Berita Utama

Siasat KPK Menetapkan Pelaksana Tugas demi Formula E

JAKARTA – Sejumlah pengamat dan ahli hukum mencurigai manuver pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyingkirkan sejumlah pejabat struktural dan menggantinya dengan pelaksana tugas. Ahli hukum pidana dari Universitas Islam Negeri Imam Bonjol, Rony Saputra, misalnya, menilai sikap komisioner KPK ini diduga berhubungan dengan niat untuk memaksakan peningkatan status penyelidikan kasus Formula E ke tahap penyidikan.

Penyingkiran pejabat struktural yang dimaksudkan Rony merujuk pada sikap pimpinan KPK memberhentikan Brigadir Jenderal Endar Priantoro dari jabatan Direktur Penyelidikan dan mengembalikannya ke institusi asal, yakni Kepolisian RI. KPK juga memulangkan Deputi Penindakan dan Eksekusi, Inspektur Jenderal Karyoto, yang kini menjabat Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya. “Sebelumnya sudah ada pengunduran diri Direktur Penuntutan KPK, Fitroh Rohcahyanto, ke Kejaksaan Agung yang diduga karena alasan perbedaan pendapat dalam menangani kasus,” ujar Rony dilansir Tempo, Selasa (4/3/2023).

Sejumlah sumber internal KPK menyatakan Fitroh disebut-sebut memilih kembali ke Kejaksaan Agung, lembaga asalnya, karena tak mau mengikuti skenario pimpinan KPK dalam pengusutan kasus Formula E. Skenario yang dimaksudkan adalah meningkatkan kasus Formula E ke tahap penyidikan, meski tanpa menetapkan tersangka. Dalam kasus ini, KPK pernah memeriksa mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Selepas penyingkiran tersebut, praktis jabatan Deputi Penindakan dan Eksekusi, Direktur Penyelidikan, serta Direktur Penuntutan di KPK kosong. Persoalannya, KPK tak segera mengganti pejabat definitif, melainkan justru mengangkat pejabat setingkat pelaksana tugas.

Belakangan, pimpinan KPK melantik Brigadir Jenderal Asep Guntur Rahayu sebagai pelaksana tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi menggantikan Karyoto. Kemudian menunjuk Ronald Ferdinand Worotikan sebagai pelaksana tugas Direktur Penyelidikan. Sebelumnya, KPK menetapkan M. Asri Irwan sebagai pelaksana tugas Direktur Penuntutan menggantikan Fitroh. Rony curiga sepak terjang pimpinan KPK tersebut sengaja dilakukan agar dapat memudahkan membuat keputusan sehubungan dengan penanangan kasus Formula E.

Sumber itu menceritakan, meski sudah diganti dengan pejabat setingkat pelaksana tugas, para pegawai struktural KPK tetap berkomitmen menolak meningkatkan kasus Formula E dari status penyelidikan ke tahap penyidikan. Rapat ekspose atau gelar perkara yang terakhir kali digelar pada Senin, 27 Maret lalu, menolak meningkatkan kasus tersebut. Rapat itu dihadiri pimpinan KPK, seperti Firli Bahuri, Alexander Marwata, dan Johanis Tanak. ”Pejabat struktural tetap tidak sepakat Formula E naik ke tahap penyidikan,” ucap sumber tersebut.

Dewas KPK Diminta Periksa Kebijakan Komisioner

Ahli hukum tata negara Universitas Andalas, Feri Amsari, meminta Dewan Pengawas KPK memeriksa secara keseluruhan keputusan-keputusan pimpinan KPK dalam memberhentikan pegawai struktural. Menurut dia, pengunduran diri Fitroh, serta penyingkiran Karyoto dan Endar, diduga erat kaitannya dengan kasus Formula E yang selama ini mencuat di publik.

Dia mengatakan selama ini pimpinan KPK diduga berupaya memaksakan agar kasus ini naik ke tahap penyidikan, tapi belum didukung bukti yang cukup. ”Sehingga upaya penyingkiran pegawai KPK ini diduga kesengajaan agar kasus Formula E dapat dilanjutkan dengan memilih penyelidik atau penyidik yang dapat membantu mereka mengambil keputusan,” ujar Feri.

Kepala Bagian Pemberitaan KPK, Ali Fikri, enggan berkomentar banyak saat dimintai penjelasan ihwal banyaknya pejabat struktural yang diemban pelaksana tugas. Demikian pula saat ditanya apakah alasan KPK hanya menetapkan jabatan setingkat pelaksana tugas adalah untuk memudahkan skenario pengusutan perkara Formula E. “Ha-ha-ha. Lucu pertanyaannya, Mas,” ujar Ali.

Ali sebelumnya tak memungkiri bahwa gelar perkara kasus Formula E pada pekan lalu memicu perdebatan antara pejabat struktural KPK dan pimpinan KPK. “Perbedaan pendapat bagus, tidak ada yang salah. Justru dengan berbeda pendapat makin memperkaya khazanah hukum,” ucap dia.

Adapun Ketua KPK Firli Bahuri sempat menjelaskan bahwa pengunduran diri Fitroh tidak berhubungan dengan perbedaan pendapat dalam pengusutan perkara Formula E. Fitroh, menurut Firli, menyampaikan keinginan kembali berkarier di Kejaksaan Agung karena sudah lebih dari 11 tahun mengabdi untuk KPK. “Saya pastikan yang bersangkutan bukan karena tidak setuju dengan penanganan perkara,” ucap Firli pada 10 Februari lalu. (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.