Berita Utama

Transmisi Lokal Subvarian Baru Omicron Terdeteksi, Masyarakat Diminta Waspada

JAKARTA – Kendati sudah ada pelonggaran protokol kesehatan, kewaspadaan masyarakat dan pemerintah perlu tetap dijaga karena pandemi Covid-19 belum berakhir. Apalagi, saat ini, subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 yang menjadi salah satu pemicu kenaikan kasus Covid-19 di sejumlah negara sudah ada di Indonesia dan sudah terjadi transmisi lokal.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebutkan, saat ini sudah ditemukan delapan kasus Covid-19 yang disebabkan subvarian Omicron baru di Indonesia. ”Tiga (kasus) imported cases dari (warga yang datang dari) Mauritius, Amerika Serikat, dan Brasil untuk acara Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) Bali. Lima transmisi lokal (terdiri dari) empat (kasus) di Jakarta dan satu (kasus) di Bali, tenaga media dari Jakarta. Jadi transmisi lokal sudah terjadi di Jakarta,” ujarnya seusai rapat terbatas (ratas) terkait evaluasi pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang dipimpin Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (13/6/2022).

Ratas dengan agenda evaluasi pemberlakuan PPKM itu digelar menanggapi kenaikan kasus harian Covid-19 satu pekan terakhir. Kasus Covid-19 yang sebelumnya melandai hingga di bawah 200 per hari, kini mulai kembali naik hingga di atas 500 kasus. Bahkan, pada Jumat (10/6/2022) kasus harian mencapai 627.

Budi menjelaskan, dari delapan orang yang tertular BA.4 dan BA.5, hanya satu orang yang bergejala sedang dan belum mendapatkan vaksin dosis penguat (booster). Adapun tujuh lainnya sudah mendapatkan vaksin booster dan semua tanpa gejala atau gejala ringan.

Oleh karena itu, pemerintah mendorong masyarakat untuk mendapatkan vaksinasi Covid-19 dosis lengkap serta vaksinasi dosis penguat (booster). Masyarakat juga diharapkan tetap menjalankan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah.

Adanya subvarian BA.4 dan BA.5 ini membuat semua negara bersiap akan adanya gelombang baru lonjakan kasus pada Juni dan Juli ini. Dalam perkiraan Kementerian Kesehatan, puncak lonjakan kasus Omicron BA.4 dan BA.5 di Indonesia bisa terjadi pada minggu kedua atau ketiga bulan Juli.

Kementerian Kesehatan mengakui, kenaikan kasus di Indonesia juga sudah terjadi beberapa hari terakhir ini. Kenaikan kasus harian terjadi di DKI, Jawa Barat, Banten, dan Bali. Kenaikan ini disebutkan bukan akibat mudik Lebaran, melainkan karena subvarian baru. ”Biasanya puncak kasus setelah Natal-Tahun Baru di hari ke-27-34. Sekarang, kita sudah di hari ke-40. Dan setiap terjadi lonjakan di suatu negara bukan karena perayaan keagamaan, melainkan varian baru,” ujarnya.

Selain itu, menurut Budi, sejauh ini penanganan Covid-19 di Indonesia masih relatif baik. Hal ini berdasarkan beberapa indikator yang ditetapkan WHO. Misalnya, tingkat positif (positivity rate) Indonesia masih sekitar 3,6 persen, sedangkan WHO menetapkan perlunya perhatian ekstra apabila tingkat positif di atas 5 persen.

Selain itu, WHO menilai perlu perhatian khusus bila angka reproduksi kasus di atas 1. Indonesia masih di angka 1. Karena itu, kata Budi, kondisi Indonesia masih relatif baik.

Kendati demikian, lanjutnya, Presiden Joko Widodo memberi arahan supaya semua tetap berhati-hati dan waspada. Sebab, kenyataannya kewaspadaan yang diterapkan di Indonesia sudah memberi hasil dan penanganan Covid-19 di Indonesia relatif baik dibandingkan negara lain.

Namun, Presiden tetap meminta vaksinasi dosis penguat digencarkan kembali. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, masih ada dua provinsi, yakni Papua dan Papua Barat, yang belum mencapai 70 persen vaksinasi dosis pertama. Adapun untuk dosis kedua masih ada 10 provinsi yang belum mencapai 70 persen.

Pemberian vaksin dosis ketiga, lanjutnya, perlu diperkuat. Presiden meminta supaya kegiatan konser musik atau pertandingan olahraga ataupun acara yang mengundang banyak masyarakat supaya mendapat fasilitasi vaksin dosis ketiga.

Sejauh ini, masyarakat memang diperbolehkan tidak mengenakan masker di ruang terbuka. Namun, tambah Budi, bila ada kerumunan, apalagi ada yang batuk di sekitar, tentu sebaiknya masker tetap dikenakan.

Sebanyak delapan kasus Covid-19 dari penularan dua subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 terdeteksi di Indonesia. Adapun empat di antaranya teridentifikasi di Bali dan empat lainnya di Jakarta.

Batasi aktivitas

Sementara itu, secara terpisah, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Bambang Soesatyo meminta Kementerian Kesehatan bersama Satgas Penanganan Covid-19 dan tim medis untuk terus memberikan penanganan terbaik terhadap pasien Omicrob subvarian BA.4 dan BA.5 sampai dinyatakan sembuh. Selain itu juga melakukan pemantauan terhadap kondisi delapan pasien tersebut.

Untuk mengantisipasi meluasnya penyebaran dua subvarian baru Omicron, pemerintah diminta kembali menggencarkan tracing dan testing. Ini penting mengingat kedua subvarian baru Omicron tersebut menyebabkan lonjakan kasus di beberapa negara.

Pemerintah, lanjut Bambang, juga perlu mempertimbangkan kembali PPKM, khususnya pembatasan bagi perjalanan dari dan ke luar negeri. Sebab, satu pasien yang terpapar subvarian baru Omicron ini adalah pelaku perjalanan luar negeri (PPLN). Di sisi lain, masyarakat tetap harus menjaga kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan dan membatasi aktivitas di ruang publik meski kasus Covid-19 di Indonesia masih terbilang landai.

Hal yang tak kalah penting ialah pemberian vaksinasi untuk masyarakat. Pemerintah didorong untuk terus mempercepat vaksinasi guna meminimalkan terjadinya penularan dan perkembangan virus karena telah terbentuk kekebalan tubuh yang baik. (KOM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.