Berita Utama

Sentimen Negatif dari Ucapan ”Ndasmu Etik” Prabowo

JAKARTA — Potongan video singkat yang memperlihatkan ucapan ”ndasmu etik” dari calon presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto, menjadi perbincangan hangat, beberapa hari terakhir. Di sejumlah platform media sosial, kata ”ndasmu” dan ”Prabowo ndasmu” bahkan viral. Sayangnya, sentimen negatif terhadap Prabowo lebih mendominasi sehingga berpotensi menggerus elektabilitas Ketua Umum Partai Gerindra itu saat elektabilitasnya menjulang melampaui dua kandidat lain di Pemilihan Presiden 2024.

”Bagaimana perasaan Mas Prabowo? Soal etik, etik, etik….ndasmu etik,” tutur Prabowo sambil geleng-geleng kepala dalam potongan video berdurasi 21 detik yang viral di media sosial.

Prabowo tampak berbicara di podium di hadapan jajaran elite Gerindra dan kadernya saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Gerindra, di Jakarta, Jumat (15/12/2023). Rakornas kala itu hanya bisa dihadiri oleh kader partai dari pusat dan daerah serta tertutup dari peliputan media.

Pernyataan Prabowo yang mirip dengan pertanyaan lawannya saat debat calon presiden (capres) perdana, Selasa (12/12/2023), itu pun disambut meriah kader yang hadir. Dalam debat capres tersebut, Prabowo memeroleh pertanyaan dari dua capres lain, yakni capres nomor urut 1, Anies Baswedan, dan capres nomor urut 3, Ganjar Pranowo, berkaitan dengan putusan etik dari Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK).

Putusan tersebut, untuk diketahui, mencopot hakim konstitusi Anwar Usman dari jabatan Ketua MK karena dinilai melanggar kode etik dalam putusan MK yang melonggarkan syarat pencalonan presiden-wapres sehingga melapangkan jalan bagi putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, untuk maju di Pilpres 2024, dan berpasangan dengan Prabowo.

Meski Anies dan Ganjar menanyakan soal putusan MKMK itu, pernyataan kontroversial Prabowo lebih menyindir pada pertanyaan Anies. Saat debat, Anies menanyakan perasaan Prabowo setelah mengetahui putusan MKMK, apalagi kala itu masih ada jeda waktu hingga batas akhir pendaftaran capres-cawapres ke Komisi Pemilihan Umum.

Atas pertanyaan itu, Prabowo mengatakan telah berdiskusi dengan tim dan pakar hukum yang ada di timnya. Mereka memberi masukan bahwa dari segi hukum tidak ada masalah.

”Kita ini bukan anak kecil, Mas Anies, Anda juga paham. Sekarang begini, intinya rakyat yang memutuskan, rakyat yang menilai, kalau gak suka dengan Prabowo-Gibran, ya, gak usah pilih kami. Dan, saya tidak takut tak punya jabatan, sori ya, sori yeee…,” tutur Prabowo.

Meski sejumlah elite Gerindra telah menegaskan bahwa ucapan “ndasmu etik” itu hanya bentuk candaan, warganet justru merespons sebaliknya dan menilai negatif ucapan tersebut. Hal ini bisa terjadi karena “ndasmu” merupakan Bahasa Jawa ngoko atau kasar yang berarti kepalamu. Meski kerap digunakan saat bercanda dengan kawan sebaya, kata tersebut kerap pula digunakan saat mengumpat untuk mengutarakan kekecewaan atau ketidaksetujuan.

Mengacu pada analisis media sosial dari Drone Emprit pada 16 Desember lalu, sentimen atas ucapan tersebut dominan negatif, yaitu sebesar 62 persen dari total 31.208 komentar warganet, sedangkan sentimen positif hanya 28 persen yang didapat dari klarifikasi bahwa ucapan itu, candaan.

”Di Twitter, netizen dari berbagai kubu paslon dan netral tampak membentuk satu kluster besar. Tampak ada subklaster pro-Anies, pro-Ganjar, dan media/netral. Mereka saling me-retweet sehingga membentuk satu kluster besar yang cenderung negatif sentimennya,” ujar pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi.

Masih dari analisis Drone Emprit, video potongan pernyataan Prabowo diunggah oleh salah satu warganet pertama kali pada pukul 02.12, Sabtu (16/12/2023). Namun, saat itu, belum viral karena waktu unggah yang terjadi di dini hari. Baru saat diposting ulang warganet lainnya pada pukul 07.00, video itu viral. Terlebih selepas siang, media massa turut mengangkatnya.

Tidak hanya di X, lanjut Fahmi, di platform media sosial Tiktok juga cukup ramai percakapan tentang video ucapan Prabowo itu. Menurut dia, pencarian tentang ”Prabowo” yang pertama trending adalah ”Prabowo ndasmu”. Video dibuat oleh warganet yang cenderung negatif sentimennya. ”Kluster pro-Prabowo tak tampak jelas di sini,” ujarnya.

Omongan dalam keluarga

Seusai menghadiri deklarasi Gerakan Masyarakat Perhutanan Sosial Indonesia daam memberikan dukungan kepada Prabowo-Gibran di Blitar, Jawa Timur, Minggu (17/12/2023), Prabowo menanggapi viralnya pernyataan ”ndasmu etik” di media sosial. Ucapan ”ndasmu” yang dianggapnya biasa itu, menurut dia, dicari-cari kesalahannya dan dibesar-besarkan.

”Itu di antara keluarga kita bicara. Dan itu, kan, bicara orang Banyumas (Jawa Tengah), biasalah bicara-bicara seperti itu. Enggak usah dibesar-besarkan. Kenapa? Siapa yang suruh tanya? Ha-ha-ha…,” ucapnya.

Keluarga dari ayah Prabowo, Soemitro Djojohadikoesoemo, berasal dari Kebumen dan Banyumas.

Di tengah kontestasi Pemilu 2024, tak hanya Prabowo yang ucapannya kontroversial dan mengundang respons negatif. Gibran pun pernah mendapat respons serupa saat menyebut asam sulfat ibu hamil harus terpenuhi. Padahal, asam sulfat merupakan cairan kimia yang berbahaya bagi tubuh. Yang seharusnya dipenuhi ibu hamil adalah asam folat. Pernyataan Gibran yang diakuinya keliru tersebut disampaikan saat menghadiri acara bertajuk ”Diskusi Ekonomi Kreatif Bersama Mas Gibran”, di Jakarta, awal Desember lalu.

Menjelang Pemilu 2019, Prabowo juga pernah menyebut ”ndasmu” saat menyindir kubu capres petahana Joko Widodo yang kerap membanggakan pertumbuhan ekonomi di Indonesia sebesar 5 persen. Kala itu pun kata ”ndasmu” menuai respons negatif publik.

Selektif saat berbicara

Pakar komunikasi politik dari Universitas Airlangga, Suko Widodo, mengingatkan, semua pernyataan capres/cawapres ataupun peserta pemilu lainnya bernilai saat masa pemilu berlangsung. Terlebih saat ini ketika era digital memungkinkan semua orang untuk menyebarkan pernyataan dari elite politik tertentu.

Menurut Suko, jika ada pernyataan yang tidak selaras dengan pendapat publik, bisa berbuah sentimen negatif. Karena itu, setiap kandidat harus selektif dalam menyampaikan pernyataannya. Hal itu berguna untuk menjaga risiko serangan sikap publik ketika pernyataannya dinilai kurang selaras.

Apalagi, khusus untuk Prabowo, tren elektabilitasnya tengah menanjak. Mengacu hasil survei Litbang Kompas pada 29 November-4 Desember 2023 terhadap 1.364 responden, pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka mendapatkan 39,3 persen suara, sedangkan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar 16,7 persen dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD 15,3 persen. (kom/sem)

 

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.