Berita Utama

Produksi Padi Belum Menjawab Kebutuhan Masyarakat Manokwari

  • Biaya Produksi Mahal

MANOKWARI, papuabaratnews.co Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Manokwari, Andre Pattikawa menyebutkan produksi padi di Manokwari hanya menjawab 30 persen kebutuhan beras penduduk Manokwari. Sedangkan 70 persen masih didatangkan dari luar.

Dijelaskannya, untuk pangan di Manokwari hanya beras yang masih rawan untuk ketahanan pangan. Katanya, biaya produksi yang mahal membuat petani padi tidak sanggup memproduksi padi untuk menjawab kebutuhan beras masyarakat di Manokwari. Meskipun baik pemerintah Kabupaten, Provinsi, hingga Pusat memberikan bantuan benih padi kepada petani, namun bantuan yang diberikan terkadang masih belum lengkap. Sedangkan untuk memproduksi padi membutuhkan benih unggul, pupuk, pengendalian hama penyakit hingga proses panen dan pasca panen.

“Jika hanya benih, maka petani harus mensubtitusi kebutuhan lainnya. Misalnya kebutuhan usaha tani 100, hanya bisa terjawab sekitar 10 persen. Sisanya 90 persen harus ditanggung oleh petani. Untuk lahan tanah satu hektar saja membutuhkan sekitar Rp. 1,5-2 juta. Dalam satu proses produksi petani membutuhkan sekitar Rp. 10 juta per hektar, antara pengeluaran dan penerimaan itu bedanya hanya sedikit,” jelasnya kepada Papua Barat News beberapa waktu lalu.

“Kalau dihitung untuk satu kali musim panen, petani mendapat keuntungan sekitar Rp. 10 juta saja. Itupun harus menunggu, dalam satu tahun hanya dua kali musim tanam. Sehingga selain menanam padi, mereka harus menanam tanaman lainnya, ataupun beternak untuk menjawab kebutuhan hidupnya. Tidak bisa hanya mengandalkan padi,” lanjut Andre.

Menurutnya, harga beras saat ini masih sangat murah, tidak sebanding dengan biaya produksi. Ia berharap kedepan pemerintah dapat menaikkan harga beras petani guna meningkatkan kesejahteraan para petani di Kabupaten Manokwari.

“Tetapi disatu sisi, jika dinaikkan maka kasihan masyarakat khususnya yang ekonomi rendah menjadi kesulitan membeli beras. Sebagai pembanding saja, seperti cabai yang harganya bisa sampai Rp. 150 ribu per Kg, bisa turun hingga Rp. 25 ribu per Kg. Bukan makanan pokok saja harganya mahal, beras yang makanan pokok hanya Rp. 10 ribu per Kg, seharusnya beras yang kita naikkan harganya karena merupakan kebutuhan pokok,” tuturnya.

Dikatakan, sedangkan untuk produksi tanaman lainnya di Manokwari sudah cukup melimpah. Kendati demikian, pihaknya akan tetap berupaya menjalankan program, mengingat padi merupakan salah satu komoditi strategis untuk ketahanan pangan terlebih saat pandemi Covid-19.

“Semua berjalan, termasuk untuk komoditi holti sayuran, cabai, tomat dan sebagainya. Meskipun ditengah pandemi tetapi pertanian kita tetap bertahan,” pungkasnya.  (PB19)

** Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Senin 7 Desember 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.