Berita UtamaInforialPOLITIK & HUKUM

Riko Tewas, IPDA TM Dimutasi Tanpa Jabatan

MANOKWARI, papuabaratnews.co Kepala Unit (Kanit) Jatanras Satreskrim Polres Sorong Kota berinisial TM mendapat hukuman tambahan berupa mutasi demosi alias pindah tugas tanpa jabatan. Hukuman kepada perwira berpangkat Inspektur Dua (IPDA) itu, diberikan berdasarkan putusan sidang pelanggaran disiplin yang tergelar di aula Triton Polda Papua Barat, belum lama ini.

Persidangan disiplin Polri digelar kepada 15 personil Polres Sorong Kota, terkait meninggalnya George Karel Rumbino alias Riko (21) akibat dianiaya oleh tahanan lain dalam satu sel pada akhir Agustus lalu. Riko dinyatakan meninggal dunia saat sedang menjalani perawatan intensif di RSUD setempat, akibat luka yang dideritanya.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Papua Barat AKBP Adam Erwindi, mengatakan, berdasarkan hasil putusan sidang disiplin terkait insiden tersebut, 15 personil dinyatakan bersalah karena melanggar disiplin Kepolisian dan melakukan tindakan tegas terukur yang berlebihan.

Selain itu, ada salah satu personil yakni IPDA TM yang mendapat hukuman tambahan berupa mutasi tanpa jabatan. Mutasi demosi diberikan karena saat Riko tewas, tanggung jawab penanganan kasus sedang berada dibawah pengawasannya selaku Kanit Jatanras.

“15 personil, seluruhnya dihukum kurungan badan di Rutan Polda Papua Barat, tunda pendidikan dan teguran tertulis. Khusus buat IPDA TM, mendapat hukuman tambahan berupa mutasi tanpa jabatan,” katanya saat dikonfirmasi Papua Barat News, Kamis (8/10/2020) via Phonsel.

Berikut pangkat, inisial dan jabatan 10 personil Polres Sorong Kota Pelanggar Disiplin karena melakukan tindakan tegas terukur yang berlebihan:

  1. IPDA TM (Kanit Jatanras Satreskrim)
  2. AIPTU AB (KANIT RESMOB Satreskrim)
  3. AIPTU DA (BA Satreskrim)
  4. BRIPKA PB (BA Satreskrim)
  5. AIPDA YT (BA Satreskrim)
  6. BRIPKA F (BA Satreskrim)
  7. BRIPKA AM (BA Satreskrim)
  8. AIPDA K (BA Satreskrim)
  9. BRIPKA W (BA Satreskrim)
  10. BRIGPOL N (BA Satreskrim)

Sedangkan lima personil Satuan Tahanan dan Barang Bukti (Sat Tahti) yang dihukum karena lalai dan tidak menjalankan tugas dengan benar sebagai piket jaga tahanan sesuai prosedur Polri adalah;

  1. IPTU DT (Kasat Tahti)
  2. BRIPKA R (BA Sat Tahti)
  3. BRIPKA WIM (BA Sat Tahti)
  4. BRIPTU IP (BA Sat Tahti)
  5. BRIPTU MY (BA Sat Tahti)

Sementara, pelaku penganiayaan terhadap Riko, berinisal HA telah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Sorong. Dalam kasusnya, tersangka kasus Curanmor itu dijerat 338 KUHP jo Pasal 351 ayat (3) KUHP dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara.

Sebagai informasi, Riko adalah adik ipar dari musisi sekaligus politisi Edo Kondologit. Ia diperkarakan sebagaimana rumusan Pasal 339 jo Pasal 365 jo Pasal 285 ayat (3) KUHP, lantaran diduga terlibat kasus pencurian dengan kekerasan dan pemerkosaan, terhadap korban berinisial OKH di Pulau Doom, Distrik Sorong Kepulauan, Kota Sorong pada akhir Agustus lalu.

Riko diserahkan oleh Ibu Kandungnya ke pihak Polres Sorong Kota agar dapat diproses hukum. Akan tetapi, belum genap sehari dalam penanganan penyidik, Riko dinyatakan tewas dalam perawatan intensif di RSUD Sorong akibat luka yang dideritanya karena dianiaya.

Edo Kondologit sempat meluapkan kemarahannya melalui rekaman video di media sosial (Medsos), karena kesal dengan perlakuan Polisi yang menyebabkan kerabatnya meninggal dunia. Video kemarahan Edo pertama kali dibagikan oleh aktivis HAM Veronica Koman lewat akun twitternya @VeronicaKoman, pada 30 Agustus 2020.

“Saya sudah sakit hati sekali dengan perlakuan ketidakadilan di negeri ini. Cukup sudah semua sandiwara, Riko ini adalah korban dari sistem yang ambruk,” kata Edo seperti terekam dalam video berdurasi 2:20 menit itu.(PB13)

**Artikel ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Jumat 9 Oktober 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.