Berita Utama

Siapkan Teknologi Modifikasi Cuaca

JAKARTA – Pemerintah berupaya mengantisipasi peningkatan potensi bencana banjir akibat cuaca buruk yang diperkirakan terjadi hingga pergantian tahun 2022. Belajar dari fenomena cuaca ekstrem sebelumnya, sejumlah lembaga bersiap melaksanakan operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC).

Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Fachry Radjab, mengatakan operasi TMC itu sedang disiapkan oleh lembaganya bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI Angkatan Udara, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). TMC, kata dia, akan dilakukan untuk meredistribusi sebaran awan hujan. “Sebagai mitigasi bencana, khususnya bencana hidrometeorologi basah,” kata Fachry, Senin (26/12/2022).

TMC dilakukan dengan cara menyemaikan garam ke dalam sel-sel awan untuk mempercepat proses kondensasi. Teknologi ini biasa dipakai untuk membuat hujan buatan pada musim kemarau atau saat penanggulangan kebakaran hutan. Sedangkan kali ini, garam akan disemai di awan yang berada di atas laut. Dengan begitu, hujan dipaksakan turun di wilayah perairan sebelum awan mencapai daratan.

BMKG lalu memperbarui prospek cuaca sepekan ke depan, yakni dari 27 Desember 2022 hingga 2 Januari 2023. BMKG mengidentifikasi gelombang Kelvin, yakni gelombang besar di atmosfer dan lautan yang bergerak dari barat ke timur, aktif di wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, serta Sulawesi bagian tengah dan selatan. Adapun gelombang Rossby Ekuator, yaitu gelombang atmosfer yang bergerak ke arah barat, diperkirakan aktif di sebagian wilayah yang sama.

Di sisi lain, sirkulasi siklonik terpantau di perairan utara Sabah dan perairan timur Filipina. Pusaran angin yang membawa uap air untuk dibentuk menjadi awan itu membentuk daerah konvergensi di Filipina bagian selatan dan Laut Cina Selatan bagian selatan. Daerah konvergensi juga terpantau memanjang di Selat Malaka hingga Riau, Samudra Hindia di selatan Banten hingga Jawa Timur, Selat Sunda hingga Jawa Barat, Laut Jawa, Laut Bali, Laut Seram, Laut Banda, perairan utara Nusa Tenggara, serta Samudra Pasifik di utara Papua Barat.

Faktor-faktor tersebut berpotensi menumbuhkan awan hujan. BMKG memperkirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di wilayah-wilayah tersebut, terutama di Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, Sulawesi bagian selatan, Maluku, serta Papua. “Masyarakat diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem dan dampak yang ditimbulkan, seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin dalam satu minggu ke depan,” begitu tertulis dalam peringatan dini yang dirilis BMKG, kemarin. (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.