Ratusan Kura-kura Moncong Babi Tiba kembali di Kampung Halamannya

MERAUKE, PB News – Setelah melewati 72 jam perjalanan dari Hong Kong, akhirnya 599 ekor kura-kura moncong babi yang dikemas dalam 10 kotak yang dibuat khusus tiba di kampung halamannya di Papua.

Hewan dengan nama latin Carettochelys Insculpta itu mendapat repatriasi atau dipulangkan pemerintah Hong Kong tiba di Bandara Mopah, Merauke, Papua, Sabtu (25/8). Awalnya, hewan endemik Papua dikirim kembali pemerintah Hong Kong melalui Jakarta, Jumat (24/8).

Rencananya, kura-kura moncong babi ini akan dikembalaikan ke habitat aslinya di Kali Iwot (tanjung berpasir) di Kampung Sokanggo, Distrik Mandobo Kabupaten Boven Digoel, Papua. Untuk proses adaptasi dan pelepasliaran ke habitat alamnya akan dilakukan pada hari ini.

Kepala BKSDA DKI Jakarta, Ahmad Munawir mengatakan, pemulangan ini merupakan kerjasama antara Direktorat Jenderal KSDAE-Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, CITES Management Authority di Hong Kong, CITES Management Authority di Indonesia.

“Juga Direktorat Jenderal Bea Cukai, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Balai Karantina Pertanian, Kementerian Perdagangan serta didukung The Kadoorie Farm and Botanic Garden (KFBG) Hongkong, dan Yayasan IAR Indonesia,” jelas Ahmad.

Sedangkan Senior Conservation Officer KFBG Hong Kong, Tan Kit Sun menjelaskan, kura-kura endemik Papua ini diselundupkan secara ilegal dari Indonesia ke Hong Kong pada 12 dan 27 Januari 2018 sebanyak 2300 ekor.

Otoritas keamanan bandara di Hong Kong menemukan kura-kura moncong babi itu dalam keadaan hidup di dalam sebuah koper penumpang dalam penerbangan Jakarta-Hong Kong.

“Pelaku penyelundupan adalah warga negara Indonesia dan telah menjalani pengadilan di Hong Kong dengan tuntutan hukuman telah disampaikan kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia di Hong Kong yaitu denda sebesar HK$ 20.000,” jelas Tan.

Habitat kura-kura moncong babi adalah rawa dan sungai. Sebarannya hanya terdapat di tiga Negara, yaitu Papua bagian Selatan Indonesia, Papua Nugini dan Australia bagian Utara. Di Pulau Papua bagian Selatan, sebarannya meliputi Merauke, Asmat, Mappi, Boven Digoel, Mimika, Dogiyai, sampai ke Kaimana.

Kura-kura moncong babi terus terancam akibat perburuan dan perdagangan ilegal. Permintaan tinggi juga semakin mempercepat kepunahannya. Di pasaran, kura- kura jenis ini diperjualbelikan dijadikan hewan peliharaan (pet) dan dikonsumsi karena dipercayai memiliki khasiat dapat menyembuhkan penyakit tertentu. Padahal selama ini belum ada bukti ilmiah mengenai hal itu.

Kasus penyelundupan kura-kura moncong babi bukan kali pertama ini terjadi. Di awal 2018 lalu, seorang pelaku berinisal NA juga tertangkap petugas Balai Penegakan Hukum KLHK Wilayah Maluku Seksi Wilayah III Jayapura di Bandara Mopah, Merauke.

Dalam penyelidikannya, NA terbukti menyimpan 1195 individu kura-kura jenis moncong babi dalam sebuah koper dan mengaku akan mengirimnya keluar negeri.

Kura-kura moncong babi merupakan satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.

Secara internasional, kura-kura jenis ini berstatus vulnerable atau rentan dalam redlist International Union Conservation Nature (IUCN) dan masuk dalam kategori Appendix II oleh Convention International Trade in Endangerd Species of Wild Flora and Fauna(CITES), yang berarti perdagangannya dikontrol melalui kuota. (PB7)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: