Berita Utama

Surveilans untuk Tekan Gejala Hepatitis Akut

JAKARTA – Pemerintah pusat dan daerah meningkatkan surveilans untuk memitigasi merebaknya gejala hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya di Indonesia. Upaya penyelidikan epidemiologi itu dilakukan agar pemerintah dapat bertindak cepat ketika ditemukan kasus dengan gejala dan tanda hepatitis akut, terutama pada anak usia di bawah 11 tahun.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan surveilans dilakukan sekaligus untuk menginvestigasi kontak terhadap tiga kasus hepatitis akut pada anak yang ditemukan di DKI Jakarta. Tiga anak itu meninggal diduga akibat terjangkit hepatitis akut. “Surveilans untuk kontak investigasi,” kata Nadia dilansir Tempo, Sabtu (7/5/2022).

Menurut Nadia, investigasi kontak perlu dilakukan untuk mengetahui faktor risiko terhadap tiga kasus hepatitis akut tersebut. Tiga anak itu datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi gawat sehingga tenaga kesehatan hanya mempunyai sedikit waktu untuk menolongnya.

Selain meningkatkan surveilans, kata Nadia, pemerintah akan meningkatkan kewaspadaan terhadap pasien bergejala penyakit kuning. Pemerintah akan memeriksa fungsi hati dan rujukan pemeriksaan spesimen bagi pasien-pasien tersebut. “Ini untuk pemeriksaan genome sequencing,” ujarnya.

Di samping itu, pemerintah memperkuat fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh daerah untuk menghadapi kasus hepatitis akut bergejala berat. Langkah ini dianggap strategis guna mencegah penyebaran penularan hepatitis akut. “Termasuk pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosis pasti terkait dengan penyebab hepatitis akut berat ini,” kata Nadia.

Laporan kasus hepatitis akut yang masih belum diketahui penyebabnya ini pertama kali diterima Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 5 April lalu. Sepuluh hari kemudian, WHO menetapkan penyakit tersebut sebagai kejadian luar biasa. Wabah yang pertama kali ditemukan di Inggris itu telah menyebar di 20 negara, termasuk Indonesia.

Sesuai dengan hasil pemeriksaan laboratorium, penyakit ini tidak disebabkan oleh virus hepatitis tipe A, B, C, D, dan E. Adenovirus terdeteksi pada 74 kasus yang setelah dilakukan tes molekuler teridentifikasi sebagai F tipe 41. Virus SARS-CoV-2—penyebab wabah Covid-19—ditemukan pada 20 kasus. Sedangkan pada 19 kasus terdeteksi adanya koinfeksi SARS-CoV-2 dan adenovirus.

Adapun di Indonesia, tiga pasien anak meninggal diduga akibat hepatitis akut pada 30 April lalu. Ketiganya meninggal setelah dua pekan dalam perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat.

Pada tiga kasus ini, pasien anak berusia 2 tahun sudah mendapat vaksinasi hepatitis. Lalu pasien berusia 8 tahun mendapat vaksinasi Covid-19 satu kali dan vaksin hepatitis lengkap, serta pasien berusia 11 tahun sudah mendapat vaksinasi Covid-19 dan hepatitis lengkap. Ketiganya juga dinyatakan negatif Covid-19.

Berdasarkan hasil investigasi pemerintah, satu kasus di antaranya memiliki penyakit penyerta. Nadia menjelaskan, hingga saat ini tiga kasus tersebut belum bisa digolongkan sebagai penyakit hepatitis akut dengan gejala berat. “Tapi masuk kriteria pending klasifikasi karena masih ada pemeriksaan laboratorium, terutama pemeriksaan adenovirus dan hepatitis E yang membutuhkan waktu 10-14 hari ke depan,” kata dia.

Nadia menjelaskan, tim pemerintah tidak menemukan riwayat hepatitis dari anggota keluarga ketiga anak tersebut. Selain tiga kasus pasien anak meninggal, pemerintah mendapat laporan ada empat kasus baru berupa sindrom kuning di Jakarta dan luar Jakarta. Data itu diperoleh karena pemerintah meminta semua sindrom kuning harus dilaporkan “Kami masih harus memastikan dengan beberapa pemeriksaan,” ujarnya.

Dinas Kesehatan Jawa Timur juga mendapat laporan adanya 114 pasien suspek gejala hepatitis akut. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, Erwin Astha Triyono, meluruskan informasi itu. Hingga kini, kata dia, belum ada kasus hepatitis akut di Jawa Timur. Ia mengatakan 114 kasus yang ditemukan di 18 kabupaten dan kota berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Jawa Timur tersebut bukan hepatitis akut, melainkan penyakit sindrom jaundice akut atau penyakit kuning akut.

Erwin menjelaskan, SKDR merupakan aplikasi untuk menindaklanjuti temuan suatu penyakit lebih awal. Setelah ada laporan, tim Dinas Kesehatan akan memverifikasinya. Lalu tim akan mencari penyebabnya. “Apakah ini terkait dengan hepatitis akut yang belum diketahui etiologinya atau tidak. Ternyata, sampai Mei 2022, temuan ini tidak masuk kelompok hepatitis akut yang belum diketahui etiologinya,” kata dia.

Selain Jawa Timur, dinas kesehatan berbagai daerah mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap hepatitis akut. Dinas Kesehatan Kota Depok, misalnya, telah mengeluarkan surat imbauan kepada semua puskesmas dan rumah sakit untuk meningkatkan kewaspadaan. “Kami bersurat ke semua puskesmas dan rumah sakit untuk meningkatkan kewaspadaan kemungkinan terjadinya hepatitis akut yang belum diketahui etiologinya,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Mary Liziawati.

Mary melanjutkan, Dinas Kesehatan juga mensosialisasi gejala hepatitis akut ke masyarakat. Tim Dinas Kesehatan pun menyiapkan aplikasi pelaporan kasus agar segera tertangani. “Kami menyiapkan link laporan kejadian jika puskesmas atau rumah sakit mendapati pasien dengan gejala yang diduga hepatitis akut yang dimaksud,” katanya.

Di Kota Bogor, rumah sakit umum daerah (RSUD) setempat berencana menyiapkan ruang isolasi pasien hepatitis akut. Direktur Utama RSUD Kota Bogor, Ilham Chaidir, mengatakan manajemen rumah sakit akan menyiapkan ruang perawatan khusus untuk mengantisipasi penyakit tersebut. (TMP/PBN)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.