Berita Utama

Pemkab Berupaya Kembalikan Citra Manokwari sebagai Kota Buah

MANOKWARI, papuabaratnews.co Pemerintah Kabupaten Manokwari melalui Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan tengah berupaya mengembalikan citra Manokwari yang dulunya dikenal dengan sebutan ‘Kota Buah’.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura, Andre Pattikawa menuturkan, pihaknya telah melakukan pengembangan tanaman buah-buahan, melalui bibit unggul yang telah dibagikan kepada para petani.

Menurutnya, pemerintah telah berupaya untuk mengembalikan citra Manokwari sebagai kota buah, tetapi semua kembali kepada petani. Bagaimana mereka (petani) bisa serius memanfaatkan apa yang sudah diberikan oleh pemerintah.

“Ada pengembangan rambutan dan durian. Kemarin kita kembangkan secara tersebar, mulai dari Tanah Rubuh, Manokwari Selatan, Manokwari Utara, Sidey. Ribuan bibit yang kita sebarkan,” ungkapnya, rabu (6/1/2021).

Dijelaskan Andre, bibit yang diberikan merupakan bibit hasil okulasi sehingga proses pembuahannya lebih cepat jika dibandingkan bibit tanpa okulasi. Adapun bibit yang telah dibagikan atau disebar tahun lalu sebanyak ribuan pohon. Terdiri dari bibit mangga gadung (daging) sebanyak 2.700 pohon dan rambutan okulasi sebanyak 2.200 pohon. Sehingga para petani diharapkan dapat merawat bibit tersebut dengan baik, sehingga

“Sekira 3-4 tahun lagi bibit tersebut dapat menghasilkan buah yang berkualitas,” katannya.

Meskipun telah diberikan bibit, namun diakui Andre bahwa belum semua petani dapat menjaga dan merawat bibit tersebut. Bahkan tak jarang sebagian petani masih membeli bibit dari orang lain.

Dikatakan Andre, potensi tanaman buah di Manokwari masih cukup tinggi. Contohnya harga rambutan di Manokwari saat ini di banderol dengan harga yang cukup mahal, yakni Rp. 50 ribu per Kg. Harga tersebut jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan harga buah rambutan di daerah lain seperti di Jawa yang hanya Rp. 6.000 ribu hingga Rp. 7.000 ribu per Kg.

Hal ini membuktikan bahwa harga buah-buahan dipasaran khususnya buah-buahan lokal masih sangat tinggi.

“Mereka belum melihat peluang ini. Menjadi tantangan kita semua, untuk bagaimana memberikan mereka pemahaman,” paparnya.

Sementara itu, untuk kualitas buah-buahan sangat dipengaruhi oleh benih (bibit). Jika berasal dari bibit unggul pasti kualitasnya bagus, karena dasar dari kualitas adalah bibit.

“Yang kita sebarkan selama ini adalah kualitas unggul, termasuk mangga. Tetapi kenyataannya yang ada dipasaran sebagian besar adalah manga dari luar. Padahal kalau mereka (petani) bisa merawat dengan baik pasti bisa memproduksi sendiri,” kata dia menambahkan.

Diakui Andre, pengawasan yang dilakukan cukup terbatas yakni hanya sampai tanaman itu tumbuh. Untuk pengawasan hingga tanaman itu berbuah, merupakan tugas dari petani itu sendiri.

Bibit yang dibagikan merupakan bibit unggul dari luar Manokwari yang telah terjamin kualitasnya. Menurutnya, tidak semua petani tertarik untuk merawat tanaman buah-buahan.

“Ada sebagian yang senang merawat. Contohnya seperti daerah Sidey, Warikon, para petani lokal di sana merawat bibit yang diberikan, salah satunya dengan membuatkan pagar untuk tanaman tersebut. Karena hama tanaman terbesarnya adalah babi, sapi,” ungkapnya.

“Kita akan melihat dampaknya 3-4 tahun lagi, sekitar tahun 2024. kalau ada banjir buah berarti dari daerah-daerah itu. Kalau tidak banjir (buah) berarti mereka tidak merawat bibit tersebut,” pungkasnya. (PB19)

**Berita ini telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Kamis 7 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.