Ribuan Botol Miras Sitaan Kodam dan Polda Dimusnahkan

MANOKWARI, PB News – Ribuan botol minuman keras atau miras beragam jenis hasil sitaan Detasemen Intel Kodam XVIII/Kasuari dan Polda Papua Barat dimusnahkan menggunakan satu unit wals di halaman Denintel Kodam XVIII/Kasuari, Sowi, Selasa (22/5).

Pangdam XVIII/Kasuari Mayjen TNI Joppye Onesimus Wayangkau di sela-sela pemusnahan tersebut menyatakan, peredaran miras di Papua Barat memerlukan penanganan yang serius. Pasalnya hampir secara keseluruhan angka kriminalitas yang terjadi disebabkan oleh miras.

Pangdam menyebutkan, semua menginginkan daerah aman. Ia mengajak seluruh elemen termasuk pelaku usaha terlibat aktif dalam memberantas peredaran miras.

“Miras adalah induk dari kriminalitas. Aksi kejahatan dan tindak kekerasan di Papua Barat hampir dipicu oleh miras. Kalau terus dibiarkan berarti kita termasuk golongan orang yang susah diatur,” sebutnya.

Joppye menyebutkan, konsumsi miras di Papua Barat terkesan menjadi tren bagi masyarakat. Hal ini dinilai menjadi motivasi atau sasaran bagi pedagang ilegal miras di daerah tersebut. Menurutnya pemerintah daerah harus lebih tegas terhadap pelaku usaha yang selama ini menyelundupkan miras.

“Pasar miras di Papua Barat dianggap bagus karena permintaan tinggi. Ini salah satu faktor yang menghambat pemberantasan miras. Kemudian pelaku usaha yang mengantongi izin usaha lalu memanfaatkan tempat usahanya dengan menjual miras secara terselubung harus diberi sanksi tegas,” kata Wayangkau.

Ia menyebutkan, kasus miras masuk dalam kategori tindak pidana ringan. Sanksi hukum yang diterima pelaku tidak sebanding dengan kerusakan moral masyarakat akibat miras yang mereka perdagangkan.

“Sanksinya paling denda dan itu ringan bagi mereka. Bisa tertutupi melalui keuntungan yang mereka peroleh dari jual beli miras,” ujarnya seraya menambahkan, pemberantasan miras di daerah tersebut harus dilakukan lebih serius dan melibatkan seluruh elemen.

“Jika kita memberantas miras dengan cara biasa, maka hasilnya juga biasa, tapi kalau dengan cara yang luar biasa maka hasilnya pun luar biasa,” pungkasnya.

Sementara, Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan menegaskan bahwa miras merupakan akar semua persoalan terjadinya konflik sosial maupun KDRT diantaranya akan terjadi perpecahan dalam rumah tangga  akibat suami memiliki simpanan 01,02, dan 03.

“Miras tidak ada manfaat buat kita, banyak kerugian. Kekerasan dalam rumah tangga, perceraian, karena ada 01 dan 02 (simpanan, red), kecelakaan lalu lintas. Singkatnya (miras) tidak ada manfaat untuk kesehatan kita,” ujarnya.

Gubernur lalu menyebutkan bahwa kesejahteraan orang Papua itu sebenarnya baik, tetapi tidak untuk pemabuk.

“Coba estimasi, satu botol vodka 100 ribu dikali 1 bulan. Berapa banyak uang terbuang. Lebih baik uang itu digunakan untuk kebutuhan sehari-hari atau dimanfaatkan untuk hal yang lebih berguna,” pesan Gubernur.

“Tinggalkan kebiasaan minum miras. Tahun 2005 saat pemusnahan miras pertama kali, semua tokoh agama berdoa dan mengutuk miras. Jadi, jangan salahkan banyak yang meninggal karena miras. Itu karena kutukan,” tandasnya.

Gubernur mengakui, upaya mendorong revisi Perda Miras sudah disampaikan beberapa kali kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait di level provinsi. Meski demikian, belum ada tindak-lanjutnya.

“Sama-sama dengan Kabupaten Manokwari kita kaji. Kalau ijinnya bukan miras, kita tutup, kenapa tidak bisa. Hal ini sudah saya sampaikan, bukan baru kali ini tetapi sampai hari ini belum ada tindak lanjut,” tandasnya.

Guna memberikan sanksi tegas, Dominggus mengusulkan agar ijin usaha yang disalahgunakan sebaiknya dicabut saja.

”Kalau bisa tidak boleh lagi berusaha di Manokwari. Kita bisa lihat di Jakarta bisa. Kenapa kita di Papua Barat tidak bisa lakukan. Kita akan bahas lanjut masalah ini,” tegasnya.

Akhirnya gubernur mengapresiasi Pangdam dan Kapolda serta seluruh pihak terkait yang terus memberikan perhatian terhadap masalah peredaran miras ilegal di daerah ini.

Berdasarkan data yang dihimpun Koran ini, jumlah miras hasil sitaan Detasemen Intel Kodam XVIII/Kasuari terdiri atas 2.897 ribu botol vodka yang dikemas dalam 59 karton plus 35 botol dan 3.240 kaleng miras jenis bir hitam bermerk guinnes serta 967 botol miras anggur merah.

Kemudian, jumlah hasil sitaan Polda Papua Barat yakni 485 liter cap tikus (CT) yang dikemas dalam jerigen dan botol serta karung dan 280 botol CT yang diisi dalam ember berukuran besar. Selanjutnya, 164 botol vodka yang dikemas dalam 3 karton, 1 karton jenis anggur, 1 karton jenis bir bintang dan 1 jerigen berukuran 25 liter sopi serta 2 galon sopi. (PB17)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: