Berita UtamaPOLITIK & HUKUM

Suami Sumiati Simanullang Nilai Proses Hukum Dipolitisir

  • Ada kerancuan peran tersangka

 MANOKWARI, papuabaratnews.co Natan Siahaan selaku suami dari almarhum Sumiati Simanullang, menilai, proses hukum atas kasus kematian istrinya telah dipolitisir. Ada kerancuan yang belum diungkap secara jelas, setelah pihak Kepolisian Resor (Polres) Manokwari menetapkan DI (28) sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

“Mungkin dia (DI, red) yang eksekusi tetapi otak di balik semua itu bukan dia. Ini yang saya merasa rancu. Terus terang ya, hukum di Manokwari ini terlalu dipolitisir, itu tidak bisa kita pungkiri. Kita yang lemah ini bisa apa, kalau aparat penegak hukum saja tidak berdaya,” ujar Natan saat dikonfirmasi Papua Barat News lewat sambungan telephon, Kamis (1/10/2020).

Natan menuturkan, kerancuan atas peran DI sebagai eksekutor dan otak dari pembunuhan istrinya terlihat dari raut wajah DI ketika proses mediasi perdamaian yang dilakukan beberapa waktu lalu.

Menurutnya, mungkin benar DI adalah sang eksekutor, namun hanya sebagai wayang bukan dalang.

“Saya simak tutur-cara DI di pertemuan itu, langsung tidak yakin,” tegas Natan.

DI juga telah mengajukan permohonan damai dan meminta maaf atas perbuatannya kepada keluarga korban. Mediasi yang digelar di Polres Manokwari atas inisiasi dua perwakilan suku, yakni Arfak dan Batak.

“Ada permintaan maaf dan damai dari DI. Tetapi perlu diingat, sebelum dia melakukan itu, saya sebagai umat Kristiani sudah memaafkannya dan tidak pernah menuntut apa-apa selain proses hukum. Yang saya tuntut di sini adalah keadilan, bukan uang,” tegas dia.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari Yan Christian Warinussy, mengatakan, meski telah ada kesepakatan damai antara pihak pelaku dan keluarga korban, apapun bentuknya. Namun, proses hukum kasus kematian Sumiati Simanullang tetap tidak bisa ditutup atau dihentikan penyelidikan dan penyidikannya, karena itu adalah sebuah tindak pidana murni.

“Damai boleh asal proses hukum tetap jalan. Polisi bisa menelusuri pemberian barang yang disertakan dalam permohonan itu. Sebenarnya dari siapa, kenapa dan ada apa,” katanya.

Menurut Warinussy, ada perbedaan mendasar antara delik biasa dan delik aduan yang aturan hukumnya telah diatur berdasarkan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP/Material) dan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP/Formil).

Dimana pembeda antara delik material dan delik formil tidak terlepas dari makna yang terkandung dalam perbuatan, yaitu tindakan dan akibat. Delik material menitikberatkan pada akibat. Sedangkan, delik formil menitikberatkan pada tindakan.

Artinya, lanjut Warinussy, delik aduan hanya bisa diproses apabila ada pengaduan atau laporan dari orang yang menjadi korban tindak pidana. Contoh, misalnya perzinahan (Pasal 284 KUHP), pencemaran nama baik (Pasal 310 KUHP), penghinaan (Pasal 311 KUHP) dan penggelapan/pencurian dalam kalangan keluarga (Pasal 367 KUHP).

Sedangkan, dalam delik biasa, perkara tersebut dapat diproses tanpa adanya persetujuan dari yang dirugikan (korban). Contoh delik laporan dalam KUHP, misalnya, delik pembunuhan (Pasal 338 KUHP), pencurian (Pasal 362 KUHP), dan penggelapan (Pasal 372 KUHP).

“Jadi, misalkan, pihak korban telah mencabut laporannya sekalipun, penyidik tetap berkewajiban untuk memproses kasus tersebut, karena itu adalah tindak pidana murni,” ujar Warinussy.

Perlu diketahui, bahwa kasus pembunuhan tersebut bermotifkan dendam atau sakit hati.  DI yang keseharian sebagai supir ditetapkan sebagai pelaku pembunuhan Sumiati Simanullang dan dijerat dengan Pasal 338 KUHP mengenai pembunuhan tunggal dan/atau Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, dengan ancaman hukuman mati atau pidana seumur hidup atau paling lama pidana 20 tahun penjara.

Sumiati Simanullang, ibu beranak dua yang sehari-harinya bekerja sebagai honorer pada Dinas Kesehatan Manokwari dinyatakan tewas secara tragis akibat mendapat lima kali suntikan senyawa kimia yang dapat mengakibatkan luka bakar pada tubuh. Sebelum ditemukan tak bernyawa, korban telah dikabarkan hilang sejak 3 Maret 2020.

Empat hari dalam pencarian, korban akhirnya ditemukan dalam keadaan telungkup di semak rerumputan kawasan pemukiman penduduk areal Sowi Gunung yang ternyata tak jauh dari kediamannya. Jasadnya ditemukan telah membusuk karena dipenuhi banyak belatung. (PB13)

**Artikel ini Sudah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Jumat 2 Oktober 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.