Berita UtamaInforial

Rugi 40 M Akibat Korupsi, Bulog Manokwari Perketat Pengawasan

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Perum Bulog Subdivisi Regional Manokwari memperketat sistem manajemen keuangan dan mekanisme pengawasan di internal perusahaan. Ini dilakukan setelah perusahaan milik negara itu mengalami kerugian senilai Rp40 miliar akibat dikorupsi.

“Proses manajemen kami aturannya masih tetap sama, proses masuk atau keluar barang masih mengacu aturan lama, tetapi proses pengawasan dan monitoringnya yang kita perketat,” kata Kepala Kepala Perum Bulog Subdivisi Regional Manokwari Firman Mando saat ditemui Papua Barat News di Manokwari, Jumat (18/12/2020).

Dijelaskannya, permasalahan hukum yang telah terjadi itu menjadi pelajaran dan sebagai antisipasi agar kasus serupa tidak terulang lagi, Ia menerapkan pengawasan ketat secara internal. Salah satunya melalui tim Stock Opname yang melakukan pendataan barang setiap bulan. Hasil laporan akan dikirim langsung  ke tingkat wilayah sampai pusat.

“Tim Stock Opname adalah salah satu bentuk kegiatan perhitungan persediaan stok barang di gudang sebelum dijual keluar. Itu merupakan salah satu langkah antisipasi kita, karena kejadian korupsi itu menandakan bahwa kita harus bekerja lebih hati-hati,” kata mantan Kepala Bidang Administrasi dan Keuangan Bulog Kendari itu.

Di sisi lain, Firman mengungkapkan, bahwa meski telah terjadi kehilangan atau kerugian sebanyak Rp40 miliar, namun tidak mengganggu tugas dan fungsi pihaknya dalam melayani kebutuhan masyarakat atau konsumen.

“Meski kita sudah alami kerugian atau kehilangan, tugas dan fungsi kami tidak terganggu. Kami tetap bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat, kepada konsumen dengan manajemen yang berjalan sesuai aturan,” katanya.

Terpisah, Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Papua Barat Billy Wuisan mengatakan, penetapan tersangka dalam kasus Bulog Manokwari akan dilakukan pada 2021 mendatang. Sampai saat ini, RH (39) sebagai terduga pelaku masih berstatus saksi.

Wuisan menjelaskan, dalam kasus tersebut, penyidik berupaya menjerat RH dengan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang atau atau TPPU, walau masih alami kendala lantaran perbuatan korupsi yang dilakukan RH cukup terencana.

“Bulog ini termasuk cepat karena sudah ada pemeriksaan duluan dari tim auditor Bulog. Kita hanya melanjutkan pemeriksaan saja. Dalam penyidikan ini, kita coba jerat dengan TPPU, kita sudah minta kerjasama PPATK untuk mencari aset milik RH,” kata Wuisan.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Bulog Manokwari mengalami kerugian hingga mencapai Rp40 miliar akibat korupsi dengan modus sederhana yang dilakukan oleh RH (39). Meski belum ditetapkan sebagai tersangka, namun mantan Kepala Bulog itu telah mengakui semua perbuatannya.

Dalam kasus tersebut, RH diduga telah memanipulasi berkas penyaluran barang ke berbagai Satuan Kerja (Satker) di Manokwari. Melalui laporan administrasi fiktif itu, RH kemudian melakukan penagihan. Uang yang diterimanya pun masuk ke rekening pribadi.

Perbuatan tersebut telah dilancarkan RH sejak masih menjabat sebagai Kepala Bulog tahun 2018 hingga 2019. Hasil penyidikan Kejati Papua Barat, total kerugian negara ditaksir mencapai nilai Rp40 miliar.

“Audit internal atas permintaan Kepala Perum Bulog Manokwari yang baru. Saat itu tim audit menemukan kerugian Rp12 miliar, dan RH diminta untuk kembalikan. Tetapi karena tidak sanggup, kasus ini pun dilaporkan dan setelah kami lidik, kerugian ternyata capai Rp40 miliar,” kata Wuisan. (PB13)

**Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Senin 21 Desember 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.