Berita Utama

Ratusan Tukik Dilepas di Pantai Sibuni

  • Plh Bupati : 4 dari 6 jenis Penyu di Indonesia ada Papua Barat Sehingga harus Dilestarikan

MANOKWARI, papuabaratnews.co Sebanyak 301 ekor tukik (anak penyu) dilepas di pantai Sibuni Distrik Masni. Ratusan anak penyu tersebut  guna menjaga kelestarian dan populasi penyu di wilayah perairan Papua Barat.

Plh Bupati Manokwari Edi Budoyo menuturkan, penyu merupakan salah satu kekayaan hayati yang dimiliki Papua Barat. Dimana dari tujuh jenis penyu yang ada di dunia, enam jenis diantaranya ada di Indonesia. Dari enam jenis penyu tersebut, terdapat empat jenis penyu di Papua Barat, yakni penyu hijau, penyu lekang, penyu sisik dan penyu belimbing. Untuk itu populasinya harus di jaga dan di lestarikan agar tidak punah.

“Pemanfaatan Pantai Sibuni sebagai konservasi penyu memang harus berkelanjutan dan menjadi perhatian khusus bagi Kabupaten Manokwari,” tutur Edi, saat pelepasan ratusan ekok tukik di Pantai Sibuni Rabu (2/9/2020).

Disebutkan Edi, salah satu habitat penyu Papua Barat adalah di kawasan pesisir Manokwari Utara termasuk Distrik Masni. Untuk itu menjadi perhatian bagi masyarakat kampung agar dapat melestarikan dan melakukan konservasi kekayaan hayati. Salah satunya penangkaran konservasi penyu.

Besar harapan harapan dengan penakaran di kampung Sibuni bisa dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat kampung serta pemanfaatan sumber daya alam (SDA).

“Melihat potensi kampung, masyarakat secara swadaya didorong oleh dana kampung untuk melakukan penangkaran konservasi penyu. Merupakan salah solusi guna menjaga telur penyu dari predator dan penangkapan induk penyu untuk tujuan konsumsi tertentu,” tegasnya.

Adapun tujuan lain dari penangkaran penyu yakni dapat meningkatkan kesuksesan penetasan telur minimal 70 persen, sehingga dapat meningkatkan populasi penyu.

“Saya tekankan bahwa semua jenis penyu dilindungi karena hampir punah. Menurut Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya , serta peraturan pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa, bahwa penyu berikut bagian-bagiannya merupakan satwa yang dilindungi oleh negara,” pesan Edi.

Konsekuensi dari Undang-Undang tersebut, kata Edi, jika ada yang melanggar tentu akan mendapat sanksi hukum yang berlaku.

“Kita tidak ingin penyu punah diatas tanah kita dan hanya akan menjadi cerita bagi anak cucu kelak. Pelestarian penyu menjadi tanggung jawab semua pihak termasuk masyarakat daerah pesisir,” ajaknya.

Sementara itu, anggota tim peneliti konservasi penyu Unipa, Alberto Yonathan Tangke Allo menerangkan, pihaknya telah melakukan sosialisasi ke beberapa kampung di pantai utara termasuk pantai Sibuni.

Pria yang akrab disapa Jho ini menjelaskan, penyu merupakan salah satu hewan yang dilindungi dan tak jarang menjadi buruan masyarakat. Dimana ketika musim bertelur tiba, masyarakat sering memburunya untuk dikonsumsi. Hal ini juga sangat berdampak terhadap populasi penyu.

“Satu hari sebanyak 10 penyu dewasa yang dibunuh. Maka perlu adanya kesadaran masyarakat agar tidak lagi memburu penyu. Melalui ketua LPPM, Prof Budi Santoso bahwa Mobredibey merupakan salah satu tempat tahunan untuk mengadakan KKN melalui KKN konservasi penyu. Guna mendorong masyarakat melakukan konservasi penyu,” ajaknya.

“Kami mengambil bagian, sehingga penyu ini bisa tetap ada dan tidak hanya menjadi cerita belakang bagi anak cucu,” imbuh Jho.

Ditanya perihal jenis penyu yang sering muncul di perairan Manokwari, Jho menyebutkan, semua jenis penyu di Papua Barat akan naik ke daratan untuk bertelur tetapi yang paling banyak adalah penyu lekang dan hijau.

“Untuk di Manokwari paling banyak penyu lekang, penyu sisik dan penyu hijau. Penyu belimbing juga ada tetapi hanya satu dua saja, habitat penyu belimbing yang paling banyak berada di Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw. Peneluran penyu belimbing pada umumnya sama. Hanya secara bilogis, dimana penyu akan kembali bertelur ditempat saat pertama kali dilepaskan, karena itu merupakan rumah untuk dia (penyu) kembali,” sebutnya.

Sementara untuk proses pelestariannya, jelas Jho, dimulai dari telur penyu.  Dimana pasang surut air laut juga mempengaruhi, karena telur penyu akan rusak jika terendam air.

“Sehingga masyarakat berinisiatif memindahkan ke tempat yang agak tinggi. Proses peneluran terjadi 80 persen jika dipindahkan. Jika secara alami telur menetas sekitar 50 hari. Jika dipindahkan, proses tetasnya lebih cepat menjadi 40 hari,” jelasnya.

Jho mengungkapkan, satu induk penyu dapat bertelur hingga 10 kali, satu kali bertelur bisa mencapai 35-100 telur.

“Jika sudah menjadi tukik maka ditangkarkan di kolam selama sekitar 3 minggu,” pungkasnya.

Pelepasan ratusan tukik itu juga disaksikan i Kapolres Manokwari, Danramil Masni, Kapolsek Masni, Kasatpol air, dan beberapa tamu undangan lainnya serta masyarakat setempat. (PB19)

**Artikel ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Kamis 3 September 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.