Berita Utama

Reka Ulang Mengusut Motif

JAKARTA – Kepolisian Mimika, Papua, menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan disertai mutilasi empat warga Nduga, Papua. Dalam rekonstruksi yang berlangsung pada Sabtu pagi itu dihadirkan sembilan pelaku dengan menampilkan 50 adegan di enam tempat kejadian perkara yang berbeda.

Hadir dalam rekonstruksi tersebut adalah Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Papua. Kepala Polres Mimika Ajun Komisaris Besar I Gede Putra mengatakan keterlibatan maupun kehadiran Kompolnas dan Komnas HAM Papua untuk memastikan penyelidikan dan penyidikan benar-benar sesuai dengan mekanisme dan harapan dari masyarakat.

Dia menjelaskan, reka ulang kasus mutilasi empat warga Nduga ini agar kasusnya bisa terungkap dan dibuka secara jelas dan terang. “Jadi, Kompolnas mengawal kegiatan yang dilakukan Polres Mimika dan di-backup Polda Papua, sehingga betul-betul berjalan sesuai dengan mekanisme,” ujar dia, Minggu (4/9/2022).

Reka ulang ini untuk mengusut motif pembunuhan disertai mutilasi empat warga Papua pada Senin, 22 Agustus 2022. Para korban adalah Arnold Lokbere, Irian Nigiri, Leman Nigiri, dan Atis Tini. Potongan tubuh mereka ditemukan dalam enam karung berisi batu yang dibuang para pelaku di Sungai Kampung Pigapu. Sepuluh orang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan tersebut. Enam di antaranya personel TNI dan lainnya warga sipil.

Kasus ini menimbulkan kontroversi karena, berdasarkan versi polisi, keempat korban itu dibunuh enam anggota TNI setelah dijebak untuk melakukan transaksi pembelian senjata api. Selain membunuh, para tersangka merampas uang Rp 250 juta milik korban. Adapun kalangan keluarga membantah tuduhan tersebut. Menurut mereka, para korban merupakan warga sipil. Ihwal aktivitas mereka pada malam itu, keluarga membantah keempatnya hendak membeli senjata. Menurut keluarga, para korban hendak membeli barang-barang bangunan.

Polisi telah menyerahkan anggota TNI tersebut ke Sub-Detasemen Polisi Militer Kodam XVIII/Cenderawasih di Mimika. Adapun tersangka warga sipil, yakni APL alias Jeck, DU, R, dan RMH, masih dikejar. Menurut polisi, satu pelaku yang buron itu mengenal para korban. Polisi sudah menemukan potongan tubuh dari empat korban pembunuhan sadis itu.

Dalam kasus ini, para tersangka dijerat dengan Pasal 340 KUHP subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 dan 56 KUHP tentang Pembunuhan Berencana dan/atau Pasal 365 KUHP tentang Pencurian dengan Kekerasan. Ancaman sanksi dalam kasus ini adalah hukuman mati, penjara seumur hidup, atau penjara paling lama 20 tahun.

Adapun Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat Kolonel Hamim Tohari mengatakan, Polisi Militer atau POM TNI AD bakal membuka semua temuan kasus itu setelah proses hukum selesai. “Semua temuan dan hal-hal yang melatarbelakangi kasus ini akan disampaikan setelah prosesnya selesai,” ujar Hamim, Ahad kemarin, 4 September 2022.

Setelah mengikuti rekonstruksi, Kepala Komnas HAM Papua, Frits Ramandey, mengatakan bakal menyusun laporan perihal perkembangan kasus mutilasi empat warga Papua ini, termasuk rekonstruksi yang digelar. “Besok kami siapkan laporannya,” ujar Frits. (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.