Berita Utama

Target Muluk Pertumbuhan Ekonomi

JAKARTA – Pemerintah menurunkan target pertumbuhan ekonomi Indonesia 2024 menjadi 5,1-5,7 persen, dari usulan sebelumnya 5,3-5,7 persen. Penurunan rentang batas bawah ini dinilai sejumlah ekonom masih terlalu percaya diri, di tengah proyeksi pesimisme perekonomian global yang berlanjut pada tahun depan.

Jumat lalu, Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat dan pemerintah menyepakati asumsi makro Indonesia pada 2024. Salah satunya pertumbuhan ekonomi 5,1-5,7 persen dalam pembahasan Rancangan APBN 2024. Namun Direktur Institute for Demographic and Poverty Studies (Ideas), Yusuf Wibisono, pesimistis target pertumbuhan ekonomi tersebut bisa tercapai. “Pertumbuhan ekonomi yang realistis pada 2024 diproyeksikan sekitar 4,9 persen. Sedangkan pada 2023 di angka 4,7-4,9 persen,” kata dia dilansir Tempo, Selasa (20/6/2023).

Salah satu yang menyebabkan Yusuf pesimistis adalah iklim perekonomian global yang masih  diselimuti era suku bunga tinggi sehingga tingkat inflasi diprediksi tetap berada dalam tren menanjak. Bank sentral Amerika Serikat (The Fed), misalnya, diperkirakan menaikkan tingkat suku bunga acuannya pada akhir tahun ini hingga 5,75 persen.

“Stance kebijakan moneter bank sentral negara-negara besar dunia masih akan lebih memilih untuk meredam inflasi dengan mengorbankan pertumbuhan ekonomi,” ujar Yusuf. The Fed, dalam rentang waktu Maret 2022 hingga Mei 2023, telah mengerek suku bunganya 500 basis point. Sedangkan tingkat inflasi AS kini berada di kisaran 4 persen dari yang sebelumnya menembus 9 persen. Namun tingkat inflasi ini masih di atas target The Fed yang hanya 2 persen.

Yusuf berujar, dengan rezim suku bunga tinggi yang masih terus berlangsung, kinerja investasi dan konsumsi belum akan pulih dengan cepat. Akibatnya, permintaan global diperkirakan masih lemah. Begitu pula laju harga komoditas global yang berpotensi terus bertahan rendah. “Meski Indonesia dipandang dalam posisi yang relatif baik, terseretnya perekonomian kita dari resesi global tak terhindarkan sehingga target pertumbuhan ekonomi terlihat sangat sulit tercapai,” ucap dia.

Secercah optimisme datang dari momentum Pemilihan Umum 2024, yang disebut-sebut bakal mampu memberikan stimulus pertumbuhan ekonomi, khususnya dari komponen konsumsi, lantaran peningkatan belanja kampanye serta kebutuhan pelaksanaan pemilu yang signifikan. “Tapi jangan lupa, pada saat yang sama, pemilu memunculkan ketidakpastian tentang arah kebijakan pemerintah baru sehingga akan menekan belanja investasi swasta,” kata Yusuf.

Investasi Diperkirakan Tertahan di Tahun Politik

Menurut ekonom dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, berdasarkan histori, realisasi investasi di tahun politik akan banyak tertahan, terutama untuk beberapa sektor yang sensitif terhadap perubahan kebijakan. “Sedangkan sektor ekspor juga masih diselimuti pertemuan ekonomi global yang akan dipengaruhi bagaimana Cina bisa mendorong pertumbuhan ekonominya setinggi yang diekspektasikan,” ujarnya.

Menurut dia, upaya Cina itu tak mudah. Pasalnya, Negeri Tirai Bambu itu tengah berusaha mengubah struktur perekonomian yang awalnya didorong oleh investasi menjadi konsumsi swasta. Proses perubahan struktur tersebut bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Cina serta pertumbuhan ekonomi global secara umum.

Secara historis, pertumbuhan ekonomi di tahun politik tercatat cenderung melandai karena tingginya ketidakpastian dan dinamika yang berlangsung. Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, memprediksi pertumbuhan ekonomi pada 2024 berada di 4,9 persen, dipengaruhi oleh pemburukan tensi perekonomian global, ketidakpastian dunia usaha, serta kinerja indikator makro seperti konsumsi dan investasi. “Pola belanja pemerintah pusat dan daerah juga lambat, dan ini bukan hal baru karena sudah terjadi dari tahun ke tahun,” ucapnya. Padahal realisasi belanja pemerintah yang agresif menjadi kunci tercapainya target pertumbuhan ekonomi ketika kinerja konsumsi masyarakat dan investasi terkontraksi.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengimbuhkan, pada tahun politik, kelas menengah atas memiliki kecenderungan untuk menahan belanja, sejalan dengan geliat sektor swasta dan investasi yang rendah. “Becermin pada tahun politik 2018-2019, misalnya, pertumbuhan kredit menurun karena wait and see sehingga pertumbuhan ekonomi 2024 diprediksi hanya 4,8-4,9 persen, dengan catatan pemilu berjalan dengan damai,” ucapnya.

Dengan demikian, target pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, menurut Bhima, sulit tercapai. Apalagi booming harga komoditas mulai berakhir, yang di dalamnya harga batu bara, minyak sawit mentah (CPO), minyak, dan nikel dalam tren menurun. “Padahal ekonomi Indonesia selama ini sangat terbantu oleh lonjakan harga komoditas dan ekspor. Ketika kontribusinya menurun, sumber pertumbuhan berkurang.”

Dalam proyeksi terbarunya, Bank Dunia menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tak sampai 5 persen pada 2024, yaitu sebesar 4,9 persen atau sama dengan pertumbuhan ekonomi 2023. “Melandainya harga komoditas andalan ekspor akan menjadi tantangan bagi Indonesia,” demikian Bank Dunia menuliskan dalam laporannya, Juni 2023. Komponen yang masih bisa diandalkan adalah kinerja konsumsi masyarakat yang diyakini terus meningkat seiring dengan pemulihan ekonomi pasca-pandemi Covid-19 serta kemampuan pemerintah menjaga ekspektasi inflasi.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu, menyatakan pemerintah tetap realistis dalam menentukan target pertumbuhan ekonomi, yang di dalamnya penyelenggaraan pemilu digadang-gadang sebagai faktor pendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya yang berasal dari konsumsi masyarakat. “Dari aspek investasi memang ada sebagian orang yang beranggapan bahwa penyelenggaraan pemilu menimbulkan ketidakpastian sehingga banyak investor memilih menunggu dulu. Tapi kali ini berbeda. Perekonomian Indonesia sedang dalam kondisi yang sangat kondusif.”

Menurut Febrio, hal itu tecermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I 2023 yang mencapai 5,03 persen. Sedangkan inflasi berada dalam tren melandai dan tingkat suku bunga acuan yang lebih rendah ketimbang negara-negara lainnya. “Investor akan melihat perekonomian Indonesia dikelola dengan tepat sehingga memberikan rasa percaya diri untuk berinvestasi di sini,” ucapnya. Febrio menambahkan, perencanaan kebijakan fiskal dan perkiraan ekonomi makro 2024 pun telah memasukkan unsur pemilu dalam perhitungannya.

Pelaksana tugas Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Perekonomian, Ferry Irawan, mengatakan pada 2024 sumbangan dari konsumsi rumah tangga diharapkan masih menjadi penopang pertumbuhan. Dampak belanja kampanye diyakini secara langsung ataupun tidak langsung akan dirasakan masyarakat.

“Masa kampanye akan memberi peluang munculnya usaha-usaha mikro, misalnya pada usaha konfeksi dan percetakan. Lalu sektor jasa hiburan akan bergerak, seiring dengan aktivitas kampanye yang marak menghadirkan panggung-panggung rakyat,” ujarnya kepada Tempo. Aktivitas ini biasanya banyak berlangsung di daerah sehingga akan mendorong perputaran uang di masyarakat.

Ferry menuturkan peningkatan konsumsi, baik rumah tangga maupun lembaga non-profit rumah tangga serta investasi dan usaha mikro kecil dan menengah, akan memberikan prospek positif target pertumbuhan ekonomi 2024. “Jadi, pemilu justru akan menopang pertumbuhan. Apalagi dalam sejarah pemilu modern di Indonesia selalu berlangsung dengan aman dan terkendali.” (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.