Berita Utama

Putar Haluan Para Pendukung Jokowi

JAKARTA – Rapat internal DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bersama 38 pengurus wilayah partai itu berlangsung alot, Selasa (22/8/2023) lalu. Dalam rapat selama tujuh jam di Tennis Indoor, Senayan, Jakarta Selatan, itu, satu per satu pengurus wilayah mengemukakan pendapatnya mengenai sikap PSI terhadap kandidat calon presiden 2024.

“Masing-masing punya masukan yang berbeda mengenai calon presiden yang hendak dicalonkan,” kata Juru bicara PSI, Sigit Widodo, Rabu (23/8/2023).

Ia menyebutkan ada tiga opsi yang mengemuka dari pengurus wilayah. Ketiga opsi itu adalah mendukung Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo atau Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai calon presiden, serta tidak memilih keduanya. Karena pendapat pengurus wilayah berbeda-beda, pertemuan internal yang dibungkus dengan acara Kopi Darat Nasional ini memutuskan DPP PSI akan kembali menyerap aspirasi masyarakat, lalu menyimpulkan sikap partai terhadap ketiga opsi tersebut. “Jadi, tidak ada frasa pembatalan dukungan,” kata Sigit.

Menurut Sigit, pengurus wilayah sudah lama meminta partai mengevaluasi dukungan kepada Ganjar. Dukungan PSI terhadap Ganjar sebagai calon presiden dideklarasikan pada Oktober tahun lalu, persis pada hari yang sama saat Partai NasDem mengumumkan Anies Rasyid Baswedan, bekas Gubernur DKI Jakarta, sebagai calon presiden.

Keputusan saat itu mengacu pada hasil rembuk nasional PSI. Rembuk nasional juga mengusung Zannuba Ariffah Chafsoh alias Yenny Wahid sebagai calon wakil presiden.

PSI merupakan partai pertama yang mendeklarasikan Ganjar sebagai calon presiden. Lima bulan setelah deklarasi itu, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) juga mendeklarasikan Ganjar sebagai calon presiden. Lalu menyusul Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Perindo, dan Partai Hanura. Namun PDIP tak pernah menganggap dukungan PSI terhadap kadernya tersebut.

Sigit melanjutkan, sejak PSI mendeklarasikan Ganjar hingga saat ini, terjadi perubahan dinamika politik. Namun ia tidak menyebutkan dinamika yang dimaksudkan. Yang pasti, kata dia, sikap PSI tentang calon presiden 2024 sesungguhnya masih menunggu arahan Presiden Joko Widodo, baik dalam bentuk perintah langsung maupun tanda-tanda kuat calon presiden pilihan Jokowi.

“Kami membaca bahwa Pak Jokowi masih menimbang antara dua calon presiden, siapa yang kira-kira bisa meneruskan program kerja beliau,” ujar Sigit. Kedua kandidat yang dimaksudkan Sigit itu adalah Prabowo dan Ganjar.

Entah sudah mendapat arahan atau belum, faktanya PSI pelan-pelan merapat ke Prabowo dalam satu bulan terakhir. Sinyal ke Prabowo ini diperlihatkan saat mantan Komandan Komando Pasukan Khusus Angkatan Darat itu bertandang ke kantor PSI di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada 2 Agustus lalu. Ketika itu, Wakil Ketua Dewan Pembina PSI, Grace Natalie, menyebutkan ada kesamaan antara PSI dan Prabowo. Grace juga memuji menantu Presiden Soeharto tersebut. “Kalau di tempat lain, kami yang diminta ke sana, kalau perlu sambil merangkak. Kalau di sini, Pak Prabowo yang berkenan mendatangi kami,” ujar Grace.

Sikap DPP PSI ini memantik kekecewaan sejumlah kader PSI, yang kemudian memilih hengkang dari partainya. Mereka di antaranya Mohamad Guntur Romli, yang kini menjadi bakal calon legislator PDIP.

Belakangan, dua partai penyokong pemerintahan Jokowi, yaitu Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Golkar, juga merapat ke Prabowo. PAN, Golkar, Gerindra, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)—keempatnya partai penyokong pemerintahan Jokowi—secara bersama-sama mendeklarasikan Prabowo sebagai calon presiden di Museum Proklamasi pada 13 Agustus lalu. Padahal PAN dan Golkar bersama PPP awalnya membentuk Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). Koalisi itu awalnya disebut-sebut bakal menjadi kendaraan Ganjar dalam pemilihan presiden 2024.

Politikus PDIP, Andreas Hugo Pareira, tidak mempermasalahkan dukungan PSI ke Prabowo. Sebab, ia menganggap sikap PSI selama ini dalam urusan kandidat calon presiden tidak konsisten. “Kami tidak khawatir terhadap manuver PSI itu,” kata Andreas.

Ramai-ramai ke Prabowo

Selain partai pendukung Jokowi, sejumlah kelompok masyarakat penyokong mantan Wali Kota Solo itu dalam pemilihan presiden 2014 dan 2019 mulai merapat ke Prabowo. Kelompok pendukung itu di antaranya Pro Jokowi (Projo), Jokowi Mania (Joman), dan pendukung Gibran Rakabuming Raka-Jokowi yang bernama Relawan Bolone Mase (RBM).

Khusus Projo, mereka sudah menggelar deklarasi di berbagai daerah untuk mendukung Prabowo. Yang teranyar, Projo Bengkulu dan Sulawesi Tenggara mendeklarasikan dukungan terhadap Prabowo.

Ketua Projo Sulawesi Tenggara, Irvan Umar, mengatakan sikap mereka mendukung Prabowo diputuskan lewat konferensi daerah pada 20 Agustus lalu. Seluruh pengurus cabang atau setingkat kabupaten di Sulawesi Tenggara sepakat mendukung Prabowo. Mereka hanya berbeda pada posisi calon wakil presiden. Mayoritas cabang mengusulkan Gibran sebagai calon wakil presiden, lalu disusul Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. “Dari awal, dukungan Projo Sulawesi Tenggara memang condong ke Prabowo,” kata Irvan.

Ketua Projo Bali, I Gusti Agung Ronny Indra Wijaya, mengatakan mereka juga sudah memutuskan mendukung Prabowo. Tapi keputusan mereka tidak bulat. Sebab, dua dari tujuh cabang memilih Ganjar. “Kami dari Bali sedari awal menginginkan pemimpin tegas dan berani,” ujarnya.

Ketua Badan Pemilihan Presiden Projo, Panel Barus, mengatakan sudah 12 pengurus provinsi Projo menggelar konferensi daerah. Hasilnya, semuanya kompak mendukung Prabowo sebagai calon presiden. “Mereka hanya berbeda pada posisi calon wakil presiden,” kata Panel, kemarin.

Ia mengatakan mayoritas Projo provinsi menghendaki Gibran sebagai calon wakil presiden. Meski begitu, mereka sadar Gibran tidak memenuhi syarat umur karena masih berusia 35 tahun. Pasal 169 huruf q Undang-Undang Pemilu mengatur batas minimal usia calon presiden dan wakil presiden adalah 40 tahun. Namun peluang Gibran terbuka karena pasal ini tengah diajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi. Para pemohon, termasuk PSI, meminta agar usia minimal calon presiden dan wakil presiden diturunkan menjadi 35 tahun.

Menurut Panel, Projo akan memutuskan sikap resmi setelah pengurus provinsi menggelar konferensi daerah. Sesuai dengan rencana, Projo akan menggelar rapat kerja nasional bulan depan. Sikap Projo ihwal calon presiden diputuskan dalam rapat kerja nasional tersebut.

Di samping kelompok masyarakat pendukung Jokowi, dua kader PDIP terang-terangan mendukung Prabowo. Keduanya adalah Budiman Sudjatmiko dan Effendi Simbolon. Bahkan Budiman sudah membentuk kelompok pendukung Prabowo yang diberi nama Prabowo-Budiman (Prabu) pada 18 Agustus lalu. Budiman mengundang Prabowo saat deklarasi Prabu di Marina Convention, Semarang, tersebut. Adapun Effendi memuji Prabowo dalam acara rapat kerja nasional Punguan Simbolon Dohot Boruna Indonesia (PBSI)—perkumpulan orang Batak bermarga Simbolon—di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, pada 7 Juli lalu.

Andreas Hugo Pareira mengatakan Effendi tetap mendukung Ganjar sebagai calon presiden. Berbeda dengan Budiman yang sudah terang-terangan mengumumkan dukungan ke Prabowo. “Budiman memang menyediakan diri untuk menjadi strategi pemenangan Prabowo. Saya tidak tahu apa motifnya,” ujar Andreas. (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.