Sensus Penduduk 2020 Temukan Sejumlah Kendala

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Pelaksanaan Sensus penduduk tahun 2020 dengan metode online dan offline di Provinsi Papua Barat dihadapkan dengan sejumlah kendala.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat Maritje Pattiwaellapia mengatakan hasil sensus penduduk masih kurang sekitar 60 ribu orang. Kondisi ini dipengaruhi oleh banyaknya penduduk yang menolak memberikan data kepada petugas, kondisi pandemi virus korona menyebabkan petugas ditolak oleh masyarakat, tidak dijumpai penduduk di rumah masing-masing, dan ada sebagian masyarakat yang merusak dokumen petugas.

“Hampir semua wilayah kita temui kendala,” kata Maritje saat dikonfirmasi awak media, Senin (30/11/2020).

Selain itu, sambung dia, ada sebagian penduduk yang hanya bertugas di Papua Barat sehingga enggan melakukan pendataan.

Berbagai hambatan dalam pelaksanaan sensus  mengakibatkan target pendataan tidak berjalan sesuai harapan. Dan, jumlah penduduk telah berpartisipasi dalam pelaksanaan sensus baik online maupun offline sekitar 840 ribu orang.

Untuk mencapai proyeksi sensus tahun 2020, BPS terus berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di masing- masing kabupaten/kota.

“Jadi masih ada sebagian kecil kurang berpartisipasi, dan kita terus lakukan validasi,” ucap dia.

Jika dibanding dengan hasil sensus tahun 2010, kata dia, ada peningkatan target meskipun secara proyeksi Papua Barat belum tercapai. Namun, penerapan sensus dengan dua metode dinilai berhasil karena mampu mengimplementasikan metode sensus mandiri atau online.

Maritje menuturkan dari 80 negara yang melaksanakan sensus, hanya 50 persen terlaksana karena pandemi Covid-19.

“Hasil sensus penduduk tahun 2020 akan dirilis secara nasional oleh Bapak Presiden pada Januari 2021,” pungkas dia.

Sebelumnya, BPS menilai pandemi Covid-19 akan menghambat proses sensus penduduk dengan metode konvensional yang diselenggarakan September 2020.

Imbauan jaga jarak fisik dari pemerintah untuk mencegah penularan virus korona sangat mempengaruhi prose kerja pendataan penduduk yang dilakukan dari rumah ke rumah.

Selain hambatan di lapangan, anggaran sensus penduduk secara nasional juga mengalami efisiensi untuk penanggulangan bencana non alam dari Rp4 triliun turun menjadi Rp1 triliun.

Formulasi yang akan digunakan BPS Papua Barat untuk merealisasikan pendataan dalam masa pandemi adalah melibatkan peran kepala kampung dan Ketua RT untuk mengumpulkan kuesioner yang telah diisi oleh masyarakat di 13 kabupaten/kota.

Akan tetapi, kualitas pendataan tersebut sangat diragukan lantaran pengisian kuesioner tidak dipantau langsung oleh petugas pencacah yang telah dipersiapkan BPS sebelum pandemi virus korona melanda dunia.

Perlu diketahui, sensus penduduk tahun 2020 menuju Indonesia satu data menggunakan dua metode pencacahan yakni pencacahan mandiri atau online melalui website resmi BPS, dan metode offline atau pendataan dari rumah ke rumah oleh petugas.

Untuk metode sensus penduduk online sudah diselenggarakan sejak 15 Februari sampai 31 Maret, dan diperpanjang hingga 29 Mei 2020. Di Papua Barat, angka partisipasi penduduk yang mengikuti sensus online tercatat 60.222 orang atau 5,06 persen dari total penduduk di Papua Barat. (PB15)

**Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Rabu 2 Desember 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: