Berita Utama

Terkoreksi Setelah Diretas

JAKARTA – Dampak serangan siber ransomware terhadap PT Bank Syariah Indonesia Tbk merambah ke pasar modal. Harga saham emiten berkode BRIS tersebut melemah dalam perdagangan pada awal pekan ini. Saham BRIS turun 4,97 persen ke level Rp 1.720 per lembar, pada Senin (15/5/2023).

Sepanjang perdagangan, harganya sempat menyentuh Rp 1.685, yang merupakan batas terendah penurunan dalam sehari. Nilainya kembali terdongkrak menjelang penutupan, yang didukung aksi beli dari sejumlah pialang, salah satunya PT UBS Sekuritas Indonesia yang memborong 133.548 lot saham.

Pergerakan harga saham BRIS ini merupakan yang terendah sejak layanan perusahaan tersebut terganggu pada Senin, 8 Mei lalu. Saat itu, saham perusahaan masih berada di level Rp 1.755. Berbarengan dengan keluhan nasabah yang mulai merebak, harga saham BRIS terkoreksi tipis ke level Rp 1.750 sehari kemudian.

Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat, mengatakan koreksi yang terjadi kemarin belum terlalu dalam dibanding kinerja BRIS di Bursa Efek Indonesia selama sebulan terakhir. Nilai terendah dalam periode satu bulan ini berada di level Rp 1.665. “Tapi ada potensi koreksi lebih dalam lagi, tergantung kondisi di lapangan,” kata dia dilansir Tempo, Senin (15/5/2023).

Teguh menuturkan penanganan serangan siber oleh manajemen BSI sangat menentukan pergerakan saham. Di tengah kondisi seperti ini, kepercayaan investor penting untuk dibangun kembali.

Teguh mencontohkan pada Rabu, 10 Mei lalu, saham BRIS kembali menghijau ke level Rp 1.795 setelah Direktur Utama BSI, Hery Gunadi, meminta maaf atas kendala teknis dalam sistem perusahaan sehingga nasabah tidak bisa mengakses layanan, baik secara langsung maupun lewat aplikasi. Sehari setelah permintaan maaf itu, saham BRIS masuk zona merah akibat koreksi tipis ke level 1.755.

Namun, pada akhir pekan lalu, harga BRIS melonjak hingga menyentuh level Rp 1.810. Menurut Teguh, kenaikan ini didorong oleh pernyataan manajemen BSI pada Kamis sore yang mengumumkan perusahaan tengah menunggu hasil audit dan digital forensik terhadap dugaan serangan siber.

Koreksi pada awal pekan ini, menurut Teguh, dipicu oleh pernyataan peretas bernama LockBit yang mengaku mengakses sistem BSI dan mencuri dokumen keuangan, hukum, perjanjian kerahasiaan, serta sandi semua layanan internal dan eksternal yang digunakan di BSI. Lewat situs webnya, LockBit meminta manajemen bank membuka komunikasi. “Kami memberi waktu 72 jam kepada manajemen bank untuk menghubungi LockbitSupp dan menyelesaikan masalah tersebut.” Jika tidak, mereka mengancam akan membocorkan data-data hasil pencurian tadi.

Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani, pun menilai koreksi saham BSI terjadi karena pengakuan LockBit. Pasalnya, pasar mendapat konfirmasi bahwa kendala yang dihadapi BRIS bukan masalah teknis semata, melainkan isu yang lebih serius. “Ini membuat sentimen negatif dan mengakibatkan penjualan besar-besaran terhadap saham tersebut,” tuturnya.

Masih Bisa Turun Lebih Dalam

Direktur Samuel Sekuritas Indonesia, Suria Dharma, menyatakan dampak serangan siber cukup fatal meskipun saat ini layanan BSI kembali pulih. “Karena hal itu bisa menurunkan kepercayaan nasabah,” ujarnya.

Dia menuturkan, penguatan nilai BRIS akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan itu menangani dampak serangan siber dan meyakinkan nasabah ihwal keamanan data serta keandalan layanan ke depan. Pasalnya, dari sisi fundamental, BRIS masih dalam keadaan baik.

Adapun analis senior CSA Research Institute, Reza Priyambada, berpendapat saham BRIS berpotensi terkoreksi lebih dalam lagi jika merujuk pada historis level terendahnya yang berada di kisaran Rp 1.600 sebelum kembali menguat.

Sama seperti Suria, Reza mengatakan penguatan saham BRIS sangat bergantung pada kepercayaan investor terhadap penanganan serangan siber di bank tersebut.

Reza berujar serangan siber yang dialami BRIS perlu menjadi perhatian serius bank-bank lainnya. Musababnya, bukan tidak mungkin peretas merasa tertantang untuk menembus pertahanan perusahaan lain setelah berhasil membobol  BRIS. “Apalagi sekarang banyak bank digital,” kata Reza Priyambada. (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.