manokwari, Yoseph D. Kinho , Rabu (16/12/2020).

Selain kopi, pihaknya juga akan mengembangkan komoditi kelapa dalam, dan sudah mulai digalakkan saat ini di Distrik Sidey, yang juga sudah ditetapkan sebagai wilayah sentra produksi kelapa dalam. Tahun ini pihaknya juga telah memprogramkan kegiatan pemeliharaan kebun di Distrik Sidey untuk luasan 35 hektar.

“Kami sudah melakukan pengembangan maupun kegiatan pemeliharaan. Tahun depan jika tidak ada halangan kami akan terus melakukan kegiatan pemeliharaan,” pungkasnya.

Diketahui beberapa waktu lalu pemkab Manokwari melalui kegiatan forum group discussion (FGD) Rencana aksi pengembangan kawasan, berencana untuk mengembangan beberapa wilayah yang masuk kategori tertinggal di wilayah kabupaten Manokwari.

Berdasarkan Permendesa No. 5 Tahun 2016 tentang pembangunan kawasan perdesaan, pemerintah kabupaten diharapkan mendorong pengembangan kawasan dalam sebuah distrik atau kecamatan sesuai dengan tematik kawasan pada wilayah tersebut, dalam upaya mempercepat dan meningkatkan kualitas pelayanan dan pemberdayaan masyarakat desa serta untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi pada beberapa distrik yang dikategorikan tertinggal.

Kawasan yang menjadi perhatian khusus pengembangan oleh Pemkab Manokwari Yakni Distrik Manokwari Utara, Distrik Tanah Rubuh, kawasan Mokwan Distrik Warmare.

Kepala Bappeda Manokwari, Tajuddin mengatakan, Papua Barat khususnya Manokwari  memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan. Selama ini potensi yang ada sudah mulai berkembang tetapi belum terkelola dengan baik. Untuk itu, pihaknya merencanakan membuat suatu perencanaan yang terpadu. Dimana semua OPD teknis terlibat di dalamnya dan mempunyai tujuan yang sama.

“Bahwa dalam pengembangan satu kawasan adalah orientasinya ekspor,” jelasnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Ia menyebutkan, salah satu komoditas yang berpotensi untuk dikembangkan di Manokwari yakni kopi khususnya kopi dataran tinggi dan beberapa komoditi unggulan lainnya.

Dikatakan Tajuddin, jika semua dapat dikelola dengan baik, maka dapat mengangkat perekonomian Manokwari yang selama beberapa tahun ini menurun. Selain itu juga dapat meningkatkan lapangan pekerjaan guna menyerap tenaga kerja, sehingga dapat mengurangi angka pengangguran.

“Karena kita akan menggarap dari hulu sampai ke hilir hingga ke pemasarannya dan akan terintegrasi dengan pariwisata. Dari kakao, kopi, pisang, kita bisa olah sebagai bahan souvenir. Permintaan dari negara-negara juga sangat tinggi, yang penting kita bisa mengolah dengan memperhatikan mutu, produksi secara kontinu. Peluang ekspornya sangat besar,” ungkapnya.

Ada empat kawasan yang dianggap masih cukup tertinggal, yakni Distrik Sidey, Distrik Tanah Rubuh, Distrik Manokwari Utara dan Distrik Warmare.

“Ini prioritas kami, yang dianggap tertinggal ini yang kami fokuskan,” jelasnya lagi.

Pemkab Manokwari musti melakukan pendampingan secara terus menerus, mulai dari pemilihan benih hingga proses ekspor. Dimana dalam ekspor harus ada ijin dan sertifikasi,  sehingga diharapkan perusahaan daerah dapat berperan bagaimana mengelola untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, desa tertinggal menjadi desa berkembang dan mandiri.  Sehingga akan menjadi daya saing Kabupaten Manokwari dibandingkan kabupaten lain.

“Dan kita akan mendapat dukungan dari pusat terutama kakao yang diharapkan bisa sampai di proses hilirisasi. Harapannya untuk komoditi perkebunan yaitu pisang dua tahun sudah bisa ekspor, kopi di tahun kelima karena kopi dengan menggunakan jenis yang bersertifikasi pasti tiga tahun sudah bisa ekspor, asalkan dirawat dengan baik. Kita harus bisa ekspor,” pungkasnya. (PB19)

**Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Kamis 17 Desember 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.