Berita Utama

Terbentur Birokrasi di Masa Transisi

JAKARTA – Bulan ini tepat setahun BRIN mengkonsolidasikan lembaga riset utama pemerintah, yaitu LIPI, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Konsolidasi itu dilakukan setelah badan yang dulunya bernaung di bawah Kementerian Riset dan Teknologi tersebut ditetapkan sebagai satu-satunya badan penelitian nasional pada 5 Mei 2021.

Pada periode yang sama, BRIN juga memulai proses peleburan badan penelitian dan pengembangan di sejumlah kementerian ataupun lembaga. Sedikitnya 28 kementerian dan lembaga telah mengalihkan awak mereka. Kini, pada tahun kedua kelahirannya, BRIN menjelma sebagai lembaga raksasa riset nasional, dengan jumlah pegawai mencapai 14.867 orang, yang lebih dari separuhnya adalah peneliti dan perekayasa.

Sedianya, konsolidasi yang ditargetkan tak hanya berupa pengintegrasian sumber daya manusia, tapi juga infrastruktur dan anggaran. Namun, selama setahun terakhir, berbagai masalah yang mencuat pada awal masa transisi peleburan lembaga riset tersebut rupanya tak kunjung tuntas.

Peneliti ahli utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ibnu Maryanto mengaku sudah lebih dari setahun Ibnu tak punya ruang kerja. Jika ingin menggunakan laboratorium atau peralatan riset di dalamnya, ia dan koleganya sesama peneliti BRIN juga harus mengajukan izin secara berjenjang.

Seperti halnya Ibnu, sejumlah peneliti BRIN mengeluhkan ketidakjelasan pengelolaan infrastruktur riset yang dianggap mengganggu proses riset. Mereka enggan identitas mereka dicantumkan. “Sudah ada beberapa kali yang mengeluh terkena surat peringatan,” ujar seseorang di antara mereka.

Dalam keterangan terpisah, mereka kompak menyebutkan birokrasi dalam penggunaan infrastruktur riset BRIN kini membuat alur perizinan penggunaan alat serta koleksi ilmiah semakin panjang dan lama. Dulu, karena fasilitas penelitian menjadi satu kesatuan dengan balai atau pusat riset, peralatan atau koleksi ilmiah dapat digunakan atau diperoleh serta-merta sesuai dengan kebutuhan. Namun kini peneliti harus menunggu setidaknya tiga hari untuk mendapatkan lampu hijau atas permohonannya. “Kadang bisa sampai seminggu, tergantung jawaban dari pusat,” kata seorang peneliti ahli muda BRIN.

Mereka juga mempersoalkan E-Layanan Sains alias Elsa, platform layanan satu pintu yang digulirkan BRIN setahun lalu. Dikelola oleh Kedeputian Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN, Elsa bak toko online yang menjadi etalase berbagai layanan BRIN, dari konsultasi kepakaran, pelatihan, pengujian sampel di laboratorium, hingga penggunaan alat riset dan permodelan. Sasaran pengguna jasanya adalah masyarakat luas dan civitas BRIN. Hampir seluruh layanan tersebut berbayar.

Menurut sumber internal, peneliti BRIN kudu menggunakan platform tersebut jika alat atau laboratorium yang hendak mereka pakai terdaftar dalam katalog Elsa. Pengguna di luar BRIN, kata dia, harus membayar layanan tersebut ke pos penerimaan negara bukan pajak (PBNP). “Kami juga harus membayar dengan poin Elsa,” kata dia.

Poin Elsa yang dimaksudkan itu sebenarnya semacam uang digital yang diberikan BRIN kepada penelitinya. Pada awal tahun, setiap peneliti akan kebagian jatah poin setara dengan Rp 20 juta. Angka ini dapat bertambah jika peneliti berhasil menelurkan publikasi ilmiah—dengan nilai beragam sesuai dengan kategori jurnal.

Di satu sisi, seorang peneliti madya BRIN menilai platform Elsa ada positifnya. Alat-alat riset yang dulunya tersebar di sejumlah lembaga riset kini terintegrasi sehingga dapat diakses publik dan peneliti sesuai dengan kebutuhan dalam satu platform. Dia menduga penggunaan platform itu juga agar BRIN bisa mendapatkan data dan dokumentasi yang lengkap atas penggunaan infrastruktur riset.

Namun, pada praktiknya, kata seorang peneliti madya BRIN, sentralisasi akses lewat platform itu menjadi rumit karena mereka harus mengisi form permohonan. Sementara itu, layanan Elsa kerap memisahkan sejumlah alat penelitian yang biasanya digunakan bersamaan. “Jadi, kami harus mengajukan satu per satu form permohonan layanannya,” kata peneliti tersebut.

Seorang peneliti lainnya bahkan mengaku mengurungkan niatnya menggunakan alat di Laboratorium Indonesian Culture Collection (InaCC), Cibinong, yang berstatus berbayar pada Elsa. “Setelah dihitung-hitung, tidak mungkin cukup poinnya untuk membayar,” ujarnya. “Sebenarnya, apa iya harus seribet ini?”

Permasalahan tersebut tak hanya dialami peneliti yang dulunya berasal dari lembaga pemerintah non-kementerian. Seorang peneliti yang dimutasi dari Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengungkapkan hal senada. Sejak bergabung dengan BRIN, ia menilai banyak regulasi dan tata kelola manajemen yang mengganggu proses kerja risetnya.

“Mau ke lab atau pakai alat di lab terlalu rumit izinnya. Bersurat ke sana-sini. Padahal hanya mau kerja, bukan melakukan yang aneh-aneh,” ujarnya, Minggu (15/1/2023). “Jadi, enggak efisien. Birokrasinya terlalu rumit dan pelik.”

Masalah birokrasi akibat struktur baru juga muncul dalam urusan pendanaan riset. Pasalnya, BRIN memisahkan antara pembelian bahan penelitian dan pelaksanaan ekspedisi dalam proses proposal pendanaan riset. Pengajuan dana untuk bahan riset diurus oleh direktorat di bawah Deputi Infrastruktur Riset dan Inovasi. Sedangkan urusan transportasi untuk perjalanan penelitian lapangan dikelola Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi.

Seorang peneliti BRIN mengaku kapok. “Kemarin ada dua bukaan proposal riset. Saya tidak ikut. Biar saja,” kata peneliti biologi yang sebelumnya lebih dari dua windu bekerja di LIPI tersebut.

Tahun lalu, dia sempat mengajukan proposal penelitian. Rencana anggaran yang disetujui dalam proposal riset hanya untuk bahan penelitian. Sedangkan anggaran ekspedisi risetnya tak dikabulkan. “Untuk peneliti-peneliti ilmu dasar, bagaimana bisa mendapat bahan penelitian tanpa pergi ke lokasi risetnya?” kata dia. (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.