Berita UtamaEKONOMIInforial

Permintaan Dunia Turun, Ekspor Papua Barat Merosot

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Permintaan dunia internasional yang mengalami penurunan, memicu nilai ekspor Provinsi Papua Barat merosot hingga 13,83 persen (month to month/mtm) pada Mei 2021. Secara tahunan, ekspor juga turun 17,33 persen (yoy).

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat Maritje Pattiwaellapia mengatakan, penurunan tersebut selaras dengan kinerja ekspor nasional yang juga turun 10,25 persen dibanding bulan sebelumnya.

Hal ini disebabkan oleh melonjaknya kasus Covid-19 varian delta di sejumlah negara yang mengakibatkan aktivitas masyarakat kembali dibatasi, bahkan ada negara melakukan lockdown. Termasuk negara mitra dagang Papua Barat seperti China, Malaysia, Singapura dan Jepang.

“Ini yang membuat permintaan terhadap barang dan jasa ekspor dari Indonesia mengalami penurunan,” kata Maritje saat dikonfirmasi Papua Barat News melalui Whatsapp, Rabu (7/7/2021).

Dia menjelaskan, ekspor Papua Barat baik minyak dan gas (Migas) maupun non migas mengalami penurunan.

Realisasi ekspor migas hanya 136,93 juta dolar AS lebih rendah dibandingkan periode April 2021 yang mencapai 154,17 juta dolar AS, atau mengalami penurunan -11,18 persen (mtm) dan -16,55 persen (yoy).

Sedangkan ekspor non migas hanya 3,20 juta dolar AS lebih rendah dari periode April 2021 yakni 8,45 juta dolar AS, atau turun -62,10 persen (mtm) dan -40,93 persen (yoy).

“Jika secara tiga bulan berturut-turut ekspor migas Papua Barat ini turun, tentunya akan berdampak pada PDRB (Produk Domestik Regional Bruto),” ucap Maritje.

Apabila dikaitkan dengan kondisi ekonomi mikro, penurunan kinerja ekspor migas ini tidak terlalu memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat umumnya. Sebab, produksi migas hanya terpusat di Kabupaten Teluk Bintuni. Selain itu, jumlah tenaga kerja sektor migas tidak begitu banyak.

“Lain halnya kalau ekspor non migas turun. Kemungkinan besar perekonomian masyarakat akan terganggu. Karena, ekspor non migas lebih banyak nilai multiplayer effectnya dari migas,” jelas dia.

Maritje melanjutkan, kontribusi ekspor impor terhadap pertumbuhan ekonomi Papua Barat secara makro sangat besar. Selama triwulan pertama tahun 2021, share ekspor impor terhadap pembentukan PDRB Papua Barat mencapai 33,17 persen. “Jika dilihat secara makro ya,” ujar dia.

Perlu diketahui, ekspor Papua Barat masih didominasi oleh sektor minyak dan gas (migas) dibanding sektor non migas.

Untuk periode Mei 2021, kontribusi sektor migas mencapai 97,71 persen terhadap total ekspor. Sementara non migas hanya menyumbang 2,29 persen.

Ia menerangkan, golongan barang yang diekspor dari Papua Barat ke sejumlah negara didominasi oleh golongan bahan bakar mineral sekitar 97,71 persen dari total ekspor. Disusul golongan garam, belerang dan kapur 1,05 persen, golongan ikan dan udang 0,68 persen, golongan perhiasan 0,42 persen, daging dan ikan olahan 0,10 persen, dan barang dari kayu 0,04 persen.

“Semua mengalami penurunan kecuali golongan garam, belerang dan kapur jika dibandingkan dengan kondisi Bulan April 2021,” pungkas Maritje. (PB15)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.