Berita Utama

Stasiun Pemantau Kualitas Udara Diresmikan

MANOKWARI, papuabaratnews.co Stasiun pemantau kualitas udara ambien atau Air Quality Monitoring System (AQMS) diresmikan oleh (Plh) Bupati Manokwari Edi Budoyo, Rabu (9/9/2020).

Edi mengatakan, hadirnya stasiun pemantau kualitas udara dapat sangat membantu Pemkab Manokwari, khususnya dalam mengambil sebuah kebijakan.

“Kita yakin bahwa kendaraan setiap saat bertambah, terutama kendaraan-kendaraan yang menggunakan bahan bakar kualitas rendah, salah satunya solar dan itu menimbulkan polusi. Ketika sudah terlalu banyak kebijakan apa yang harus diambil, pemerintah tidak bisa sendiri melainkan juga berkaitan dengan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Masyarakat kini belum beralih ke solar dex yang harganya cukup mahal beda Rp 3000 dari dari solar biasa. Artinya kemampuan ekonomi masyarakat belum bisa untuk beralih ke solar dex. Untuk itu kata Edi, pihaknya tidak serta mengambil kebijakan tanpa melihat kondisi masyarakat.

“Pemerintah mengambil kebijakan tetapi juga harus memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat, sekalipun kebijakan itu adalah kewenangan pemerintah. Jangan sampai kebijakan yang diambil memberatkan masyarakat,” ujarnya.

Diketahui sebanyak 10 operator akan dibekali untuk mengoperasikan alat tersebut.

Sementara itu, Kepala Sub. Direktorat Pemantauan Kualitas Udara dan Pengendalian Pencemaran Non Institusi, Djurit Teguh Prakoso memaparkan, pada 2020 ini stasiun yang sudah terbangun sebanyak 36. Dimana Manokwari menjadi stasiun yang ke 33 dari 36 stasiun tersebut. Dibangun khusus untuk memantau kualitas udara.

Lebih lanjut, jika dilihat kondisi saat ini, kualitas udara di Manokwari masih bagus sekali, tentunya hasilnya juga akan bagus. Hal inilah yang menjadi pertimbangan sehingga Manokwari berhak mendapat bantuan alat pemantau kualitas udara.

“Bisa menjadi tolak ukur untuk pengambilan kebijakan, ketika ada suatu permasalahan yang muncul. Salah satunya jika terjadi kebakaran hutan maka akan terbaca dan selanjutnya kebijakan apa yang harus diambil, dan langkah-langkah yang tepat untuk bisa menyelesaikan permasalahan,” ungkapnya.

Djurit berharap alat ini dapat berguna untuk Kabupaten Manokwari. Secara nasional juga akan memotinor, dimana dari 36 stasiun yang dibangun semua sistemnya ada di Kementerian (pusat)

“Servernya ada di kami (kementerian). Kami bertanggung jawab terhadap alat ini, perawatannya sampai lima tahun kedepan. Kami berharap kedepan bisa dikembangkan di beberapa titik dan kami mohon dukungannya. Pemantau kualitas udara ambien yaitu udara yang kita hirup dan gunakan sehari-hari dan bersifat gratis. Erat kaitannya dengan kesehatan manusia,” pungkasnya. (PB19)

***Artikel ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Jumat 11 September 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.