Siasat Honai Kopi Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Hampir seluruh pelaku bisnis kedai kopi di tanah air terpukul akibat dihantam pandemi Covid-19. Banyak dari mereka yang harus merumahkan karyawannya hingga gulung tikar karena omzetnya menurun tajam, termasuk di kota Manokwari.

Owner Honai Kopi Arief R. Rimosan mengatakan hal tersebut terjadi juga di kedai kopi yang mulai dia rintis awal Juli 2020 lalu. Meskipun begitu, Arief mengaku, jumlah omzet yang diperoleh kedai kopi miliknya selama hampir lima bulan beroperasi justru di luar dari ekspektasi.

“Berbicara omzet bisnis kedai kopi saat ini jelas banyak mengalami penurunan drastis, apalagi semenjak pandemi corona. Selain itu, sebagian harga bahan baku melonjak. Saat memulai bisnis kedai kopi ini saya sebetulnya tidak memikirkan soal omzet, karena tujuan Honai Kopi bukan tentang uang. Tapi yang kami peroleh hampir lima bulan berjalan diluar dari apa yang kami pikirkan. Seandainya dalam kondisi normal, saya yakin pendapatan pasti akan jauh lebih dari yang saat ini kami peroleh,” ujar Arief begitu sapaan akrabnya pada Sabtu (7/10/2020)

Situasi pandemi ini lalu memaksa Honai Kopi beradaptasi agar usahanya tetap berjalan. Arief berinovasi dengan membuat paket menu yang sama sekali berbeda dengan kedai kopi pada umumnya, seperti Kopi Sulo, minuman khas Honai Kopi dan pizza, varian snack yang hanya disajikan pada hari tertentu.

“Kami coba meramu dari segi minuman dan sanck. Harus ada sesuatu yang membuat orang untuk datang ke Honai Kopi dan kemudian mereka memutuskan untuk datang lagi,” ungkap Arief.

Selain berinovasi meramu paket menu, kata Arief, Honai Kopi juga mengusung sejumlah konsep hiburan bagi pelanggan. Konsep yang ditawarkan adalah musik dan lagu khas Papua.

“Konsep yang kami jual adalah musik daerah, terlebih khusus musik etnik Papua. Kami ingin pelanggan atau pengunjung yang datang disini mengenal budaya Papua,” lanjut Arief.

Ia pun menjamin kebersihan makanan dan minuman yang disajikan. Barista dan karyawan wajib mengenakan masker ketika bekerja. Tidak hanya untuk karyawan, Honai Kopi juga mewajibkan pengunjung mentaati disiplin protokol kesehatan Covid-19.

“Kami juga menyiapkan tempat cuci tangan untuk pengunjung dan mewajibkan mereka mengenakan masker. Tempat duduk untuk pengunjung juga kami kurangi untuk jaga jarak,” paparnya.

Walaupun begitu, Arief mengakui, kepatuhan pengunjung untuk menerapkan protokol kesehatan masih sangat rendah. Padahal disiplin protokol kesehatan sangat diperlukan untuk memutus rantai penyebaran virus corona.

Arief mengutarakan kedepan Honai Kopi akan memberi perhatian serius kepada petani kopi. Menurutnya, pemberdayaan petani kopi penting untuk bantu meningkatkan produksi dan kualitas biji kopi yang dihasilkan. Apabila produksi meningkat dan mutu kopi dijaga maka harga jualnya pun tinggi, dan tentu petani akan sejahtera.

“Orang hanya menikmati kopi, tapi tidak tahu siapa yang menanam. Karena itu kedepan kami juga berencana mengupayakan program perdayaan para petani kopi yang ada di daerah ini. Kami ingin bisnis kopi ini menguntungkan mulai dari hulu sampai ke hilir. Kalau kedai kopi sejahtera petaninya juga harus ikut sejahtera,” tuturnya.

Arief berharap pemerintah daerah juga mendorong bertumbuhnya bisnis kedai kopi yang sehat dan saling menguntungkan. Terutama perhatian untuk pemberdayaan para pelaku bisnis kedai kopi yang ada di daerah ini.

“Selain itu, pemerintah perlu membuat regulasi baru terkait pajak yang dikenakan kepada pelaku bisnis kedai kopi yang ada di daerah ini. Pajak untuk kedai kopi dengan modal kecil jangan disamakan dengan kedai kopi yang punya modal besar dan sudah mapan,” tutup Arief dengan penuh harap. (PB1)

**Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Kamis 12 November 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: