Berita Utama

Respons Gerindra-Golkar Menyikapi Lobi-lobi PAN

JAKARTA – Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani membenarkan bahwa PAN telah menyodorkan nama Erick sebagai menu wajib perbincangan rencana koalisi. Kendati begitu, menurut dia, siapa pun yang disodorkan merupakan orang-orang yang dianggap terbaik bagi bangsa dan negara. “Kami menyimak dengan saksama. Mudah-mudahan akan ada hasil pembicaraan itu,” ucap Muzani.

Muzani menyebutkan usulan nama Erick sebagai calon pendamping Prabowo bakal dibahas bersama PKB dalam KKIR. Dia menegaskan, koalisi yang mereka bangun membebaskan masing-masing partai membuka komunikasi politik dengan siapa pun, termasuk Gerindra yang tak mempersoalkan PAN membangun wacana membentuk poros koalisi baru bersama Partai Golkar.

Adapun Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Dave Akbarshah Fikarno Laksono mengatakan usulan pembentukan poros koalisi baru dengan PAN memang dinyatakan oleh Airlangga. Namun pembentukan poros itu belum final dan masih dipertimbangkan. “Bukan hanya opsi dengan PAN, opsi yang lain kan bisa. Namanya bersikap dinamis. Bisa saja kami berkoalisi dengan Gerindra atau PDIP,” ujar Dave.

Dave juga memastikan bahwa partainya masih menghendaki Airlangga dapat maju sebagai bakal calon presiden. Dave tidak heran bila muncul pembentukan poros baru bersama PAN. Dia pun tak mempersoalkan jika pasangan Airlangga-Zulkifli nantinya kalah dalam Pemilu 2024. Tapi, kata dia, sebelum itu terjadi, Golkar bakal habis-habisan menyokong Airlangga agar menang.

Direktur Eksekutif Aksara Research Institute, Hendri Kurniawan, justru pesimistis terhadap rencana menduetkan pasangan Airlangga-Zulkifli. Menurut Hendri, boleh jadi itu hanya langkah politik PAN dan Golkar untuk mendesak Prabowo Subianto mengumumkan pasangan calon wakil presiden. “Kans terbesar Prabowo dimungkinkan condong ke Erick karena dia punya modal besar dalam urusan logistik dan elektabilitasnya pun lebih baik ketimbang Airlangga maupun Cak Imin,” ujar Hendri.

Menurut dia, Prabowo pasti memperhitungkan banyak aspek ihwal calon wakil presiden yang bakal dipilih. Sebab, menurut Hendri, para kandidat calon presiden memiliki elektabilitas yang sepadan. Dia menilai seorang bakal calon wakil presiden mesti memiliki elektabilitas kuat, bahkan harus didukung pendanaan yang besar, terutama untuk memperebutkan suara di Jawa Timur yang disebut menjadi kantong suara di tingkat provinsi terbesar kedua setelah Jawa Barat. (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.