Suara Masyarakat Tentukan Penetapan Pemekaran di Papua

MANOKWARI – Diperlukan dialog bersama antara masyarakat dan pemerintah pusat terkait rencana pemekaran enam provinsi di Papua dan Papua Barat. Sebab, masih terjadi perbedaan pendapat di tengah masyarakat untuk pelaksanaan kebijakan tersebut.

Demikian benang merah dalam webinar yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Selasa (22/2/2022). Webinar mengangkat tema bertajuk ”Pemekaran DOB di Papua, Solusi atau Sumber Masalah Baru”.

Narasumber dalam webinar ini adalah Pastor Hans Jeharut, perwakilan dari Konferensi Waligereja Indonesia; Wakil Bupati Asmat Thomas Safanpo; anggota DPRP Papua John Gobay; Melkior Sitokdana selaku Ketua Departemen Gugus Tugas Papua Pengurus Pusat Pemuda Katolik; dan Pastor Alexandro Rangga selaku perwakilan Sekretariat Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Fransiskan Papua.

Hans sebagai pembicara pertama dalam webinar ini mengatakan, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) belum mengeluarkan sikap terkait kebijakan pemerintah untuk pemekaran daerah otonom baru, baik di Papua maupun di seluruh wilayah Indonesia. Sebab, KWI menghargai setiap keuskupan memiliki hak otonomi untuk menentukan sikap terkait kebijakan tersebut.

Hans berpendapat, setiap kebijakan pemerintah, khususnya bagi masyarakat Papua, harus mengutamakan salus populi suprema lex atau keselamatan rakyat merupakan hukum yang tertinggi. Pemekaran diharapkan bermanfaat bagi masyarakat Papua dan bukanlah kepentingan pemerintah pusat, partai politik, dan pemilik modal.

Ia pun meminta pemerintah pusat tidak tergesa-gesa menetapkan daerah otonom baru di Papua dan Papua Barat karena berpotensi terjadi konflik yang besar. Diperlukan dialog antara pusat dan masyarakat, juga keterlibatan lembaga lainnya, seperti gereja Katolik.

”Diperlukan evaluasi yang menyeluruh tentang pendekatan pemerintah selama ini di Papua. Masih terdapat catatan pelanggaran hak asasi manusia dan sejumlah masalah lain yang harus dituntaskan,” kata Hans.

Suara lembaga

Alexandro Rangga mengatakan, rencana penetapan daerah otonom baru di Papua tanpa melibatkan suara dari lembaga representasi masyarakat, yakni DPRP dan Majelis Rakyat Papua. Terindikasi adanya unsur pemaksaan untuk penetapan daerah otonom baru di tanah Papua.

Ia mengungkapkan, terdapat banyak masalah pelayanan dasar bagi masyarakat yang tidak berjalan dengan baik di daerah yang sebelumnya dimekarkan dari kabupaten induk di Papua. Misalnya, masalah gizi buruk yang menimpa anak-anak di Kabupaten Asmat pada 2018.

Rohaniwan ini menilai, pemekaran bukanlah solusi untuk menyejahterakan masyarakat Papua. ”Marilah pemerintah duduk bersama dan berdiskusi dengan masyarakat setempat. Sebab, pelayanan publik belum dirasakan sepenuhnya oleh masyarakat hingga kini,” katanya.

John Gobay selaku anggota DPRP Papua mengatakan, seharusnya pelaksanaan pemekaran daerah otonom baru mengacu pada Pasal 76 Undang-Undang Otonomi Khusus Nomor 2 Tahun 2021. Ayat 1 dari Pasal 76 berbunyi, ”Pemekaran daerah provinsi dan kabupaten/kota menjadi provinsi-provinsi dan kabupaten/kota dapat dilakukan atas persetujuan MRP dan DPRP.”

”Kami melihat penetapan daerah otonom baru hanya bermotif penguasaan sumber daya alam Papua. Lahirnya daerah otonom baru menyebabkan orang asli akan semakin terpinggirkan karena terjadi transmigrasi penduduk dari luar daerah yang masif,” ungkap Alexandro.

”Diperlukan dialog untuk mengatasi pro dan kontra di tengah masyarakat terkait isu pemekaran. Dialog adalah cara yang bermartabat untuk menemukan solusi persoalan di Papua,” tutur John.

Thomas Safanpo yang juga Wakil Bupati Asmat berpendapat, pemekaran merupakan solusi terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua. Sebab, pemerintah daerah selama ini terkendala memberikan pelayanan dasar karena kondisi geografis Papua yang sangat sulit dan luasnya mencapai dua kali Pulau Jawa.

Ia menuturkan, selama ini Pemprov Papua memiliki rentang kendali yang sangat luas sehingga menyebabkan pelayanan dasar tidak optimal. Papua telah mendapatkan anggaran Otsus dan infrastruktur senilai Rp 97 triliun, tetapi berdampak sangat kecil bagi masyarakat.

”Saya bersama kepala daerah di Merauke, Mappi, dan Boven Digoel telah menyetujui pemekaran Provinsi Papua Selatan. Pemekaran adalah opsi terbaik percepatan pembangunan Papua,” ujarnya.

Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Stefanus Gusma berharap dalam webinar ini akan tercapai sebuah kesimpulan terkait penyebab sikap oro dan kontra tentang pemekaran daerah otonom baru di Papua. (RED)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: